Yasinta Rahmawati
Kamis, 10 September 2026 | 20:07 WIB
Forum Lintas Sektor untuk Ketahanan Pangan dan Gizi Indonesia bertema "Rembuk Pangan" di Sleman, Yogyakarta, Rabu dan Kamis (9-10 September 2026).
Baca 10 detik
  • Rembuk Pemuda DIY dan DEMA UIN Sunan Kalijaga menggelar Forum Rembuk Pangan di Sleman pada 9-10 September 2026.
  • Sebanyak 170 peserta merumuskan usulan kebijakan terkait ketahanan pangan, gizi, serta evaluasi program Makan Bergizi Gratis.
  • Hasil diskusi menghasilkan rekomendasi policy brief yang akan diserahkan kepada Kementerian Pertanian dan Badan Gizi Nasional.

"Anak-anak muda mencoba berinovasi di bidang pertanian dengan cara menanam yang ramah lingkungan, minim pestisida dan pupuk kimia. Ketika mereka menggunakan label ramah lingkungan, secara nilai harga bisa lebih tinggi dan pasar tersendiri sudah ada. Ini inovasi yang wajib disebarluaskan, bahwa kita masih punya kesempatan menghidupi diri lewat pertanian," tutur Diaz.

Forum Lintas Sektor untuk Ketahanan Pangan dan Gizi Indonesia bertema "Rembuk Pangan" di Sleman, Yogyakarta, Rabu dan Kamis (9-10 September 2026).

Selain persoalan sektor hulu, forum ini juga mendiskusikan bagaimana tata kelola program strategis pemerintah, seperti Makan Bergizi Gratis (MBG).

Diaz menilai pelaksanaan MBG di lapangan masih memicu fluktuasi harga komoditas pasar serta menyimpan risiko higienitas akibat masalah distribusi dan minimnya tenaga profesional di dapur umum.

"Untuk distribusi, diusulkan adanya pengawas independen dari luar struktur SPPG atau semacam konsultan yang mengawasi koki memasak dan memastikan rantai makanan dari dapur ke sekolah tetap higienis dan mencegah kasus keracunan," kata dia.

Selain itu, kata Diaz, kedaulatan pangan juga tidak boleh dimonopoli oligarki. Perlu ada institusi penyeimbang seperti Koperasi Desa Merah Putih sebagai agregator agar pangan bisa diakses dan dikendalikan segenap masyarakat.

Sementara itu, salah satu peserta, Mutiara Bintang Ramadhani, mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) jurusan Arkeologi, mengikuti kegiatan tersebut secara pribadi karena ingin memperluas wawasan mengenai pangan lokal.

"Saya ingin belajar lebih banyak karena menurut saya bahan pangan di Indonesia itu sangat melimpah. Saya berharap dengan adanya kegiatan ini, saya bisa lebih memahami tentang bahan makanan yang bisa diolah yang ada di sekitar kita," kata Mutiara.

Mutiara menyoroti potensi umbi-umbian yang menurutnya belum sepenuhnya dimanfaatkan masyarakat sebagai alternatif makanan pokok.

"Umbi-umbian di Indonesia itu sangat banyak, tapi masyarakat masih terlalu awam untuk menjadikan itu sebagai makanan pokok. Saya berharap dengan wawasan dan informasi yang didapat di sini, saya bisa merealisasikan bahwa makanan pokok itu tidak hanya dari beras," ujarnya.

Baca Juga: Garebeg Maulud 2026 Digelar Tertutup, Tradisi Rebutan Gunungan untuk Warga Dihapus

Menurut Mutiara, pemahaman terhadap pangan lokal perlu dimulai dari lingkup pribadi dan keluarga sebelum berkembang menjadi gerakan di masyarakat. Dengan demikian, ketahanan pangan tidak berhenti sebagai kebijakan, tetapi dapat diwujudkan melalui perubahan kebiasaan konsumsi dan pemanfaatan potensi pangan di sekitar.

Load More