Menunggu Gawe Merapi, Begini Cerita Warga Selama Dua Bulan di Pengungsian

Dua bulan lebih warga di lereng Merapi mengungsi dari rumahnya. Sementara situasi di Merapi hingga saat ini masih fluktuatif.

Galih Priatmojo | Hiskia Andika Weadcaksana
Rabu, 06 Januari 2021 | 12:07 WIB
Menunggu Gawe Merapi, Begini Cerita Warga Selama Dua Bulan di Pengungsian
Para pengungsi yang menikmati makanan yang telah dibungkus oleh para relawan di barak pengungsian Glagaharjo, Kamis (12/11/2020). [Hiskia Andika Weadcaksana / SuaraJogja.id]

Pihaknya juga telah melihat kesediaan sumber air, kualitas airnya, kebutuhan pokok lain, serta dapur umum di barak pengungsian beberapa waktu lalu. Semuanya kini telah berjalan dengan baik untuk mencukupi kebutuhan para pengungsi. 

Wisnu menyebut jika lansia yang ada di barak pengungsian itu bukan membutuhkan posyandu. Melainkan pendampingan secara khusus dengan bekerja sama dengan relawan yang ada. 

Kondisi warga di pengungsian Balai Kalurahan Glagaharjo, Kapanewon Cangkringan, Kabupaten Sleman, Minggu (8/11/2020). - (SuaraJogja.id/Uli Febriarni)
Kondisi warga di pengungsian Balai Kalurahan Glagaharjo, Kapanewon Cangkringan, Kabupaten Sleman, Minggu (8/11/2020). - (SuaraJogja.id/Uli Febriarni)

Para lansia nanti akan diajak untuk berkegiatan supaya mengurangi rasa jenuh saat berada di pengungsian dalam waktu yang cukup lama. Semisal senam sehat di pagi hari serta kegiatan lainnya. 

Hal itu berlaku juga kepada balita yang berada di barak pengungsian. Sudah seharusnya ada penanganan khusus dengan penyesuaian balita di tempat yang memang masih asing bagi mereka.

Baca Juga:Berstatus Siaga, Merapi Menunjukan Peningkatan Aktivitas

"Jadi memang penanganan khusus itu lebih dari sekadar menjalankan posyandu saja. Namun lebih dari itu. Walaupun untuk pelayanan posyandu semacam pengecekan bagi balita segala macam sudah berjalan juga dalam beberapa waktu," tuturnya.

Lebih lanjut terkait posyandu memang kondisinya akan selalu fleksibel. Artinya petugas juga akan menyesuikan dengan keadaan yang ada. Namun memang hal itu sudah mulai berjalan.

Mengantisipasi lonjakan pengusi jika memang terjadi hal-hal yang tidak diinginakn, pihaknya juga telah berkoordinasi dengan berbagai instansi terkait. Selain itu telah dipersiapkannya posko-posko pengungsian yang lebih dari satu juga akan mempermudah penugasan atau pemantauan tersebut.

"Anggaran desa masing-masing nanti bisa digunakan selain kita juga ada anggaran sendiri. Kalau kita total anggaran untuk kesehatan masyarakat (kesmas) kemarin mencapai Rp. 25 juta lebih. Komplit untuk segala macam teknis yang dibutuhkan. Terkait juga pemberian makanan tambahan (pmt) berupa telur dan abon," ungkapnya.

Ditambahkan Wisnu bahwa koordinasi terus dilakukan dengan dinas-dinas terkait lainnya. Sebagai langkah antisipasi dari terjadinya penganggaran dana yang ganda atau overlap dalam menjalankan tupoksi masing-masing. 

Baca Juga:Gunung Merapi Semburkan Material Diduga Lava Pijar

Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta terhitung sejak Kamis (5/11/2020) lalu menaikkan status aktivitas Gunung Merapi Waspada (Level II) menjadi Siaga (Level III). Seiring dengan peningkatan status itu, sekaligus ditetapkan bahwa radius bahaya akibat erupsi Gunung Merapi menjadi 5 km dari puncak. 

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

News

Terkini

Tampilkan lebih banyak