Budi Arista Romadhoni
Jum'at, 18 September 2026 | 15:00 WIB
Kondisi SMKN 2 Yogyakarta, Jumat (18/9/2026). [Suarajogja.id/Putu Ayu Palupi]
Baca 10 detik
  • Sebanyak 413 warga SMKN 2 Yogyakarta mengalami gangguan kesehatan setelah menyantap menu MBG pada 16 September 2026.
  • Disdikpora DIY menduga insiden tersebut disebabkan oleh olahan ayam gongso yang tidak matang sempurna dari penyedia makanan.
  • Pihak sekolah menghentikan sementara penerimaan paket makanan sambil menunggu hasil pemeriksaan laboratorium dan investigasi kepolisian.

Sebab dari kasus keracunan yang muncul, persoalan proses pengolahan makanan yang seringkali jadi penyebab. Apalagi sekolah sudah menerapkan Perilaku Hidu Bersih dan Sehat (PHBS) saat mengkonsumsi MBG.

"Anak-anak sudah cuci tangan dan makan MBG sesuai jadwal pendistribusian," ungkapnya.

Menurutnya, memasak makanan dalam jumlah besar bukan perkara sederhana. Kualitas makanan harus diperhitungkan sejak proses memasak hingga makanan dikonsumsi.

Tak hanya soal kematangan masakan, kualitas bahan baku juga menjadi persoalan yang harus diperhatikan.

"Telur itu apakah telur itu masih baru atau sudah lama kan kita juga tidak tahu. Kemudian apakah sayurnya itu sudah berjamur atau tidak, ketika partai besar kan proses memasaknya susah mendeteksi," katanya.

Karena itu, dia meminta penyebab setiap kasus ditelusuri secara menyeluruh dan tidak buru-buru disimpulkan. Variabelnya cukup banyak untuk mengetahui penyebab keracunan MBG.

"Ahli pun harus menyelidiki lebih detail untuk bisa melihat proses keracunan itu di mana, kesalahannya di mana," katanya.

Meski kasus kembali muncul, Disdikpora DIY belum meminta seluruh sekolah menghentikan program MBG. Penanganan akan dilakukan berdasarkan kasus masing-masing dengan melibatkan Tim Satgas MBG serta pemerintah kabupaten/kota.

"Harapannya semoga ini yang terakhir. Terus kemudian ada evaluasi-evaluasi besar-besaran," imbuhnya.

Baca Juga: Semangat Aksara dalam Festival Kebudayaan Yogyakarta 2026

Kontributor : Putu Ayu Palupi

Load More