- SD Negeri Pingit, Yogyakarta hanya menerima 11 siswa baru pada tahun ajaran 2026 akibat penurunan jumlah anak usia sekolah.
- Kekurangan siswa menyebabkan dana Bantuan Operasional Siswa menyusut dan menghambat kemampuan sekolah dalam menghadirkan program pendidikan unggulan bagi murid.
- Pihak sekolah berupaya menjemput bola mencari murid serta bergotong royong dengan pihak eksternal demi mempertahankan kegiatan belajar mengajar.
Sri Puji menyebut, ketika tidak mampu membayar pengajar tambahan untuk mengajarkan berbagai ilmu dan pengetahuan pada anak, mereka "lari" keluar sekolah. Untuk mengajar pendidikan agama, para guru mengambil alih. Setiap Jumat pagi, seluruh guru muslim mengajar TPA secara sukarela.
Sri Puji juga berupaya mendatangi Kantor Urusan Agama agar sekolah mendapat dukungan program pembelajaran agama. Ia tak lupa meminta Puskesmas untuk meminta pendampingan psikolog.
Sekolah juga bekerja sama dengan Polsek setempat agar anak-anak mendapat edukasi tentang bahaya narkoba dan keamanan. Tak lupa, mereka juga meminta bantuan Koramil, Kemantren hingga Unit Layanan Disabilitas untuk mengajar siswa.
Semua dilakukan karena sekolah tidak punya banyak pilihan. Apalagi dana BOS, BOSDa maupun BOSNas lebih banyak digunakan untuk biaya operasional anak seperti membeli buku paket dan alat tulis.
Kalaupun ada bantuan dari pemerintah, mereka menggunakannya untuk memperbaiki fasilitas sekolah yang rusak.
"Kami harus mencari jalan, tidak ada pilihan lain karena terbatasan SDM dan biaya, apa yang harus jadi branding sekolah kami karena anggaran tidak ada," jelasnya.
Sri Puji berasumsi, fenomena menurunnya jumlah anak usia sekolah di Kota Yogyakarta ikut memperberat keadaan. Banyak kawasan yang dulu ramai anak-anak kini didominasi warga lanjut usia.
Sementara keluarga muda memilih tinggal di pinggiran kota. Akibatnya, SD negeri di tengah kota perlahan kehilangan calon murid. Kondisi itu menciptakan lingkaran yang tidak mudah diputus.
"Saya keliling di kecamatan ini, jumlah anak anak usia sekolah memang tidak banyak, ini jadi keprihatinan kami," tandasnya.
Baca Juga: Militerisasi Kehidupan Sipil Tak Menyejahterakan Rakyat, Hanya Menyenangkan Pemimpin
Perjuangan sekolah tak berhenti pada minimnya jumlah siswa baru. Sekolah yang juga menerima Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) itu harus ekstra lebih keras untuk mendampinginya meski dengan keterbatasan SDM.
Contohnya saat mengetahui salah satu murid baru tahun ajaran ini yang diduga mengalami gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas. Alih-alih menolak, sekolah itu menerimanya dengan baik. Dua guru langsung ditugaskan mendampingi selama proses belajar sambil menunggu asesmen dari Unit Layanan Disabilitas (ULD) pada Agustus 2026 mendatang.
"Semua sekolah sekarang sekolah inklusi. Kami tidak boleh menolak anak," jelasnya.
Di tengah keterbatasan, sekolah tetap berusaha memberikan hak belajar yang sama. Dana yang sedikit diprioritaskan membeli buku paket agar orang tua tidak terbebani.
Ketika atap bangunan rusak, sekolah itu bergegas mengajukan rehabilitasi. Kini mereka kembali mengusulkan perbaikan kusen dan kamar mandi yang mulai rapuh.
Sedangkan laptop untuk ujian memang tersedia, tetapi guru tetap menyiapkan laptop pribadi sebagai cadangan jika sewaktu-waktu perangkat sekolah mengalami gangguan.
Berita Terkait
Terpopuler
- LHKPN Tembus Rp7,2 Miliar, Kendaraan Plt Jampidsus Rudi Margono Cuma Motor Honda Seharga Rp5 Juta
- HP Murah Tapi Bagus HP Apa? Ini 9 Rekomendasi Terbaik Mulai Rp1 Jutaan
- 5 Sepatu Kanky Warna Putih Mulai Rp160 Ribuan, Nyaman dan Stylish
- 5 HP Murah dengan NFC Harga Rp1 Jutaan untuk Multitasking dan Transaksi Cashless Lancar
- Tan Kian Orang Terkaya ke Berapa di Indonesia?
Pilihan
-
Niat Hindari Ribut dengan Alasan Beli Kuota, Pria Palembang Malah Dikejar dan Ditembak
-
Kejagung Akhirnya Buka Suara Soal Temuan 74 Kg Emas di Rumah Febrie Adriansyah: Kami Tak Tahu
-
Ada Ancaman Teror Bom, Seluruh Siswa dan Guru SDN 15 Srengseh Sawah Dipulangkan
-
Hari Pertama Sekolah Mencekam! SDN Srengseng Sawah 15 Diteror Bom, Gegana dan Densus 88 Turun Tangan
-
Iran Luncurkan Serangan Balasan ke Amerika, Serbuan Drone Meluncur
Terkini
-
Haedar Nashir: Tak Ada Kompromi bagi Pelaku Pelecehan Seksual di Kampus Muhammadiyah
-
Skandal Korupsi Beruntun, Muhammadiyah Desak Presiden Pimpin Perang Total, Tak Sekedar Ceramah
-
Diduga Jadi Korban Mafia Tanah, Warga Sleman Kaget Sertifikat Beralih Nama dan Jadi Agunan Bank
-
Kasus Dugaan Pelecehan Seksual Mahasiswa UAD saat KKN Mencuat, Polresta Sleman Lakukan Penyelidikan
-
Berawal dari Dapur Rumah, Brownies Ketan Asal Sidoarjo Tembus Pasar Global