Jogja Sudah Kosmopolit Sejak Berdiri, Intoleransi Tak Seharusnya Terjadi

Pandemi banyak mengubah nilai-nilai luhur budaya Jawa di Yogyakarta

Galih Priatmojo
Jum'at, 19 Maret 2021 | 07:20 WIB
Jogja Sudah Kosmopolit Sejak Berdiri, Intoleransi Tak Seharusnya Terjadi
pegiat seni asal Yogyakarta, Paksi Raras Alit dalam Diseminasi Nilai Budaya Menumbuhkan Solidaritas Masyarakat di 101 Hotel, Kamis (18/03/2021). [Kontributor / Putu Ayu Palupi]

SuaraJogja.id - Maraknya kasus intoleransi di masa pandemi COVID-19 di Yogyakarta seperti penolakan pemulasaran jenasah atau perusakan makam pasien COVID-19 mestinya tak perlu terjadi. Bila merunut sejarah berdirinya Yogyakarta, kota ini sudah kenal dengan keberagaman.

Alih-alih mengutamakan kekerasan, warga Yogyakarta pun seharusnya tak perlu gumunan (kagetan-red). Karena jejak sejarah membuktikan, Yogyakarta sudah kosmopolit.

"Ketika keraton berdiri dan menjadi jogja, hanya kacek (selisih-red) beberapa waktu kemudian ada benteng Belanda. Tiba-tiba setelah itu banyam bangunan yang beragam dibangun. Ini seharusnya bisa jadi bekal sejarah agar tidak gumun dengan keberagaman," papar pegiat seni asal Yogyakarta, Paksi Raras Alit dalam Diseminasi Nilai Budaya Menumbuhkan Solidaritas Masyarakat di 101 Hotel, Kamis (18/03/2021).

Sebagai bagian dari warga dunia yang mengglobal sejak dulu, nilai-nilai toleransi dan tepa selira mestinya tertanam dalam keseharian dan saat bertemu dengan beragam komunitas. Toh nenek moyang orang Yogyakarta saja sudah bisa toleransi dan menerima keberagaman.

Baca Juga:Tutup Setelah 15 Tahun, Karyawan Centro Amplaz Jogja Pamit

"Mbah-mbah kita saja bisa tepa selira, masak kita tidak. Seharusnya toleransi ini menjadi sikap orang Jawa," tandasnya.

Sementara Ketua Prodi Kajian Budaya Universitas Sanata Dharma, Tri Subagyo, mengungkapkan Yogyakarta yang kental akan ragam budaya yang majemuk, memiliki nilai-nilai luhur budaya Jawa yang termanifestasikan dalam kehidupan dan keseharian masyarakat. Namun pandemi mengubah banyak nilai tersebut

"Pandemi membuat perubahan yang sangat fundamental dan sangat mendasar di masyarakat, misal beberapa penjemputan jenazah terjadi, dan penolakan wilayahnya menjadi tempat pemakaman korban covid," ungkapnya.

Yogyakarta mestinya bisa mengkomunikasikan berbagai persoalan dan mencarikan jalan keluarnya. Ada simpul yang punya kekhasan meredam konflik-konflik yang biasa sangat mudah terjadi di daerah lain.

Kelompok kesenian, seniman dan budayawan merupakan simpul yang bisa meredam konflik. Mereka punya cara tersendiri untuk menanggapi dan menyampaikan kembali berita-berita yang belum tentu benar sehingga dapat mendinginkan konflik.

Baca Juga:Centro Amplaz Jogja Tutup, Pengunjung Mal Hanya Bisa Intip Toko dari Luar

"Dari pertunjukan wayang contohnya banyak melahirkan ajaran toleransi. Walau saat kaum millenial tidak lagi menonton wayang, namun banyak ajaran serupa di film-film yang bisa dipetik ajaran baiknya," imbuhnya. 

Kontributor : Putu Ayu Palupi

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Indonesia Kelas 12 SMA Lengkap dengan Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pilih Satu Warna, Ternyata Ini Kepribadianmu Menurut Psikologi
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 16 Soal Bahasa Indonesia untuk Kelas 9 SMP Beserta Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Cek Chemistry, Kalian Tipe Pasangan Apa dan Cocoknya Kencan di Mana Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Cek Jodoh Motor, Kuda Besi Mana yang Paling Pas Buat Gaya Hidup Lo?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Jika Kamu adalah Mobil, Kepribadianmu seperti Merek Apa?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Love Language Apa yang Paling Menggambarkan Dirimu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Tahu Kalian Tentang Game of Thrones? Ada Karakter Kejutan dari Prekuelnya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kalau Masalah Hidupmu Diangkat Jadi Film Indonesia, Judul Apa Paling Cocok?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Satu Frekuensi Selera Musikmu dengan Pasangan?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA Kelas 12 SMA Soal Matematika dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini

Tampilkan lebih banyak