Budi Arista Romadhoni | Hiskia Andika Weadcaksana
Kamis, 20 Agustus 2026 | 08:40 WIB
Penyerahan bantuan obat-obatan dari Dinkes DIY ke tim medis FK-KMK UGM, Rabu (19/8/2026). [Suara.com/Hiskia]
Baca 10 detik
  • Dinas Kesehatan DIY mengirimkan tahap awal bantuan obat senilai Rp38 juta untuk korban gempa NTT pada 19 Agustus 2026.
  • Tim medis FK-KMK dan RSA UGM yang terdiri dari enam personel diberangkatkan ke Bajawa untuk melakukan asesmen lapangan.
  • Pengiriman obat dari stok buffer Dinkes DIY ini dipastikan tidak mengganggu ketersediaan layanan kesehatan bagi masyarakat Yogyakarta.

SuaraJogja.id - Dinas Kesehatan Daerah Istimewa Yogyakarta (Dinkes DIY) mengirimkan bantuan obat-obatan untuk masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT) yang terdampak bencana gempa. Bantuan tersebut dikirim bertahap dengan melibatkan tim medis yang diberangkatkan ke wilayah terdampak.

Kepala Dinkes DIY, Gregorius Anung Trihadi, mengatakan tim FK-KMK UGM menjadi salah satu tim awal yang dititipi bantuan obat dari Pemda DIY. Pengiriman dilakukan di tengah keterbatasan angkutan dan kapasitas bagasi menuju wilayah bencana.

Disampaikan Anung, total bantuan obat yang disiapkan pada tahap awal mencapai sekitar 240 kilogram. Namun, obat yang dapat dititipkan melalui tim FK-KMK UGM untuk keberangkatan awal sekitar 40 kilogram.

"Jadi memang ada sekitar 240 kg yang kami siapkan dalam tahap pertama ini. Kami kirimkan, mungkin dititipkan 40 kg dulu kepada FK-KMK UGM karena keterbatasan waktu dan persiapan," kata Anung ditemui di FK-KMK UGM, Rabu (19/8/2026).

Bantuan tersebut tidak hanya berupa obat untuk penanganan keluhan umum. Ada pula perlengkapan yang dibutuhkan dalam pelayanan kesehatan di wilayah terdampak bencana. 

Anung merinci bantuan obat tersebut mencakup parasetamol tablet dan sirup, multivitamin, ibuprofen, antasida, cetirizine, cairan infus, masker, hingga sarung tangan medis. Seluruhnya disiapkan untuk menunjang kebutuhan tenaga kesehatan yang bekerja di lapangan.

Untuk tahap pertama, nilai bantuan obat yang disiapkan mencapai sekitar Rp38 juta. Dinkes DIY masih akan melakukan konsolidasi untuk menentukan bantuan berikutnya dengan mempertimbangkan kebutuhan di NTT dan ketersediaan stok di DIY.

"Jadi untuk tahap pertama ini senilai 38 juta dulu, terus kemudian kami konsolidasikan lagi dan tentunya dengan melihat kebutuhan dari NTT dan ketersediaan kami," ungkapnya.

Anung memastikan pengiriman bantuan tidak mengganggu ketersediaan obat untuk masyarakat di DIY. Sebab, obat yang dikirim merupakan bagian dari stok buffer Dinkes DIY yang telah diperhitungkan untuk tetap menjaga kebutuhan daerah.

Baca Juga: Terpapar Psoriasis Akibat Dampak Kemarau Panjang, Claudya Kesulitan Saat Keluar Ruangan

"Yang jelas ini adalah obat buffer kami, dan buffer kami untuk, semoga tidak terjadi, untuk DIY masih tetap aman walaupun kami donasikan kepada NTT," tegasnya.

Adapun tim medis Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FK-KMK) UGM dan Rumah Sakit Akademik (RSA) UGM akan diberangkatkan ke Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk membantu penanganan korban gempa. 

Tim yang terdiri dari enam personel itu akan bertugas sejak 19 hingga 30 Agustus 2026 dan ditempatkan di wilayah Bajawa.

Dekan FK-KMK UGM, Yodi Mahendradhata, mengatakan tim tersebut dikirim untuk melakukan asesmen langsung di lapangan. Informasi dari lokasi bencana diperlukan untuk mengetahui kebutuhan riil sekaligus memastikan bantuan yang diberikan tidak tumpang tindih dengan penanganan dari pihak lain.

"Ya ini timnya melakukan asesmen di lapangan dari situ kita akan bisa mengidentifikasi kebutuhan riilnya apa, karena ini kan butuh informasi dari lapangan ya," kata Yodi kepada wartawan di FKKMK UGM, Rabu (19/8/2026).

Disampaikan Yodi, proses asesmen akan dilakukan melalui koordinasi dengan berbagai pihak yang terlibat dalam penanganan bencana. Hasil koordinasi dan informasi lapangan tersebut nantinya menjadi dasar bagi UGM untuk menentukan dukungan lanjutan.

Load More