Pergeseran alam hingga ulah manusia mengakibatkan banyak sumber mata air yang telah menghilang. Telaga-telaga telah mengering, tak hanya di musim kemarau, tetapi terkadang di musim penghujan juga tak ada airnya sama sekali. Pohon-pohon besar yang berfungsi sebagai peresapan air hujan telah dipotong. Akibatnya, daya resap air hujan ke tanah makin berkurang, sehingga cadangan air bawah tanah mulai menipis.
Oleh karena itu, Komunitas Garangan mencoba kembali menghidupkan sumber mata air dengan menanam pohon-pohon yang memiliki fungsi baik untuk meresapkan air (resan). Paling banyak yang mereka tanam untuk resan adalah tanaman atau pohon beringin. Mereka mulai membuat bibit-bibit pohon beringin dengan cara melakukan stek atau okulasi pohon beringin yang masih ada.
"Pohon beringin memiliki kontur akar yang cukup baik gimana kebutuhan airnya untuk pohon ini cukup sedikit padahal daun-daunnya sangat banyak. Pohon beringin ini ini lebih banyak menyimpan airnya di sekeliling pohon ini tumbuh," paparnya.
Dengan dana seadanya, Komunitas Garangan mencoba memaksimalkan peran mereka mengembalikan mata air yang telah hilang. Puluhan pemuda telah bergabung dan sudah mulai merambah kapanewon-kapanewon yang lain untuk satu kata, mengembalikan mata air demi hajat hidup orang banyak.
Baca Juga:Pulang dari Pondok Pesantren, Gadis 12 Tahun Dicabuli Ayah Kandung
Kontributor : Julianto