Budi Arista Romadhoni
Jum'at, 18 September 2026 | 15:00 WIB
Kondisi SMKN 2 Yogyakarta, Jumat (18/9/2026). [Suarajogja.id/Putu Ayu Palupi]
Baca 10 detik
  • Sebanyak 413 warga SMKN 2 Yogyakarta mengalami gangguan kesehatan setelah menyantap menu MBG pada 16 September 2026.
  • Disdikpora DIY menduga insiden tersebut disebabkan oleh olahan ayam gongso yang tidak matang sempurna dari penyedia makanan.
  • Pihak sekolah menghentikan sementara penerimaan paket makanan sambil menunggu hasil pemeriksaan laboratorium dan investigasi kepolisian.

SuaraJogja.id - Lagi-lagi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) memakan korban. Setelah ratusan siswa Bantul, Kulon Progo dan Sleman, kali ini, sebanyak 413 siswa, guru, dan karyawan SMK Negeri 2 Kota Yogyakarta diduga mengalami gangguan kesehatan setelah menyantap menu MBG pada Rabu (16/9/2026).

"Dugaan sementara mengarah pada olahan ayam gongso yang disebut tidak matang sempurna," ujar Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) DIY, Suci Rohmadi di Yogyakarta, Jumat (18/9/2026).

Suci mengatakan, SMKN 2 Yogyakarta menerima sekitar 1.952 porsi MBG dari SPPG Caturtunggal Depok Sleman 03 pada Rabu lalu. Makanan tersebut didistribusikan kepada siswa, guru, dan karyawan. 

Seluruh penerima diwajibkan mengonsumsi menu sebelum pukul 10.00 WIB. Persoalan baru muncul beberapa jam kemudian.

Pada malam harinya, sejumlah penerima MBG mulai mengalami mual, pusing hingga gangguan pencernaan berupa diare. Keluhan berlanjut pada Kamis (17/9/2026), hingga pihak sekolah melakukan pendataan.

"Terdata 413 orang merasakan mual, pusing ataupun diare, terdiri dari guru, karyawan, dan murid," jelasnya.

Banyaknya keluhan membuat sekolah bergerak cepat. Sekitar pukul 08.30 WIB, sekolah berkoordinasi dengan SPPG dan sepakat menahan paket MBG yang belum didistribusikan pada Kamis.

Sekitar pukul 11.00 WIB, pihak SPPG dan mitra dapur kembali ke sekolah untuk melakukan investigasi internal. Dari investigasi awal tersebut muncul dugaan olahan ayam gongso tidak matang sempurna.

Namun Suci menyebut, penyebab tersebut belum bisa dipastikan sebelum hasil pemeriksaan laboratorium keluar.

Baca Juga: Semangat Aksara dalam Festival Kebudayaan Yogyakarta 2026

"Memang tadi dikatakan ini dari olahan ayam gongso yang tidak matang sempurna. Tapi ini dugaan, ya. Jangan nanti ditulis komentarnya Kepala Dinas Pendidikan. Dugaan, ini kan laporannya sekolah," jelasnya.

Menurut dia, kepastian penyebab harus menunggu hasil pemeriksaan laboratorium. Sampel makanan MBG yang dibagikan pada Rabu akan diambil untuk pemeriksaan.

Polsek Jetis juga turun melakukan investigasi. Kapolsek Jetis bersama Kanit Intel dan Kanit Reskrim mendatangi sekolah sekitar pukul 11.30 WIB dan melakukan koordinasi dengan pihak sekolah, SPPG, serta mitra dapur.

"Sebagai langkah antisipasi, SMKN 2 Yogyakarta kemudian menghentikan sementara penerimaan MBG pada Jumat ini hingga proses investigasi selesai," tandasnya.

Kasus di SMKN 2 Yogyakarta menambah rentetan kasus MBG, terutama mengenai keamanan pelaksanaan MBG di sekolah. Terlebih, kejadian gangguan kesehatan setelah konsumsi MBG sebelumnya juga telah terjadi di sejumlah wilayah DIY.

Suci menambahkan, jika kasus gangguan kesehatan masih terjadi, maka keamanan MBG belum bisa dikatakan sepenuhnya terjamin. Karenanya evalusi serius perlu dilakukan di SPPG. 

Load More