- Kepala OJK DIY Eko Yunianto menyatakan ribuan penerima bansos di DIY terindikasi terjerat judi online dan pinjaman online.
- OJK DIY mencatat kesenjangan literasi dan inklusi keuangan memicu masyarakat rentan terjebak utang serta penyalahgunaan data pribadi KTP.
- OJK DIY berencana memperketat edukasi keuangan dan penerapan prinsip Know Your Customer untuk mencegah masalah finansial masyarakat.
Apalagi ada risiko munculnya persoalan utang, tekanan ekonomi keluarga, hingga semakin beratnya kondisi sosial penerima bantuan. Padahal masyarakat sebenarnya memiliki banyak pilihan layanan keuangan legal ketika membutuhkan dana.
"Tidak harus melalui pinjol, apalagi sampai bermain judi," katanya.
Selain persoalan judol dan pinjol, OJK DIY juga menemukan persoalan lain yang berkaitan dengan rendahnya kesadaran masyarakat dalam melindungi data pribadi. Eko mengungkapkan adanya masyarakat yang bahkan tidak merasa pernah menggunakan layanan keuangan melalui telepon seluler, tetapi NIK-nya justru digunakan pihak lain.
“Orang tua, lansia, ternyata NIK-nya dipakai,” ungkapnya.
Menurut Eko, masyarakat masih perlu diedukasi agar tidak sembarangan meminjamkan KTP atau data identitas kepada orang lain. Sebab kemudahan pembukaan rekening saat ini juga dapat dimanfaatkan oleh oknum untuk menggunakan identitas orang lain.
OJK, kata Eko, telah menerima pengaduan terkait masyarakat yang diminta membuka rekening dengan modal dari pihak lain. Setelah rekening berhasil dibuat, rekening tersebut kemudian berpotensi dioperasikan oleh pihak yang memberikan modal.
Karena itu, OJK juga terus mengingatkan lembaga jasa keuangan untuk memperkuat penerapan prinsip Know Your Customer (KYC) dalam mengenali calon nasabah. Tak hanya rekening, masyarakat juga diminta berhati-hati terhadap dokumen berharga seperti sertifikat tanah.
Eko menyebut pihaknya menerima pengaduan mengenai masyarakat yang meminjamkan sertifikat kepada tetangga atau orang lain dengan alasan tertentu. Sertifikat tersebut kemudian dapat digunakan sebagai agunan untuk memperoleh pembiayaan.
"Kalau dipinjamkan sertifikatnya itu disekolahkan (digadaikan-red), kemudian ceritanya berubah," ujarnya.
Baca Juga: Aksi di Simpang Gramedia Jogja Diwarnai Saling Dorong, Peserta Aksi hingga Polisi Terluka
Bagi OJK DIY, persoalan tersebut menunjukkan peningkatan inklusi keuangan tidak cukup hanya dengan memperluas akses masyarakat.
Masyarakat harus dibuat paham sebelum menggunakan layanan keuangan.
"Ketika akses tumbuh jauh lebih cepat daripada literasi, kemudahan finansial justru berpotensi berubah menjadi pintu masuk masalah, mulai dari utang, penyalahgunaan data, hingga jerat judi online," imbuhnya.
Kontributor : Putu Ayu Palupi
Berita Terkait
Terpopuler
- Kenapa Maudy Ayunda Disebut Tak Napak Tanah? Ini Kronologinya
- Menteri Keuangan Purbaya Diganti Hari Ini? Wakilnya Sudah ke Istana Pakai Jas
- 3 Rekomendasi Helm Half Face Rp200 Ribuan yang Paling Dicari Bikers, Nyaman Buat Harian
- Resmi! Menkeu Purbaya Dicopot, Diganti Suahasil Nazara
- Defisit APBN 'Cuma' 0,91 Persen, Purbaya Khawatir Kementerian-Lembaga Minta Anggaran Tambahan
Pilihan
-
Pejabat Kantor Pertanahan Terjaring OTT KPK di Jakarta dan Bogor
-
Dilantik Jadi Menkeu, Suahasil Akui Tak Berkomunikasi Dengan Purbaya
-
Purbaya Diganti, Nilai Tukar Rupiah Langsung Loyo ke Level Rp17.699
-
Resmi! Menkeu Purbaya Dicopot, Diganti Suahasil Nazara
-
Ada Pelantikan di Istana Sore Ini, Pratikno Ngaku Dapat Undangan Mendadak
Terkini
-
Kasus Asusila di Ponpes Sleman: Eks Pengurus Ditetapkan Tersangka, Keberadaannya Masih Misterius
-
Dari Pintu ke Pintu, Mantri BRI Dewi Natalia Bantu Pedagang Lampung Akses Pembiayaan
-
Anggaran Minim, BPBD DIY Geser Alokasi Atasi Bencana di Jogja
-
Indonesia Dikepung Lima Bencana, Jusuf Kalla Sebut Lingkungan Rusak oleh Kita Sendiri
-
5 Tahun Holding UMi, Sinergi BRI, Pegadaian, dan PNM Dorong UMKM Bertumbuh