Pesangon Berkurang dari 32 Gaji jadi 25 Kali, Ini Penjelasan Luhut

Meskipun hanya diberikan 25 kali dan berkurang dari jumlah sebelumnya, namun Luhut hampir bisa memastikan jika akan banyak perusahaan yang bisa memberikan.

Galih Priatmojo | Mutiara Rizka Maulina
Selasa, 17 November 2020 | 18:14 WIB
Pesangon Berkurang dari 32 Gaji jadi 25 Kali, Ini Penjelasan Luhut
Luhut menjelaskan keuntungan Omnibus Law bagi bidang usaha dalam webinar UGM. - (YouTube/UGM)

"Jadi yang kita anggap complicated, beresiko tetap kita berikan kehati-hatian," terang Luhut.

Saat ini ada 64 juta perusahaan menengah dan besar. Sebelas juta diantaranya saat ini sudah berhasil dibuat secara online. Harapannya, kedepannya bisa lebih dari 30 juta yang bisa diubah menjadi daring. Hal itu menjadi salah satu yang jarang dilihat masyarakat padahal mampu menciptakan jutaan lapangan pekerjaan.

Salah satu yang banyak dibahas adalah mengenai pemutusan kontrak kerja. Jika sebelumnya perusahaan akan memberikan pesangon sebanyak 32 kali gaji. Namun, Luhut menyempaikan bahwa hanya ada 7-8% yang mampu melaksanakan. Dengan Omnibus Law, perusahaan bisa memberikan 19 kali gaji, dan pemerintah enam kali dengan total keseluruhan 25 kali.

"Tapi hampir pasti diterima, paling tidak enam kali itu diberikan. Karena pemerintah memberikan garansi," imbuh Luhut.

Baca Juga:Luhut Sesalkan Pejabat Hadiri Kerumunan di Ruma Rizieq, Gubernur Anies Kah?

Meskipun hanya diberikan 25 kali dan berkurang dari jumlah sebelumnya, namun Luhut hampir bisa memastikan jika akan banyak perusahaan yang bisa memberikan. Termasuk enam kali gaji dari pemerintah yang sudah pasti terjamin diberikan. Setidaknya lebih dari 7% perusahaan yang akan memberikan karena dinilai angka yang diwajibkan lebih masuk akal.

Luhut juga menyebutkan, bahwa nilai tambah dalam industri sebagai hal yang penting. Jika semua orang bisa disiplin dan kerja tim yang baik, angka impor minyak mentah akan mengalami penurunan seperti yang ada saat ini. Mulai dari B20 hingga saat ini menjamah pada B30. Nilai tambah industri saat sudah bisa merambah pada ekspor kendaraan sebanyak 4 Milyar Dolar untuk mobil roda empat.

Indonesia punya cadangan yang cukup untuk menjadi pemain kunci dalam industri Baterai EV. Luhut menyampaikan bahwa apa yang dia paparkan bukanlah sebuah mimpi namun merupakan sesuatu yang sedang berjalan. Negara memiliki potensi untuk membuat produksi baterai litium. Luhut menyebutkan pihaknya akan menggunakan nikel.

"Kita akan masuk pada global supply chance dari banyak materi yang saya sebutkan," terangnya.

Dengan hal itu, Luhut menyampaikan bahwa bangsa Indonesia tidak hanya bergantung pada ekspor barang-barang mentah tapi juga produksi barang jadi. Strateginya, negara akan berteman dengan negara manapun. Hal itu sudah dikerjakan selama beberapa waktu lalu hingga saat ini sudah mencapai beberapa fasilitas yang tidak didapat negara lainnya.

Baca Juga:Habib Rizieq Tak Jalani Karantina, Luhut: Tidak Ada Dispensasi

Luhut menyebutkan bahwa masyarakat terkadang menutup mata dari kemajuan yang ada di beberapa sisi dengan kepemimpinan yang jelas. Sementara di luar negeri Indonesia justru mendapatkan apresiasi dari beberapa pihak dan disebut melakukan berbagai hal yang dipresentasikan secara jelas dan dilakukan secara profesional.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

News

Terkini

Tampilkan lebih banyak