
Lihat komentar penuh Gus Miftah DI SINI.
Ketiga, gampang percaya dengan hoaks atau berita bohong. Gus Miftah mengingatkan bahwa penyebar kabar bohong pertama adalah iblis dan yang menerima kabar adalah Nabi Adam. Sekali menerima berita bohong, Nabi Adam langsung dikeluarkan dari surga.
Selanjutnya, warganet juga disebut selalu mengedepankan gibah atau gosip. Netizen dikatakan suka menyampaikan kabar agar terlihat eksis tanpa memperhitungkan terlebih dahulu apakah hal yang dibicarakan tersebut merupakan benar atau salah.
"Kemudian apa, dia yang salah, dia juga yang galak," tukasnya.
Baca Juga:Mantap, Warung Ini Kasih Promo Makan Gratis Buat yang Namanya Bu Tejo
Sama seperti Bu Tejo, lanjut Gus Miftah, orang-orang yang aktif di dunia maya juga selalu lebih galak meskipun dirinya salah. Mereka kerap tidak menerima kritik maupun saran dari orang lain, bahkan menolaknya dengan lebih galak.
Terakhir, alumnus UIN Sunan Kalijaga ini melihat sosok Bu Tejo sebagai orang yang memiliki tingkat egois tinggi. Hal tersebut juga dilihatnya hadir dan berkembang dalam realitas bermasyarakat saat ini.
Jika disimpulkan, Gus Miftah menyebutkan, karena berisi gibah, nyinyir, dan nyolot maka konten di film Tilik tidak memiliki faedah. Sementara dilihat dari sisi positif, film itu menggambarkan secara detail realitas kehidupan masyarakat Indonesia.
"Sahabat yang baik itu bukan yang menjelekkan antara satu dengan yang lain, tetapi menjelekkan orang lain secara bersama-sama. Itulah netizen +62," kata Gus Miftah mengakhiri komentarnya.
Ia juga berpesan, jika seorang suami memiliki istri seperti Bu Tejo, kemungkinan ia akan mendapatkan balasan surga atau setidaknya berkurang siksaannya di akhirat. Sebab, sebagai suami, ia sudah tersiksa di dunia karena memiliki istri yang galak.
Baca Juga:Naik Truk Bareng Raffi Ahmad, Bu Tejo: Situ Kan Enggak Pernah Hidup Susah