- BPBD DIY tidak memiliki anggaran khusus dropping air tahun 2026 akibat keterbatasan pagu anggaran yang ditetapkan sebelumnya.
- Empat kabupaten di DIY dilanda kekeringan, memaksa Pemda menggalang bantuan multisektor serta meminjamkan dua mobil tangki ke Kulon Progo.
- Pemerintah pusat melalui BNPB akan menyalurkan bantuan setelah kepala daerah resmi menetapkan status Siaga Darurat Hidrometeorologi Kekeringan.
SuaraJogja.id - Kekeringan mulai melanda empat kabupaten di DIY. Namun ironisnya, di tengah ancaman krisis air yang mulai dirasakan masyarakat, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY tidak memiliki anggaran khusus untuk melakukan dropping air pada tahun 2026.
"Untuk BPBD DIY memang tidak ada [anggaran dropping air]. Itu karena keterbatasan pagu anggaran yang ditetapkan tahun lalu untuk pelaksanaan program kegiatan 2026," papar Kepala Bidang Penanganan Darurat BPBD DIY, Tito Wicaksono di Yogyakarta, Rabu (29/7/2026).
Meski anggaran minim, namun menurut Tito, Pemda berupaya tidak tinggal diam. Berbagai skema bantuan tengah disiapkan, mulai dari dukungan pemerintah kabupaten, BAZNAS, Dinas Sosial, PMI, NGO, hingga Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWSO).
BPBD juga memberikan dukungan operasional kepada daerah terdampak. Salah satunya dengan meminjamkan kendaraan dua tangki air kepada Kulon Progo untuk mendukung kegiatan dropping air di wilayah yang mengalami kekeringan.
"Ada dua tangki air yang dipinjam teman-teman Kulon Progo dan itu juga dipakai untuk dropping air," ujarnya.
Tito menyebut, ancaman kekeringan tidak hanya terjadi di satu wilayah. Sejumlah kabupaten di DIY mulai menghadapi persoalan ketersediaan air, terutama Gunungkidul, Kulon Progo, Bantul, dan Sleman.
Karenanya Pemda mulai memetakan titik-titik kekeringan hingga tingkat kalurahan dan pedukuhan untuk mengetahui wilayah yang membutuhkan intervensi. BPBD DIY telah beberapa kali menggelar rapat koordinasi untuk mengantisipasi ancaman kekeringan.
Koordinasi dilakukan sejak April 2026 lalu dan kembali dilanjutkan seiring perubahan kondisi cuaca. Selain itu BPBD DIY juga telah berkoordinasi dengan BPBD kabupaten/kota. Dari pemetaan sementara, kondisi kekeringan di Kota Yogyakarta dinilai belum signifikan.
Data titik-titik terdampak tersebut selanjutnya akan dibandingkan dan disampaikan kepada Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
Baca Juga: Siswa Non Muslim di Jogja Diperlakukan Diskriminatif Saat Pelajaran Agama, Tak Punya Ruangan Tetap
"Kita sudah mengumpulkan teman-teman BPBD kabupaten dan minta titik-titik tingkat kalurahan, titik-titik mana di pedukuhan mana yang memang membutuhkan untuk kita support," jelasnya.
Tito menambahkan, pemerintah pusat juga membuka peluang bantuan bagi wilayah di DIY yang terdampak kekeringan. Namun bantuan dari pemerintah pusat memiliki syarat.
Diantaranya Kepala daerah harus terlebih dahulu menetapkan status Siaga Darurat Hidrometeorologi Kekeringan. Status tersebut menjadi dasar bagi BNPB untuk mengeksekusi bantuan.
Karenanya Kulon Progo menjadi salah satu daerah yang masih menunggu penetapan status tersebut. Diantaranya menunggu terpenuhinya kriteria 60 hari tanpa hujan sesuai arahan BMKG.
"Kulon Progo menunggu 60 hari tanpa hujan. Itu jatuh 30 Juli besok. Lalu baru kepala daerah menetapkan status level kedaruratan siaga darurat untuk bencana kekeringan," katanya.
Setelah status tersebut ditetapkan, BPBD DIY akan memfasilitasi pengajuan bantuan ke BNPB. Skema serupa juga diarahkan untuk mendapatkan dukungan dari Kementerian Pekerjaan Umum melalui BBWSO.
Berita Terkait
Terpopuler
- Urutan Skincare Pagi Viva untuk Anti-Aging Usia 40 Tahun ke Atas, Rawat Kulit Awet Muda
- Sempat Diamankan saat OTT, Sestama BNPB Rustian Kini Diperiksa KPK di Gedung Merah Putih
- 3 Sepatu Lari Lokal untuk Full Marathon, Ini Spesifikasi dan Harganya
- Ramai Tren Downgrade Lifestyle, Desainer Pilih Bedakan Produk Retail dan Wastra
- Sering Dijual Lebih Murah, Apakah Sepatu di Sports Station Ori?
Pilihan
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
-
RM Soeharjo Djajengasmoro: Tokoh Penting Pemuda yang Didepak dari Kampus Sendiri karena Ijazah
-
'Partai Mahasiswa' Serbia Guncang Eropa! Kalahkan Rezim Lewat Pemilu
Terkini
-
Jelang COP31, Jaringan Orang Muda Kritik Eksploitasi Alam di Jogja, Rakyat yang Tanggung Akibatnya
-
Korban Luka Kericuhan Malioboro Capai 116 Orang, 13 Jalani Dirawat Inap
-
Bukti Negara Hadir Tingkatkan Kesehatan Masyarakat: Program CKG Sudah Deteksi Medis 105 Juta Orang
-
Usung Pelestarian Budaya Berkelanjutan, Ini Rangkaian Acara Tentrem Cultural Week 2026
-
JPW Pertanyakan Sikap Humanis Polda DIY: Ada Pelempar Berlindung di Balik Barikade Polisi