- Akademisi UMY Sunyoto Usman menyoroti dugaan keterlibatan ormas dalam kekerasan di Jakarta dan Yogyakarta.
- Polisi didesak menyelidiki secara transparan keterlibatan ormas yang mengambil alih kewenangan penegakan hukum negara.
- Negara harus menegakkan hukum secara tegas guna mencegah peniruan tindakan kekerasan oleh kelompok masyarakat.
SuaraJogja.id - Dugaan keterlibatan organisasi masyarakat (ormas) dalam kasus kematian Bambang Setiawan dalam kekerasan yang terjadi setelah demonstrasi di Jakarta pada 27 Agustus 2026 dan kericuhan yang melibatkan massa mahasiswa di Simpang Gramedia Yogyakarta pada 1 September 2026 mulai dipertanyakan akademisi.
Sebab ormas yang semestinya menjadi wadah perjuangan masyarakat justru dapat berubah menjadi kekuatan yang merasa memiliki otoritas sendiri untuk menyelesaikan persoalan.
Guru Besar Program Studi Doktor Politik Islam-Ilmu Politik Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Sunyoto Usman pun mengingatkan bahaya ketika ormas mulai mengambil peran yang seharusnya menjadi kewenangan negara.
"Ada persoalan struktural ketika sebuah organisasi mulai masuk terlalu jauh ke dalam kepentingan politik dan ekonomi," ungkap Sunyoto di Yogyakarta, Rabu (2/9/2026).
Menurut Sunyoto, secara sosiologis keberadaan ormas pada dasarnya dapat dilihat dari tiga orientasi. Yakni memperjuangkan nilai, memperluas jaringan atau justru mengejar kepentingan tertentu.
Persoalan muncul ketika orientasi ketiga semakin dominan. Sebab ketika kepentingan politik maupun ekonomi mulai masuk, kata dia, organisasi bisa kehilangan batas antara memperjuangkan kepentingan masyarakat dan memperjuangkan kepentingan kelompok.
Pada titik itulah, menurut Sunyoto, potensi kekerasan, fitnah, intimidasi dan tindakan destruktif semakin terbuka. Terlebih jika ormas mulai memiliki hubungan erat dengan struktur politik.
Ormas akhirnya tidak lagi hanya berfungsi sebagai pengumpul atau mobilisator massa. Sebagian diantaranya bahkan telah masuk ke dalam struktur dan manajemen politik.
"Peran mereka telah meningkat menjadi sentral. Hal inilah yang membuat mereka berani dan merasa jumawa, karena mereka menjadi bagian dari manajemen politik itu sendiri," ujarnya.
Baca Juga: Kronologi Lengkap Aksi Simpang Gramedia Jogja, Sempat Alot Berdialog, hingga Dipukul Mundur Warga
Dalam situasi semacam ini, kekuatan massa berpotensi digunakan untuk menghadapi kelompok yang dianggap berseberangan.
Sebut saja dalam kasus Bambang Setiawan menjadi alarm serius karena adanya desakan dari berbagai kelompok masyarakat sipil agar dugaan keterlibatan kelompok massa atau ormas dalam kekerasan tersebut dibuka secara transparan.
"Polisi diddesak mengungkap siapa pelaku sebenarnya dan bagaimana peran masing-masing pihak," ujarnya.
Sementara kericuhan di Simpang Gramedia membuat persoalan tersebut terasa semakin dekat. Pada aksi tersebut, kelompok yang mengaku sebagai warga mendatangi massa mahasiswa dan meminta mereka membubarkan diri.
"Situasi kemudian memanas hingga terjadi saling dorong dan bentrokan," jelasnya.
Karenanya Sunyoto mengingatkan, apabila tindakan semacam itu dibiarkan, masyarakat dapat belajar bilamana kekuatan massa merupakan jalan efektif untuk memenangkan kepentingan. Dalam sosiologi, fenomena itu dikenal sebagai imitasi sosiologis.
Berita Terkait
Terpopuler
- Cara Membersihkan Bunga Es Tanpa Mematikan Kulkas, Aman dan Mudah Dilakukan
- 3 Shio yang Menarik Keberuntungan Sepanjang September 2026, Hoki Sebulan Penuh
- 3 HP Infinix Mirip iPhone 17 Pro Max, Tampil Mewah ala Flagship
- Mitchell Baker Cetak 3 Gol dari 4 Laga Bakal Dipanggil John Herdman di FIFA ASEAN Cup 2026?
- Persib Bandung vs Seoul FC dan Melbourne Victory, Mariano Peralta Kirim Psywar
Pilihan
-
BREAKING NEWS! Kebakaran Hebat Terjadi di TPA Putri Cempo Solo
-
Ujian Berat MBG: Ketika Nasi, Tempe, dan Telur Berujung Keracunan Massal di Pesantren Sidoarjo
-
516 Korban Keracunan, Bupati Sidoarjo Ultimatum BGN Soal Perizinan: Ini Harus Tegas!
-
Kabar Gembira! Mulai 2027 Guru PPPK Paruh Waktu Resmi Diangkat Jadi Penuh Waktu
-
KPK Geledah Perusahaan Tambang Terkait Kasus Pajak Banjarmasin, Nama Adaro Ikut Terseret
Terkini
-
Kematian Bambang hingga Ricuh di Simpang Gramedia, Pakar: Jangan Biarkan Ormas Jadi Polisi Jalanan
-
Gagal Amankan Aksi di Simpang Empat Gramedia, JPW Kecam Pembiaran Bentrokan dan Keterlibatan Ormas
-
Sempat Dirawat, Panti Rapih Pastikan 6 Mahasiswa Korban Demo Sudah Dipulangkan
-
Mahasiswa Terluka saat Demo di Simpang Gramedia Jogja, UGM Siapkan Langkah Hukum
-
6 Mahasiswa UGM dan UNY Jadi Korban di Aksi Simpang Empat Gramedia, Kena Pukul di Kepala