Ada Rumusnya, Ini Asal-usul Kata Dagadu hingga Dab dalam Boso Walikan Jogja

Eleonora Padmasta Ekaristi Wijana
Ada Rumusnya, Ini Asal-usul Kata Dagadu hingga Dab dalam Boso Walikan Jogja
[Ilustrasi Jogja] Gedung BNI 1946 Titik Nol Kilometer Yogyakarta - (SUARA/Eleonora PEW)

Bahasa ini konon dipakai para pejuang Jogja supaya mata-mata kolonial yang mengerti bahasa Jawa tidak mengetahui apa yang sedang dibicarakan.

SuaraJogja.id - Bagi penduduk Jogja, kata sejenis "dagadu" hingga "dab" tampaknya sudah lazim digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Pasalnya, kata-kata itu merupakan "bahasa gaul" untuk muda-mudi Jogja di era 1990-an, yang dikenal dengan istilah "Boso Walikan Jogja" atau bahasa kebalikan ala Jogja.

Paniradya Kaistimewan, lembaga yang mengurusi program keistimewaan Yogyakarta, mengungkapkan hal tersebut di Twitter, Kamis (28/5/2020). Menurut keterangannya, Boso Walikan Jogja "sudah dipakai ketika masa penjajahan, pernah menjadi bahasa Gaul di era 1990an, merupakan bahasa terenkripsi dengan metode penukaran pada aksara jawa."

Berdasarkan infografis yang disertakan pada cuitan @PaniradyaJogja, bahasa ini digunakan masyarakat Jogja untuk menunjukkan keakraban dengan lawan bicara. Bahasa ini konon mulanya dipakai para pejuang Jogja supaya mata-mata kolonial yang mengerti bahasa Jawa tidak mengetahui apa yang sedang dibicarakan para pejuang Jogja ini.

Namun, pengalihan kata dari bahsa Jawa ke Boso Walikan ini tidak asal; ada rumusnya, yaitu dengan membalikkan huruf. Hanya saja, dasarnya bukan alfabet ABC pada umumnya, melainkan sistem abjad yang digunakan oleh orang Jawa, yaitu aksara Jawa, yang juga dikenal sebagai "Hanacaraka".

"Cara membuatnya dengan menukar aksara [Jawa], baris pertama menjadi baris ketiga, dan baris kedua menjadi baris keempat, dan sebaliknya," terang Paniradya Kaistimewan.

Baca Juga: Lantik Iman Brotoseno Jadi Dirut, DPR Sebut Dewas TVRI Langgar UU MD3

Dalam aksara Jawa diketahui baris pertama terdiri dari ha, na, ca, ra, dan ka; baris kedua da, ta, sa, wa, dan la; baris ketiga pa, dha, ja, ya, dan nya; sedangkan baris keempat atau terakhir ma, ga, ba, tha, dan nga. Maka, setiap aksara punya pasangan masing-masing untuk bisa saling ditukar, yakni ha-pa, na-dha, ca-ja, ra-ya, ka-nya, da-ma, ta-ga, sa-ba, wa-tha, dan la-nga.

Salah satu kata dari Boso Walikan Jogja yang paling populer adalah "dagadu", yang artinya "matamu".

Boso Walikan Jogja - (Twitter/@PaniradyaJogja)
Boso Walikan Jogja - (Twitter/@PaniradyaJogja)

Seperti rumus penukaran aksara yang telah dijabarkan @PaniradyaJogja, "matamu" menjadi "dagadu". Pertama, "ma" ditukar dengan "da" karena sama-sama aksara pertama masing-masing di baris keempat dan kedua aksara Jawa. Kedua, "ta" ditukar dengan "ga" karena sama-sama aksara kedua masing-masing di baris kedua dan keempat. Terakhir, "ma" ditukar dengan "da" seperti suku kata pertama, lalu disesuaikan dengan huruf vokal pada suku kata "mu", sehingga jika disusun, "matamu" menjadi "dagadu".

Baca Juga: Kebanyakan Makan Saat Lebaran Bisa Datangkan Penyakit? Ini Kata Dokter

Dalam contoh yang diperlihatkan Paniradya Kaistimewan, bahasa gaul ala Jogja lainnya adalah "dab" atau "mas", "lodse" atau "ngombe" [minum], dan "themony/themon" atau "wedok" [perempuan].

Jadi, jika diterjemahkan ke dalam Boso Walikan Jogja, "SuaraJogja" menjadi "BupayaCotca" atau mungkin "ButhayaCotca". Kalau namamu, jadi apa?

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS