SuaraJogja.id - Kenaikan tarif impor produk kayu hingga 32 persen oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump membuat sejumlah pelaku usaha kecil menengah (UMKM) Indonesia dibuat waswas. Namun di tengah tantangan tersebut, Woodeco Asia, sebuah UMKM asal Bantul, justru tetap mendapatkan pesanan dari Negeri Paman Sam.
Agung, pemilik Woodeco Asia, menceritakan bahwa pada Kamis (3/4/2025) ia menerima panggilan dari salah satu buyer-nya di Amerika Serikat yang tengah dilanda kebingungan. Keresahan muncul setelah diumumkannya kebijakan tarif tinggi terhadap produk kayu impor, termasuk kerajinan dari Indonesia.
“Jadi kemarin saya sudah kirim dua kontainer produk kerajinan ke Amerika Serikat. Buyer saya bingung, apakah tarif baru itu berlaku untuk barang yang sudah dalam perjalanan, atau hanya untuk pesanan baru,” kata Agung.
Pembeli tersebut juga khawatir soal harga jual di pasar Amerika Serikat. Jika mereka menaikkan harga akibat tarif, produk Indonesia bisa kalah saing. Namun jika harga tetap, kerugian tak bisa dihindari.
Baca Juga:Disnakertrans Bantul Terima 19 Aduan terkait Pembayaran THR Lebaran
Agung, yang dulunya seorang tukang parkir di Pasar Niten Bantul, mengatakan masih ada pesanan lain dari buyer Amerika Serikat untuk pengiriman Juli mendatang. Namun, pesanan tersebut belum diproses karena buyer meminta waktu untuk menunggu kejelasan kebijakan tarif dari pemerintah mereka.
“Sebenarnya dia sudah minta diskon, tapi saya tidak bisa kabulkan. Harga bahan baku dan produksi juga terus naik,” ungkap Agung.
Wakil Ketua Umum Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI), Bambang Wijaya, menanggapi kebijakan AS tersebut dengan nada serius. Menurutnya, tarif tinggi ini berpotensi menurunkan daya saing industri mebel dan kerajinan nasional di pasar ekspor utama seperti Amerika Serikat.
“Selain itu, regulasi dari Uni Eropa juga makin ketat terhadap produk berbasis kayu. Ini menjadi tantangan ganda bagi industri dalam negeri,” ujar pemilik PT Decor Asia yang berpusat di Bantul ini.
Data HIMKI mencatat, pada tahun 2024 nilai ekspor mebel dan kerajinan Indonesia mencapai USD 3,2 miliar. Dari jumlah tersebut, sekitar 41 persen atau setara USD 1,3 miliar dikirim ke pasar Amerika Serikat. AS merupakan pasar ekspor terbesar untuk produk mebel dan kerajinan Indonesia selama lima tahun terakhir.
Baca Juga:Sebanyak 2 juta Pemudik Bakal Masuk Wilayah Bantul, Seluruh RS Disiagakan Selama Libur Lebaran
Bambang menegaskan bahwa Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia atau HIMKI mendorong pemerintah Indonesia untuk mengambil langkah diplomatik strategis agar produk kerajinan nasional bisa mendapatkan akses bebas tarif ke pasar AS. Bahkan, jika memungkinkan, produk-produk unggulan Indonesia bisa masuk tanpa bea masuk.
Sebagai strategi perlindungan industri, Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia atau HIMKI tengah menjalin kerja sama dengan berbagai organisasi internasional termasuk NGO di AS dan Eropa untuk melawan kebijakan tarif yang dianggap merugikan.
Dampak dari kebijakan ini cukup luas. Selain menaikkan harga produk Indonesia di pasar Amerika, kebijakan ini bisa menggeser permintaan ke negara lain yang tak terkena tarif, bahkan bisa mendorong Amerika untuk memproduksi barang-barang tersebut secara lokal.
Untuk itu, Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia mendorong diversifikasi pasar ekspor ke kawasan alternatif seperti Eropa, Timur Tengah, dan Asia Timur. Promosi aktif di ajang internasional seperti INDEX Dubai dan iSalone Milan diharapkan dapat memperluas jangkauan pasar produk Indonesia.
Meski situasi cukup menantang, HIMKI tetap optimistis. Pasalnya, Indonesia memiliki keunggulan bahan baku dan kualitas produk kayu dan rotan yang sulit ditandingi. Ini akan jadi kekuatan utama Indonesia di pasar global.
Kontributor : Julianto