Budi Arista Romadhoni
Senin, 13 Juli 2026 | 14:53 WIB
Ilustrasi Kekeringan. (Pixabay/ Marion)
Baca 10 detik
  • Pemerintah daerah Bantul dan Gunungkidul menetapkan status siaga darurat kekeringan hingga Agustus 2026 akibat krisis air bersih.
  • Pakar UMY Ani Hairani menyatakan perubahan iklim dan alih fungsi lahan memperparah krisis air saat musim kemarau.
  • Masyarakat perlu melakukan konservasi air di rumah melalui lubang biopori dan sumur resapan guna menjaga cadangan tanah.

SuaraJogja.id - Ancaman krisis air bersih saat puncak musim kemarau 2026 dinilai tidak cukup diatasi hanya dengan distribusi bantuan air bersih.

Masyarakat juga perlu mulai melakukan konservasi air sejak dari rumah tangga agar cadangan air tanah tetap terjaga, terutama setelah Bantul dan Gunungkidul menetapkan status siaga darurat kekeringan hingga Agustus mendatang.

Dosen Teknik Sipil Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Ani Hairani mengatakan, perubahan iklim membuat musim kemarau semakin panjang dan tidak menentu. Kondisi tersebut diperparah dengan berkurangnya kawasan resapan akibat alih fungsi lahan sehingga risiko krisis air bersih semakin besar.

"Konservasi air dapat dimulai dari lingkungan rumah. Air hujan sebaiknya tidak langsung dialirkan ke saluran drainase, tetapi diupayakan meresap kembali ke dalam tanah atau ditampung untuk dimanfaatkan," ujarnya dikutip dari ANTARA pada Senin (13/7/2026). 

Ani menjelaskan, masyarakat dapat menerapkan langkah sederhana seperti membuat lubang biopori, sumur resapan, maupun sistem pemanenan air hujan (rainwater harvesting). Cara tersebut dinilai efektif menjaga ketersediaan air tanah sehingga masyarakat memiliki cadangan air ketika musim kemarau mencapai puncaknya.

Menurut pakar Teknik Keairan dan Lingkungan tersebut, ancaman kekeringan saat ini tidak lagi semata dipicu minimnya curah hujan, tetapi juga merupakan dampak perubahan iklim global yang mengubah pola musim, meningkatkan penguapan, dan mengganggu siklus hidrologi.

"Perubahan iklim membuat siklus hidrologi menjadi tidak menentu. Selain itu, alih fungsi lahan yang mengurangi kawasan resapan juga memperburuk kondisi, karena air hujan tidak tersimpan dengan baik sebagai cadangan air tanah," katanya.

Ani mengingatkan, kekeringan memiliki dampak yang lebih luas daripada sekadar sulit memperoleh air bersih. Ia menyebut terdapat tiga jenis kekeringan yang harus diwaspadai, yakni kekeringan meteorologis akibat minimnya hujan, kekeringan hidrologis yang ditandai menurunnya cadangan air tanah, serta kekeringan pertanian yang dapat mengancam produksi pangan.

Karena itu, ia menilai keberhasilan mitigasi tidak hanya bergantung pada pemerintah daerah melalui pemantauan iklim dan distribusi bantuan air, tetapi juga membutuhkan keterlibatan aktif masyarakat dalam menjaga daerah resapan dan menggunakan air secara lebih efisien.

Baca Juga: 8.000 Orang Lepas Status WNI dalam Lima Tahun, Indonesia Terancam Kehilangan SDM Berkualitas

"Kekeringan bukan hanya dipengaruhi faktor alam, tetapi juga aktivitas manusia. Dengan menjaga cadangan air tanah melalui konservasi di tingkat rumah tangga, kita dapat meminimalkan dampak krisis air saat musim kemarau," tegasnya.

Load More