- Pemerintah daerah Bantul dan Gunungkidul menetapkan status siaga darurat kekeringan hingga Agustus 2026 akibat krisis air bersih.
- Pakar UMY Ani Hairani menyatakan perubahan iklim dan alih fungsi lahan memperparah krisis air saat musim kemarau.
- Masyarakat perlu melakukan konservasi air di rumah melalui lubang biopori dan sumur resapan guna menjaga cadangan tanah.
SuaraJogja.id - Ancaman krisis air bersih saat puncak musim kemarau 2026 dinilai tidak cukup diatasi hanya dengan distribusi bantuan air bersih.
Masyarakat juga perlu mulai melakukan konservasi air sejak dari rumah tangga agar cadangan air tanah tetap terjaga, terutama setelah Bantul dan Gunungkidul menetapkan status siaga darurat kekeringan hingga Agustus mendatang.
Dosen Teknik Sipil Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Ani Hairani mengatakan, perubahan iklim membuat musim kemarau semakin panjang dan tidak menentu. Kondisi tersebut diperparah dengan berkurangnya kawasan resapan akibat alih fungsi lahan sehingga risiko krisis air bersih semakin besar.
"Konservasi air dapat dimulai dari lingkungan rumah. Air hujan sebaiknya tidak langsung dialirkan ke saluran drainase, tetapi diupayakan meresap kembali ke dalam tanah atau ditampung untuk dimanfaatkan," ujarnya dikutip dari ANTARA pada Senin (13/7/2026).
Ani menjelaskan, masyarakat dapat menerapkan langkah sederhana seperti membuat lubang biopori, sumur resapan, maupun sistem pemanenan air hujan (rainwater harvesting). Cara tersebut dinilai efektif menjaga ketersediaan air tanah sehingga masyarakat memiliki cadangan air ketika musim kemarau mencapai puncaknya.
Menurut pakar Teknik Keairan dan Lingkungan tersebut, ancaman kekeringan saat ini tidak lagi semata dipicu minimnya curah hujan, tetapi juga merupakan dampak perubahan iklim global yang mengubah pola musim, meningkatkan penguapan, dan mengganggu siklus hidrologi.
"Perubahan iklim membuat siklus hidrologi menjadi tidak menentu. Selain itu, alih fungsi lahan yang mengurangi kawasan resapan juga memperburuk kondisi, karena air hujan tidak tersimpan dengan baik sebagai cadangan air tanah," katanya.
Ani mengingatkan, kekeringan memiliki dampak yang lebih luas daripada sekadar sulit memperoleh air bersih. Ia menyebut terdapat tiga jenis kekeringan yang harus diwaspadai, yakni kekeringan meteorologis akibat minimnya hujan, kekeringan hidrologis yang ditandai menurunnya cadangan air tanah, serta kekeringan pertanian yang dapat mengancam produksi pangan.
Karena itu, ia menilai keberhasilan mitigasi tidak hanya bergantung pada pemerintah daerah melalui pemantauan iklim dan distribusi bantuan air, tetapi juga membutuhkan keterlibatan aktif masyarakat dalam menjaga daerah resapan dan menggunakan air secara lebih efisien.
Baca Juga: 8.000 Orang Lepas Status WNI dalam Lima Tahun, Indonesia Terancam Kehilangan SDM Berkualitas
"Kekeringan bukan hanya dipengaruhi faktor alam, tetapi juga aktivitas manusia. Dengan menjaga cadangan air tanah melalui konservasi di tingkat rumah tangga, kita dapat meminimalkan dampak krisis air saat musim kemarau," tegasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Bedak Tabur atau Bedak Padat Dulu? Panduan Makeup Flawless Tahan Lama
- 4 Sabun Cuci Muka yang Bagus untuk Memutihkan Sesuai Review Pembeli
- 4 Shio yang Menarik Keberuntungan 12 Juli 2026, Masa Sulit Diprediksi Berakhir
- Aisyah Zakkiyah, Komisaris Baru PTPP yang Viral Punya Gaji dan Tunjangan Miliaran
- Bedak Tabur Apa yang Bikin Glowing dan Tahan Lama? Ini 5 Rekomendasi sesuai Review dan Harga
Pilihan
-
Ada Ancaman Teror Bom, Seluruh Siswa dan Guru SDN 15 Srengseh Sawah Dipulangkan
-
Hari Pertama Sekolah Mencekam! SDN Srengseng Sawah 15 Diteror Bom, Gegana dan Densus 88 Turun Tangan
-
Iran Luncurkan Serangan Balasan ke Amerika, Serbuan Drone Meluncur
-
Garda Revolusi Iran Tutup Lagi Selat Hormuz Sampai Batas Waktu Tak Ditentukan
-
Jadi Tersangka Bareng Eks Jampidsus Febrie, Don Ritto Sudah Ditahan di Rutan Polda Metro Jaya
Terkini
-
Ketika Sekolah Lain Berebut Murid, SMP Gotong Royong Memilih Merangkul Anak yang Hampir Terlupakan
-
Militerisasi Kehidupan Sipil Tak Menyejahterakan Rakyat, Hanya Menyenangkan Pemimpin
-
Dosen Farmasi UMY Dinonaktifkan Buntut Dugaan Pelecehan, Kampus Telusuri Korban Lain
-
Ramai di Threads, Dosen Farmasi UMY Diduga Lecehkan Mahasiswi, Kampus Panggil yang Bersangkutan
-
Peringati 250 Tahun AS, Kedutaan Besar AS Gelar Pelatihan Jurnalisme Mobile di Yogyakarta