Terapkan Gaya GSM, Merita Pernah Terima 'Chat Sampah' dari Muridnya

Chandra Iswinarno
Terapkan Gaya GSM, Merita Pernah Terima 'Chat Sampah' dari Muridnya
Sejumlah siswa SMP N 2 Sleman sedang melakukan aktivitas di taman kecil yang dikelola bersama, di sekolah setempat, Jumat (11/10/2019). [Suara.com/Uli Febriarni]

Sesi sharing time atau berbagi menjadi salah satu kegiatan yang memberikan dampak signifikan bagi siswa dan lingkungan belajarnya.

Suara.com - Sepuluh bulan menerapkan program Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) di sekolah, Merita Wulansari, Pengajar Bahasa Jawa di SMP N 2 Sleman Yogyakarta, sempat menerima 'chat sampah' dari anak didiknya.

Pertama berjumpa dengan Merita, ia tertangkap dengan tepian kelopak mata yang dipulas eyeliner hitam. Di sebuah ruangan tak jauh dari kolam kecil milik sekolah, Merita menyebut, lewat GSM telah muncul sejumlah kebiasaan positif di sekolah. Pun didahului dengan proses menumbuhkan kebiasaan positif di dalam kelas, serta tugas-tugas berbasis project untuk menggali kreativitas anak.

Namun tak berbeda dengan yang dikisahkan Aristha dan Aditho, sesi sharing time atau berbagi menjadi salah satu kegiatan yang memberikan dampak signifikan bagi siswa dan lingkungan belajarnya.

"Dalam sesi berbagi, guru hanya menjadi fasilitator. Di sana, anak-anak bersama teman-teman mereka mencari akar masalah yang dihadapi, apa yang harus mereka lakukan selanjutnya," kata Merita yang juga Guru Bahasa Jawa itu.

Sesi berbagi yang hanya membutuhkan waktu sekitar 15-20 menit itu, membantu guru dalam membangun karakter anak, terutama dalam hal keterbukaan, komunikasi dan kejujuran.

"Karena kalau memendam itu kan tidak baik ya," kata dia.

Merita mengenang, tak jarang sesi berbagi justru menghasilkan sebuah kesepakatan dalam kelas. Contohnya saja, menjaga kebersihan kelas.

Perempuan yang juga menjadi staf humas ini menuturkan kembali, suatu kali pernah mendapatkan 'chat sampah' dari anak didiknya. Namun, chat sampah yang dimaksud bukan percakapan yang isinya tak berguna atau tak bermanfaat. Melainkan chat berisikan pembahasan soal sampah di kelas.

"Jadi salah satu siswa di kelas, dia chat saya lewat WhatsApp. Anak itu mengeluhkan soal sampah di laci meja yang sangat membuatnya tidak nyaman belajar di kelas," ungkap Meri.

Keesokan harinya, apa yang dikeluhkan anak itu, Meri jadikan bahan diskusi dalam kelas, saat sesi berbagi. Tanpa menyebut nama si pengirim pesan. Di sesi itu, anak-anak bersuara dan menyampaikan unek-unek mereka, semua dampak negatif sampah yang dibuang sembarangan diungkapkan satu per satu. Begitu pula dampak buruk sampah jajanan yang diletakkan begitu saja di laci meja.

"Setelah itu mereka akhirnya membuat kesepakatan, tidak boleh membawa jajanan ke dalam kelas. Tidak boleh membuang sampah jajanan ke dalam laci kelas, mereka menjalankan kesepakatan itu, hingga sekarang," katanya.

Kontributor : Uli Febriarni

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS