- Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir, memperingatkan pemerintah agar tidak melakukan militerisasi dalam berbagai aspek kehidupan sipil negara.
- Peringatan disampaikan saat peresmian gedung MSUS di Yogyakarta, Sabtu (4/7/2026), demi menjaga keseimbangan fungsi sipil dan militer.
- Haedar menekankan pentingnya penerapan kebijakan moderat serta pembagian wewenang yang tepat sesuai mandat institusi bagi pembangunan Indonesia.
Padahal pendidikan yang hanya menekankan aspek spiritual tanpa penguasaan ilmu pengetahuan juga dinilai tidak sesuai dengan amanat konstitusi.
Pendidikan Indonesia mestinya kembali kepada semangat Pasal 31 UUD 1945, yakni membentuk manusia yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, menguasai ilmu pengetahuan dan menjunjung tinggi nilai-nilai peradaban.
Bagi Muhammadiyah, orientasi utama pendidikan harus tetap pada upaya mencerdaskan kehidupan bangsa tanpa diskriminasi dan tanpa kehilangan nilai kemanusiaan.
Di tengah berbagai dinamika pembangunan nasional, termasuk perdebatan mengenai perlu atau tidaknya pelibatan militer dalam sektor-sektor sipil, Haedar kembali menegaskan Indonesia memerlukan kebijakan yang moderat, terpadu dan proporsional.
"Yang diperlukan adalah kebijakan yang terpadu dan holistik. Bangun Indonesia ini dengan moderat saja," ujarnya.
Terkait MSUS, Haedar menjelaskan pembangunan MSUS menjadi bagian dari upaya membangun pendidikan yang holistik mulai dari ekosistem pendidikan, sarana prasarana hingga proses pembelajaran. Sebab dunia pendidikan memerlukan pendekatan yang holistik, baik dari aspek ekosistem, sarana prasarana maupun proses pembelajaran secara keseluruhan.
Dengan hadirnya MSUS, Muhammadiyah berharap dapat memperluas akses pendidikan berkualitas sekaligus mengurangi masa tunggu masyarakat. Di tengah berbagai tantangan pendidikan nasional, mulai dari daya saing sumber daya manusia hingga kualitas pendidikan yang masih tertinggal dibanding sejumlah negara ASEAN, Muhammadiyah ingin menghadirkan sekolah-sekolah unggulan yang mampu bersaing di tingkat internasional.
"Agenda menuju sekolah berlevel ASEAN bahkan internasional harus kita pancangkan karena Muhammadiyah adalah gerakan Islam yang berkemajuan," imbuhnya.
Kontributor : Putu Ayu Palupi
Berita Terkait
-
Kades Curhat Harus Urus Kopdes hingga Program Lain Terabaikan, Ratusan Mahasiswa Geruduk DPRD DIY
-
Muhammadiyah Desak Pembenahan Total Program MBG di Tengah Gelombang Kritik
-
Motor Listrik Rakitan Siswa SMK Ini Tembus 132 Km/Jam, Suaranya Nyaris Tak Terdengar
-
Rupiah Tembus Rp17.600, Aisyiyah: Pernyataan Prabowo 'Desa Tak Butuh Dolar' Cederai Rakyat
-
Tegaskan Indonesia Bukan Jalur Agresi, Pemerintah Didesak Tolak Akses Bebas Pesawat Militer AS
Terpopuler
- 5 Sepatu Running Lokal yang Anti Licin dan Senyaman Skechers, Harga Cuma Rp200 Ribuan
- 30 Wakil Menteri Rangkap Jabatan Jadi Komisaris BUMN, Ini Daftar Namanya
- 4 Moisturizer di Alfamart untuk Hempas Flek Hitam Berdasarkan Review Pengguna
- 5 Kipas Angin Sedingin AC Lebih Murah dan Irit Listrik
- Ramalan 12 Shio Bulan di Juli 2026: Peruntungan Karier, Keuangan, Asmara, dan Kesehatan
Pilihan
-
Tangis Bayi Pecah Pagi Hari, Warga Temukan Bayi Perempuan Baru Lahir di Teras Rumah
-
Rupiah Nyaris ke Rp18.000 Lagi Hari Ini
-
Ole Romeny Bakal Satu Tim dengan Justin Hubner di Liga Belanda, Fortuna Sittard Siapkan Tawaran
-
Antar Timnas Perancis ke 16 Besar, Mbappe Pecahkan Sejumlah Rekor Piala Dunia 2026
-
Prabowo ke Polisi: Gaji dan Senjata Kalian dari Rakyat, Jadi Jangan Menyusahkan Rakyat
Terkini
-
Total Jadi 27 Orang, Seretan Tersangka Kekerasan Anak di Daycare Little Aresha Kian Panjang
-
Bayi Sengaja Ditinggal di Toilet Kereta Eksekutif KA Sancaka Jurusan Jogja - Surabaya
-
Muhammadiyah Ingatkan Pemerintah: Jangan Ada Militerisasi di Kehidupan Sipil
-
BRI Terus Membangun Budaya Integritas melalui Berbagai Program Internal
-
Asics Novablast 6 Diskon di Blibli, Sepatu Lari Empuk Mulai Rp2,299 Juta