"Filosofi harus naik sepeda ini adalah, kita, khususnya pengantin, harus selalu sehat jasmani dan rohani. Sepeda ini ibarat orang berumah tangga, mereka harus mengayuh, berusaha sekuat tenaga untuk kebahagiaan dalam keluarga, apalagi dalam kondisi pandemi Covid-19 saat ini," paparnya.

Para pengantin tidak hanya menaiki sepeda menuju KUA Kotagede saja, tapi prosesi ijab pun juga dilakukan di atas sepeda. Prosesi ijab dilakukan bergantian dengan manten, saksi, dan penghulu.
Ryan mengungkapkan bahwa acara nikah bareng ini diselenggarakan secara gratis dengan dilengkapi fasilitas yang dibutuhkan, dari biaya nikah, cincin tematik dengan tulisan aksara Jawa, rias dan baju pengantin, dokumentasi, hingga mahar unik.
"Maharnya juga cukup unik, yakni seperangkat alat salat dan masker sebanyak 264 buah yang nanti akan dibagi-bagikan kepada masyarakat," jelasnya.
Baca Juga:HUT Ke-264 Kota Yogyakarta Dirayakan Virtual, Ini Makna Tema yang Diangkat
Ryan menambahkan, pihaknya masih membuka pendaftaran nikah bareng bagi masyarakat yang tertarik sampai dengan tanggal 16 Oktober mendatang. Tidak perlu syarat macam-macam untuk mendaftar. Peserta hanya perlu bersedia untuk menjadi pengantin duta protokol kesehatan dengan membagikan masker dan mengkampanyekan 3 M melalui media sosial.
Sementara itu, salah satu pengantin, Sri Wulandari (50), warga Gondokusuman, Yogyakarta, mengaku sudah lega dan gembira setelah akhirnya menikah dengan sah. Walaupun masih dalam masa pandemi Covid-19, ia bersyukur bisa melaksanakan pernikahan.

"Seneng rasanya walaupun memang kalau rasa degdegan juga ada, tapi menikah di situasi pandemi Covid-19 ini patut disyukuri," kata Sri.
Sri mengaku tertarik untuk mengikuti program nikah bareng ini karena konsepnya yang unik. Ia berharap, keluarganya bisa terus diberi kebaikan dan kelancaran untuk menghadapi tantangan yang ada di depan.
"Konsepnya unik dan gratis juga, untuk kenang-kenangan besok juga kalau pernah ikut nikah bareng," ungkapnya.
Baca Juga:HUT Ke-264 Kota Yogyakarta, Begini Sejarah Singkatnya