Indeks Terpopuler News Lifestyle

Banyak SMA di Sleman Diduga Terpapar Paham Radikal, FKPAI: OSIS Jadi Rohis

Eleonora Padmasta Ekaristi Wijana Kamis, 16 Januari 2020 | 14:04 WIB

Banyak SMA di Sleman Diduga Terpapar Paham Radikal, FKPAI: OSIS Jadi Rohis
Ilustrasi siswa SMA. [Antara/Herman Dewantoro]

Ada sekitar 30 persen guru-guru SMA yang juga dinilai terpapar paham radikal.

SuaraJogja.id - Radikalisme diduga telah memengaruhi sejumlah sekolah di Kabupaten Sleman. Kondisi ini dilaporkan Ketua Forum Komunikasi Penyuluh Agama Islam (FKPAI) Sleman Unsul Jalis.

Ia mengatakan, hampir 60 persen SMA di wilayah Sleman terpapar paham radikal. Ada sekitar 30 persen guru-guru SMA yang juga dinilai terpapar paham radikal.

"Itu data hasil kajian dari angket yang kami sebar di seluruh SMA Negeri dan Swasta pada 2019 lalu," kata Jalis pada Harianjogja.com -- jaringan Suara.com, Rabu (15/1/2020).

Jalis menerangkan, penyebaran angket tersebut dilakukan untuk mengetahui sejauh mana siswa dan guru SMA di wilayah Sleman terpapar paham radikal. Angket disebar tidak hanya di sekolah negeri, melainkan juga sekolah swasta, dan tidak hanya SMA, tetapi juga MA.

"Jadi ini bukan sekadar isu, tetapi faktanya memang seperti itu," ujar Jalis.

Beberapa indikasi atau pertanyaan dalam angket yang ditanyakan berkaitan dengan ulama-ulama yang selama ini menjadi panutan dalam beragama. Hasilnya, jawaban sebagian siswa dan guru merujuk pada ulama-ulama yang dianggap radikal.

"Indikator lainnya, saat ini sudah ada pergeseran penyebutan OSIS menjadi Rohis. Di beberapa sekolah itu sudah terjadi," terang Jalis.

Ia menjelaskan, masuknya paham-paham radikal ke sekolah-sekolah itu bukan terjadi tiba-tiba, tetapi sengaja dibawa.

"Ada gerakan agar paham ini masuk ke sekolah-sekolah. Kalau ada satu saja yang terpapar, entah itu siswa atau guru, pasti mereka akan mengajak orang lain. Dengan begitu perkembangan paham ini akan sangat massif," jelas Jalis.

Temuan tersebut kemudian disampaikan kepada pemerintah. Supaya penyebaran radikalisme tak makin meluas di kalangan pelajar dan guru, kata Jalis, diperlukan upaya dan langkah nyata untuk membendungnya.

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait