Tolak Malioboro Jadi Pedestrian, PPMAY Desakkan Tiga Tuntutan Kepada Pemkot

Chandra Iswinarno | Muhammad Ilham Baktora
Tolak Malioboro Jadi Pedestrian, PPMAY Desakkan Tiga Tuntutan Kepada Pemkot
Puluhan Pengusaha yang tergabung di Paguyuban Pengusaha Malioboro Ahmad Yani (PPMAY) berkumpul di Balaikota Yogyakarta sebelum melakukan mediasi dengan Pemkot, Selasa (17/12/2019). [Suara.com/Baktora]

Mereka bahkan mendesakan tiga tuntutan kepada Pemkot Jogja sebelum mengubah destinasi wisata tersebut menjadi kawasan pedestrian.

SuaraJogja.id - Wacana Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta menjadikan kawasan Malioboro menjadi kawasan full pedestrian menimbulkan reaksi berbagai pihak.

Puluhan pengusaha yang tergabung dalam Paguyuban Pengusaha Malioboro Ahmad Yani (PPMAY) menolak wacana rencana tersebut. Mereka bahkan mendesakan tiga tuntutan kepada Pemkot Jogja sebelum mengubah destinasi wisata tersebut menjadi kawasan pedestrian.

"Pertama, kami meminta pemerintah merealisasikan janjinya untuk menata kelompok pedagang Tri Darma dan Pemali. Kedua, kami menuntut agar Pemkot melengkapi infrastruktur berupa lahan parkir di sekitar Malioboro. Hal itu untuk menunjang kemudahan pengendara maupun wisatawan yang akan berbelanja. Jadi pembeli tidak harus parkir jauh seperti di Taman Parkir Abu Bakar Ali," kata Ketua Umum PPMAY Sadana Mulyono kepada wartawan pada Selasa (17/12/2019).

Tuntutan yang ketiga, lanjut Sadana, memberikan dispensasi khusus untuk warga yang tinggal di sekitar Malioboro dan pelaku usaha untuk mengakses jalan protokol tersebut ketika wacana diberlakukan.

"Saat ini, kami menolak sebelum tiga tuntutan itu mampu direalisasikan pemerintah setempat. Karena saat uji coba penutupan Malioboro bebas kendaraan bermotor maupun saat Selasa Wage, pengusaha dan warga merasa dirugikan," katanya.

Pihaknya juga menilai, pemerintah seharusnya mengkaji ulang untuk menjadikan Malioboro full pedestrian. Pasalnya sejumlah akses jalan lain di sekitar Malioboro menjadi macet.

"Saya rasa wacana ini belum siap. Pemerintah harus banyak berbenah dengan rencana tersebut. Satu hari ditutup saja sudah membuat semrawut akses jalan lain seperti Jalan Mataram dan Jalan KH Ahmad Dahlan," kata Sadana.

Ia menambahkan jika pemerintah ingin meningkatkan pendapatan pengusaha dengan pemberlakuan full pedestrian, seharusnya ada jam-jam tertentu agar dilakukan penutupan akses jalan iti.

"Saat ini budaya berbelanja masyarakat dan wisatawan di Malioboro ini sudah berubah. Sebelumnya hampir tiap jam wisatawan datang berbelanja. Seiring waktu berjalan, kawasan maloboro lebih hidup pada siang, sore dan malam hari. Artinya penutupan jalan atau rencana full pedestrian ini tak seharusnya dilakukan seharian penuh. Jadi ada waktu dimana kendaraan bermotor ini bisa melintas di Malioboro," kata dia.

Sadana juga mengeluhkan, beberapa warga sekitar merasa kesulitan ketika jalan bebas kendaraan ini diberlakukan seperti saat Selasa Wage. Hal itu mengingat kendaraan yang boleh melintas hanya ambulans, Trans Jogja, mobil kedinasan, andong dan becak.

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS