- Ketua PHRI DIY Deddy Pranowo Eryono menyampaikan keprihatinannya pada Kamis (17/9/2026) karena warga lokal minim minat kuliah di bidang pariwisata.
- Dampak dari rendahnya minat pendidikan tersebut adalah lowongan kerja industri pariwisata DIY akhirnya banyak diisi oleh tenaga luar daerah.
- Ketua LLDIKTI DIY Setyabudi Indartono menyatakan lulusan pariwisata wajib meningkatkan kompetensi untuk menghadapi perubahan teknologi dan persaingan global.
SuaraJogja.id - Sektor pariwisata Jogja tengah menghadapi persoalan serius. Di tengah perkembangan destinasi, wisatawan terus diburu, hotel dan industri hospitality membutuhkan banyak tenaga kerja, namun masyarakat lokal justru semakin minim berminat menempuh pendidikan pariwisata.
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIY Deddy Pranowo Eryono bahkan mengaku prihatin dengan kondisi tersebut. Sebab kebutuhan industri terhadap sumber daya manusia (SDM) pariwisata justru sangat besar.
"Yang menjadi keprihatinan kita PHRI DIY, justru warga DIY itu sedikit yang kuliah di pariwisata. Padahal kita membutuhkan warga DIY sesuai dengan instruksi Ngarsa Dalem (Gubernur DIY-red)," ujar Deddy disela wisuda Stipram di Yogyakarta, Kamis (17/9/2026).
Menurut Deddy, persoalan tersebut terlihat dari menurunnya minat mahasiswa di sejumlah perguruan tinggi pariwisata di DIY. Selain dampak ekonomi dan kuota mahasiswa baru Perguruan Tinggi Negeri (PTN) yang terus bertambah, jumlah mahasiswa baru asal Yogyakarta di sejumlah kampus pariwisata di DIY juga terus berkurang.
Padahal kampus pariwisata selama ini menjadi bagian dari ekosistem sektor pariwisata di DIY. Namun ironisnya, ketika kampus pariwisata kekurangan mahasiswa, industri pariwisata DIY tetap membutuhkan tenaga kerja.
Akibat minimnya lulusan lokal, lowongan pekerjaan di sektor pariwisata akhirnya banyak diisi tenaga kerja dari luar daerah.
"Makanya kita [industri pariwisata] buka lowongan yang kebanyakan ya lowongan dari orang luar," ungkapnya.
Deddy menilai persoalan ini tidak bisa dipandang sekadar sebagai masalah perguruan tinggi yang kehilangan mahasiswa. Bagi PHRI, dampaknya menyentuh langsung keberlangsungan industri pariwisata di Yogyakarta.
Apalagi pariwisata kota ini membutuhkan SDM yang tidak hanya mampu bekerja di hotel, restoran, maupun sektor hospitality. Mereka juga harus memahami karakter Yogyakarta sebagai destinasi wisata berbasis budaya.
Baca Juga: Purbaya Dicopot, DPRD DIY Tantang Menkeu Baru Batalkan Seluruh Pemangkasan Anggaran Daerah
"Namun, ketika minat warga lokal untuk bersekolah di bidang pariwisata minim, kebutuhan tersebut sulit dipenuhi dari dalam daerah. Dampaknya itu kan enggak bisa sinkron," tandasnya.
Deddy menyebut, PHRI tidak mempersoalkan pekerja dari luar daerah selama mereka memiliki kompetensi dan mampu memberikan pelayanan hospitality dengan baik. Namun masalah justru muncul ketika masyarakat lokal tidak memiliki kompetensi yang dibutuhkan industri.
"Kalau pandangan PHRI ya selama hospitality-nya baik, enggak akan berdampak. Tapi yang berdampak itu adalah tenaga kerja lokal yang minim," jelasnya.
Ia menyebut kondisi tersebut berpotensi membuat tenaga kerja lokal kehilangan kesempatan. Sebab mereka tidak memiliki kompetensi yang dibutuhkan industri.
Karena itu, menurut Deddy, pendidikan pariwisata tidak boleh berhenti pada teori. Perguruan tinggi harus memastikan lulusannya benar-benar siap masuk ke industri.
"Jadi tenaga kerjanya banyak yang nganggur karena tidak banyak yang kompeten," ungkapnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Banyak UMKM Mundur dari Rans Carnival Jogja, Warganet Pasang Badan Bantu Larisin
- Tak Ingin Sakiti Hati Warga Jogja, OM Wawes Pilih Batal Manggung di RANS Carnival
- 5 Sunscreen untuk Kulit Kering dan Kusam di Usia 40 Tahun ke Atas
- Konser Andrea Bocelli di Borobudur Tetap Digelar, KIBBM Siapkan Tablig Akbar Penolakan
- Kenapa Deretan Musisi Mundur dari Rans Carnival Jogja? Ini Kronologinya
Pilihan
-
Resmi, MA Putuskan Suket Penyetaraan Ijazah Gibran Tidak Sah
-
Kembangkan AURA, Suara.com Raih AMSI Awards 2026 di Bidang Inovasi Produk dan Pemanfaatan AI
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
Terkini
-
Dominasi Lapangan, SMK Nusantara dan MAN 1 Kabupaten Sukabumi Jadi Juara AXIS Nation Cup 2026
-
Gandeng 43 Kampus Muhammadiyah, PERADI Profesional Perkuat Pendidikan dan Integritas Advokat
-
Coach Justin Nilai AXIS Nation Cup Buka Jalan Talenta Muda ke Level Profesional
-
Gratis! Grand Final AXIS Nation Cup 2026 Hadirkan 16 Tim dan Deretan Artis
-
Pasca Ramai Seruan Boikot, RANS Carnival di Maguwoharjo Ditinggal Musisi dan UMKM