Viral Nenek Ditendang di Pasar Gendeng, Ternyata 30 Tahun Hidup Sendirian

Eleonora Padmasta Ekaristi Wijana
Viral Nenek Ditendang di Pasar Gendeng, Ternyata 30 Tahun Hidup Sendirian
Nenek ngutil ditendang di Pasar Gendeng Piyungan Sleman - (Facebook/Agoeng Maegeng Koerniawan)

Dengan kondisi rumah seperti itu, puluhan tahun lamanya, Rubingah hidup tanpa listrik, lampu, maupun perabotan elektronik lainnya.

SuaraJogja.id - Banyak orang iba pada Rubingah (64) setelah videonya ditendang seorang pria di Pasar Gendeng di Jalan Raya Piyungan, Desa Madurejo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman viral di media sosial.

Selama ini rupanya Rubingah hidup menyendiri di sebuah rumah 'tak layak' di Dukuh Kranggan II, Desa Jogotirto, Kecamatan Berbah, Sleman. Puluhan tahun dia hidup sebatang kara di rumah berdinding bata, dengan kondisi yang sangat memprihatinkan di dalamnya, seperti dilaporkan HarianJogja.com -- jaringan SuaraJogja.id.

Di dalam rumah itu tidak ada dipan atau ranjang yang layak, kursi, maupun sofa yang empuk. Pintu gerbang rumahnya hanya terbuat dari bambu dan dikunci menggunakan gembok mungil. Halaman depan rumah itu disesaki berbagai macam material tak terawat, mulai dari batu, kayu, genteng, hingga barang bekas lainnya.

Sedangkan, di bagian belakang rumahnya, ada sebuah lobang dangkal yang menyerupai sumur dan sedikit ruangan yang penuh dengan bekas pembakaran dupa. Ruang dapurnya pun tak memiliki perabotan.

Dengan kondisi rumah seperti itu, puluhan tahun lamanya, Rubingah hidup tanpa listrik, lampu, maupun perabotan elektronik lainnya. Pencahayaan saat malam didapat Rubingah dengan sedikit membuka pintu bagian depan rumahnya.

Sejak 30 tahun lalu Rubingah harus menghidupi dirinya sendiri setelah cerai dari suaminya, Jamal, yang merantau ke Sumatra bersama putri semata wayangnya dengan Rubingah, Wiwin. Penghasilan janda sebatang kara ini lantas tidak menentu, dan ia hidup dalam tekanan ekonomi yang berat.

Kepala Dusun Kranggan 1 Suharmadi (44) menceritakan, sebenarnya dua tahun lalu Rubingah termasuk dalam daftar penerima beras untuk masyarakat miskin (Raskin). Namun sejak program Raskin diganti dengan Rastra dan PKH, Rubingah tak lagi mendapatkan bantuan beras dari pemerintah.

"Akhirnya sehari hari dia berjalan kaki. Biasanya jadi tukang pijet," kata Suharmadi, Rabu (22/1/2020).

Selama ini, kata dia, Rubingah hidup dari bantuan tetangga atau dermawan lainnya. Kalau ada bantuan dari instansi luar, seperti zakat, Suharmadi selalu memasukkan Rubingah sebagai salah satu penerima.

"Mungkin karena terpisah dari suami dan anaknya, ditambah masalah ekonomi, mbah Rubingah sedikit tertekan," kata Suharmadi.

Ia menambahkan, Rubingah adalah sosok yang tertutup, tidak banyak bicara kepada masyarakat. Hanya kepada Suharmadi, Ketua RT setempat, dan beberapa warga Rubingah bisa terbuka. Meskipun tinggal di dusun berbeda, namun dia masih tercatat sebagai warga Kranggan II.

Dia menilai, semestinya aksi kekerasan dialami Rubingah tidak perlu terjadi, apalagi dilakukan kepada seorang nenek.

"Saya akan bertemu dengan Pak Dukuh di mana tempat pelaku tinggal agar, kalau bisa, diselesaikan secara kekeluargaan. Jangan sampai melakukan tindakan kekerasan seperti itu," katanya.

Sementara itu, Duel Umara (65), tetangga Rubingah, mengatakan, sejak beberapa tahun terakhir, Rubingah memang jarang berkomunikasi dengan tetangga. Dia tahu persis tingkah laku Rubingah karena tinggal di seberang jalan kampung depan rumah Rubingah.

"Kalau pergi pagi, sore sudah pulang. Tapi nggak tahu perginya ke mana. Pernah pamit ke pengajian pakai kerudung," ungkap Umara.

Meskipun komunikasi terbatas, kata Umara, Rubingah tidak punya masalah dengan tetangga, apalagi sampai mengambil barang orang lain, tanpa izin.

"Pernah saat di rumah ada acara RT, ada makanan sisa, dia meminta makanan. Kalau ada keperluan dia pasti minta," katanya.

Rubingah mulai dikenal publik setelah muncul video viral di mana Rubingah mendapat perlakuan kasar pada Senin (20/1/2020). Dia dituding mengutil beberapa buah mangga seberat 3 kg.

Banyak warganet yang geram terhadap tindakan kasar yang diterima Rubingah dan tidak sedikit yang iba melihat kasus kekerasan tersebut. Bahkan, rumah kediaman Rubingah pun ramai didatangi orang. Mereka iba dan menyatakan dukungan moral atas tindak kekerasan yang dialami nenek tersebut.

Saat ini Polsek Prambanan memeriksa empat orang saksi dalam kasus tersebut. Selain Ngadirin terduga pelaku penganiayaan, penyidik juga memeriksa Martini pedagang buah, Sukasno pembuat video, dan Ketua Paguyuban Pasar Gendeng Sularsih sebagai saksi. Pemeriksaan dilakukan pada Rabu (22/1/2020) pagi hingga siang hari.

"Semua pihak yang terlibat dalam video tersebut kami periksa, mulai penjual buah yang katanya buahnya diambil, orang yang memvideo, sampai pelaku yang menendang korban," kata Kasi Humas Polsek Prambanan Aiptu Ahmad Mukhlis.

Selain itu, Ketua Paguyuban Pedagang Pasar Gendeng Sularsih mengatakan, dia hanya mendapatkan laporan adanya kasus tersebut sesaat setelah kejadian. Dia mengaku tidak melihat langsung kejadian penganiayaan yang videonya viral di media sosial.

"Saya dikasih laporan dari pelaku yang menendang ibunya [Mbah Rubingah]. Katanya ibunya itu habis ngutil. Kejadian yang ada dalam video itu sebelum dilaporkan ke saya," katanya ketika diperiksa di Polsek Prambanan.

Dia menjelaskan, Mbah Rubingah tidak mengambil brambang [bawang merah] seperti yang tergambar dalam video tersebut. Barang merah yang tergambar dalam video adalah bunga mawar. Setelah diperiksa dan ditanyai perihal tuduhan tersebut kepada Rubingah, kata dia, korban seperti mengalami gangguan kejiwaan.

"Setelah beli bunga, si ibu mengambil mangga tiga kilo. Dari logatnya saat saya tanya-tanya, si ibunya itu terlihat orang yang kurang waras. Akhirnya saya lepaskan. Baru Selasa paginya saya tahu video itu sudah viral," katanya.

Ngadirin sendiri mengaku tidak menyangka tindakannya viral. Dia mengatakan menendang korban karena mendengar teriakan maling-maling.

"Saya langsung tendang. Dua kali. Satu kena bunga, satu kena tas. Saya emosi saat itu sangat ada teriakan maling," ujar Ngadirin.

"Saya hanya emosi ada maling, gitu saja. Menyesal ya menyesal. Kalau ketemu [Rubingah] saya jaluk ngapuro saja," imbuhnya.

Sementara Martini, pedagang buah yang dikutil oleh Rubingah, mengaku ada sekitar 3 kg mangga yang diambil. Mengetahui itu, dia lantas mengambil mangga tersebut dan meminta Rubingah tidak mengulangi perbuatannya.

"Saya bilang kalau mau minta saja, jangan ngambil," ujar dia.

Sedangkan Sukasno, warga yang merekam kejadian tersebut, mengaku rekaman hanya untuk pribadi agar pedagang mewaspadai perilaku pengutil.

"Cuma Martini minta videonya. Setelah itu katanya video dipasang di status WA dan menyebar," kata Kasno.

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS