- Rembuk Pemuda DIY dan DEMA UIN Sunan Kalijaga menggelar Forum Rembuk Pangan di Sleman pada 9-10 September 2026.
- Sebanyak 170 peserta merumuskan usulan kebijakan terkait ketahanan pangan, gizi, serta evaluasi program Makan Bergizi Gratis.
- Hasil diskusi menghasilkan rekomendasi policy brief yang akan diserahkan kepada Kementerian Pertanian dan Badan Gizi Nasional.
"Anak-anak muda mencoba berinovasi di bidang pertanian dengan cara menanam yang ramah lingkungan, minim pestisida dan pupuk kimia. Ketika mereka menggunakan label ramah lingkungan, secara nilai harga bisa lebih tinggi dan pasar tersendiri sudah ada. Ini inovasi yang wajib disebarluaskan, bahwa kita masih punya kesempatan menghidupi diri lewat pertanian," tutur Diaz.
Selain persoalan sektor hulu, forum ini juga mendiskusikan bagaimana tata kelola program strategis pemerintah, seperti Makan Bergizi Gratis (MBG).
Diaz menilai pelaksanaan MBG di lapangan masih memicu fluktuasi harga komoditas pasar serta menyimpan risiko higienitas akibat masalah distribusi dan minimnya tenaga profesional di dapur umum.
"Untuk distribusi, diusulkan adanya pengawas independen dari luar struktur SPPG atau semacam konsultan yang mengawasi koki memasak dan memastikan rantai makanan dari dapur ke sekolah tetap higienis dan mencegah kasus keracunan," kata dia.
Selain itu, kata Diaz, kedaulatan pangan juga tidak boleh dimonopoli oligarki. Perlu ada institusi penyeimbang seperti Koperasi Desa Merah Putih sebagai agregator agar pangan bisa diakses dan dikendalikan segenap masyarakat.
Sementara itu, salah satu peserta, Mutiara Bintang Ramadhani, mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) jurusan Arkeologi, mengikuti kegiatan tersebut secara pribadi karena ingin memperluas wawasan mengenai pangan lokal.
"Saya ingin belajar lebih banyak karena menurut saya bahan pangan di Indonesia itu sangat melimpah. Saya berharap dengan adanya kegiatan ini, saya bisa lebih memahami tentang bahan makanan yang bisa diolah yang ada di sekitar kita," kata Mutiara.
Mutiara menyoroti potensi umbi-umbian yang menurutnya belum sepenuhnya dimanfaatkan masyarakat sebagai alternatif makanan pokok.
"Umbi-umbian di Indonesia itu sangat banyak, tapi masyarakat masih terlalu awam untuk menjadikan itu sebagai makanan pokok. Saya berharap dengan wawasan dan informasi yang didapat di sini, saya bisa merealisasikan bahwa makanan pokok itu tidak hanya dari beras," ujarnya.
Baca Juga: Garebeg Maulud 2026 Digelar Tertutup, Tradisi Rebutan Gunungan untuk Warga Dihapus
Menurut Mutiara, pemahaman terhadap pangan lokal perlu dimulai dari lingkup pribadi dan keluarga sebelum berkembang menjadi gerakan di masyarakat. Dengan demikian, ketahanan pangan tidak berhenti sebagai kebijakan, tetapi dapat diwujudkan melalui perubahan kebiasaan konsumsi dan pemanfaatan potensi pangan di sekitar.
Berita Terkait
Terpopuler
- Kenapa Maudy Ayunda Disebut Tak Napak Tanah? Ini Kronologinya
- Menteri Keuangan Purbaya Diganti Hari Ini? Wakilnya Sudah ke Istana Pakai Jas
- Status Terbaru Anak Purbaya: Mafia Ancam Presiden Dibalik Pemecatan Bapak, Ada Foto Raja Juli
- Update Reshuffle Kabinet Hari Ini: Menlu Sugiono Dikabarkan Diganti
- Resmi! Menkeu Purbaya Dicopot, Diganti Suahasil Nazara
Pilihan
-
Dari Aceh hingga Nusa Tenggara, Membaca Peta Ancaman Megathrust Indonesia
-
Kabar Buruk dari Italia: Jay Idzes Cedera 30-35 Hari Absen Bela Timnas Indonesia
-
Purbaya Ogah Bicara Panjang Saat Sertijab Menkeu ke Suahasil: Terima Kasih Semua
-
Apa Salah Purbaya hingga Dipecat Lewat Panggilan Telepon?
-
Pejabat Kantor Pertanahan Terjaring OTT KPK di Jakarta dan Bogor
Terkini
-
Purbaya Dicopot Pas Lagi Rapat RAPBN, Akademisi UMY Soroti Etika dan Kepatutan Penguasa
-
Menjemput Rezeki dari Balik Layar Gadget hingga Ujung Canting, Kisah Difabel Bertahan Hidup di Jogja
-
PORTA by Ambarrukmo Hadirkan Pameran Eksperimental Photography "Somewhere Blue" by Nia Nanoka
-
Dari Olahraga untuk Negeri, BRI Raih Indonesia Sports Industry of the Year 2026
-
Dari Aceh hingga Nusa Tenggara, Membaca Peta Ancaman Megathrust Indonesia