SuaraJogja.id - Sebanyak 80 personel yang tergabung dari Basarnas, relawan SAR, serta polisi air (polair) masih melakukan pencarian korban hilang di muara Sungai Opak, Selasa (2/2/2021). Korban bernama Suhardi (43) hanyut terseret aliran air saat menambang pasir.
Humas Basarnas Yogyakarta Pipit Eriyanto menerangkan, pencarian korban dilakukan dengan menerjunkan tiga jet ski. Pencarian diperluas ke Pantai Parangkusumo dan Pantai Samas.
Saat ini pihaknya membagi 6 SRU untuk mencari korban lewat jalur darat dan 1 SRU melalui jalur laut.
"Pencarian di jalur laut dilakukan dengan menurunkan 3 jet ski air. Dua milik Basarnas dan satu milik Polair. Pencarian jalur laut dilakukan tentatif sesuai kondisi (cuaca dan ombak). Untuk sementara dua jet ski yang kami fungsikan," kata Pipit dihubungi wartawan, Selasa.
Baca Juga:Pencarian Penambang Hilang Diperluas ke Pantai Parangkusumo dan Samas
Ia menambahkan lima SRU di jalur darat dengan masing-masing 15 personel menyisir dari pantai Depok ke timur hingga Pantai Pelangi dan Parangtritis.
"Selain ke timur, pencarian juga dilakukan ke arah barat dari Muara Sungai Opak hingga ke Pantai Samas," jelas Pipit.
Hingga pukul 15.20 WIB, pencarian korban masih dilakukan. Satu SRU fokus menyisir lokasi di wilayah Sungai Opak.
"Kami juga menerjunkan 5 personel untuk mencari korban di muara sungai opak. Hingga kini belum menemukan tanda-tanda korban," jelas dia.
Sebelumnya diberitakan dua orang warga Kretek, Bantul melakukan penambangan pasir yang diduga secara ilegal di muara Sungai Opak. Dua penambangan yang disinyalir melakukan aktivitas tanpa izin ini, terseret aliran air lantaran berdekatan dengan pertemuan laut dan sungai.
Baca Juga:Selamatkan Penambang Pasir di Sungai Opak, Hendri Nyaris Tergulung Ombak
Korban bernama Suhardi dinyatakan hilang karena memilih menyelamatkan diri dengan menerjang aliran air di Sungai Opak. Sementara satu korban bernama Waluyo masih bertahan di atas kapal yang mulai tenggelam.
Tim penyelamat sekaligus relawan SAR bernama Hendri Triyono, Hendri Triyono, harus bertaruh nyawa. Pasalnya dia memilih menerjang ke laut daripada berenang ke tepian di sekitar muara sungai untuk menyelamatkan Waluyo.
"Lokasi kejadian itu merupakan pertemuan antara laut dan muara. Pukul 05.00 wib, kondisi laut masih surut tetapi kondisi aliran muara menjadi deras. Sehingga berbahaya beraktivitas di sana," kata Hendri ditemui wartawan di Pantai Depok, Kapanewon Kretek, Kabupaten Bantul, Senin (1/2/2021).
Terpisah, kakak ipar Waluyo, Eko Murtoyo (55) mengatakan saat peristiwa terjadi, banyak pekerja tambang lain yang beraktivitas di sekitar muara Sungai Opak. Saat kejadian pekerja tidak berani menolong lantaran tak memiliki alat yang memadai.
"Lokasi tempat adik saya menambang ini berbahaya, karena pertemuan antara aliran sungai dan laut. Tetapi saya heran mengapa mereka sampai mendekat ke sana," kata Eko.
Hingga saat ini, tim SAR gabungan masih melakukan pencarian. Humas Basarnas Yogyakarta menambahkan jika kondisi laut saat ini cukup baik.