- Passage adalah perayaan pengakuan internasional seorang seniman asal Indonesia, Candrani Yulis yang akan tampil dalam Lyon Contemporary Art Biennale.
- Pameran ini dipersembahkan dalam kemitraan oleh Institut Français d'Indonésie dengan Ellipse Art Projects dan digelar pada 14-24 Juli 2026 di IFI Yogyakarta.
- Selaku kurator, Farah Wardani menyebut Passage sebagai ruang untuk refleksi kritis dan pertumbuhan kolektif.
SuaraJogja.id - Bersama Ellipse Art Projects, Institut Français d'Indonésie (IFI Yogyakarta) mempersembahkan Passage, sebuah pameran tunggal oleh Candrani Yulis.
Melebihi yang terlihat, pameran ini adalah perayaan. Tepatnya atas pengakuan internasional sang seniman yang akan tampil di ajang seni bergengsi, Lyon Contemporary Art Biennale 2026.
Sebelum Lyon, Candrani telah menjalani residensinya di Paris. Ia mengikuti program Cité internationale des arts yang diselenggarakan IFI pada awal tahun.
Ia adalah seniman muda berbakat yang berbasis di Yogyakarta. Lewat simbol dan ikonografi, ia mempertanyakan ingatan, keyakinan, dan tubuh wanita.
Praktiknya didasarkan pada pengalaman hidup, kehidupan sehari-hari sebagai lensa untuk menyelidiki bagaimana sejarah pribadi bersinggungan dengan sistem politik, budaya, dan spiritual.
PASSAGE: Undangan untuk Berpartisipasi
Karyanya yang berjudul In the Name of Love mengangkat isu keperawanan perempuan dalam masyarakat patriarkal, mempertanyakan ekspektasi sosial dan kontrol terhadap tubuh perempuan.
The World We Have Lost merefleksikan Gowok, tradisi dalam budaya Jawa yang kini memudar. Gowok adalah praktik pendampingan yang mempersiapkan laki-laki menjelang pernikahan.
Sementara dalam Second Skin, yang diciptakan selama residensinya di Paris, memperbandingkan cara pandang masyarakat Eropa dan Indonesia terhadap kulit.
Baca Juga: Seni Menyapa Masyarakat: Pameran 'Lintas Imaji' Yogyakarta Rayakan Keberagaman Gaya
Menurut kurator Farah Wardani, praktik seni Candrani berakar pada penyelidikan daripada kemarahan, penilaian, atau perlawanan langsung.
Ada ruang yang mendorong interpretasi ulang dan refleksi di tengah kompleksitas dunia. Ada percakapan yang berlangsung secara cair untuk menjembatani perpecahan dan menumbuhkan pemahaman.
"Passage adalah undangan untuk berpartisipasi dalam dialog yang sedang berlangsung—penegasan peran seni sebagai ruang untuk refleksi kritis dan pertumbuhan kolektif," tulis Farah Wardani, dalam siaran pers yang diterima Suara Jogja, Selasa (14/7).
PASSAGE: Jembatan Menuju Panggung Dunia
PASSAGE akan berlangsung di IFI Yogyakarta pada hingga 24 Juli 2026, sebagai bagian dari Jogja Art Week. Pameran ini gratis dan dibuka untuk umum dari Senin hingga Sabtu, dari pukul 08:00 hingga 20:00 WIB.
Selain sebagai perayaan atas pengakuan Candrani Yulis, PASSAGE bertujuan untuk memperkenalkan "+E Program" yang memungkinkan seniman untuk berpartisipasi dalam Lyon Biennale.
Berita Terkait
Terpopuler
- Masuk Red Notice Interpol, Erick Soedjasa Ditangkap Bareskrim di Bandara Juanda
- Arti Weton Bumi Kapetak Menurut Primbon Jawa: Karakter Tangguh dan Tahan Banting Menuju Sukses
- Skandal Biksu Thailand Viral: Dana Kuil Rp46 M Raib, Emas 16 Kg Disita hingga Rekaman Tak Senonoh
- Berapa Harga Oven Mini? Cek 9 Rekomendasi Merek Berkualitas dan Kisarannya
- 8 Cara Mudah Membersihkan Panci Gosong dan Berkerak agar Kembali Kinclong
Pilihan
-
Pakar UNS Soroti Pemangkasan Anggaran Kebencanaan: Negara Kita Suka Kejadian Dulu Baru Dikaji!
-
Catat! Jadwal Resmi Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026: Lawan Malaysia di SUGBK
-
Rp11 Triliun Disiapkan untuk Isi Rekening Massal, Seorang Dapat Berapa?
-
Harusnya Bisa Kenyang dan Sehat, 230 Siswa di Pati Malah Keracunan Usai Santap MBG
-
Drone Thermal Dikerahkan, SAR Perluas Pencarian 5 Jurnalis Hilang di Perairan Anak Krakatau
Terkini
-
5 Tahun Holding UMi, Sinergi BRI, Pegadaian, dan PNM Dorong UMKM Bertumbuh
-
Lima Jurnalis Hilang di Anak Krakatau, Muhammadiyah Minta Pencarian Gunakan Teknologi Terbaru
-
Heboh LHKP Muhammadiyah Cap Program MBG Haram, Haedar Nashir Buka Suara
-
Jelang Tanwir ke-114, Muhammadiyah Sentil Masalah Bangsa Menumpuk, Elite Tak Gerak Cepat
-
Dana Desa Dipangkas untuk Kopdes Merah Putih, Banyak Lurah Takut Masuk Penjara, DIY Andalkan Danais