alexametrics

Pilihan Terpopuler News Lifestyle Indeks

Pantau Posko PPDB, Forpi Temukan Banyak Penanya dari Jenjang SMA

Eleonora Padmasta Ekaristi Wijana | Mutiara Rizka Maulina Rabu, 09 Juni 2021 | 19:00 WIB

Pantau Posko PPDB, Forpi Temukan Banyak Penanya dari Jenjang SMA
Wali murid calon peserta didik bertanya mengenai proses PPDB di Posko Disdikpora Kota Yogyakarta. - (SuaraJogja.id/Mutiara Rizka)

Dari pantauan hari pertama, Rabu (9/6/2021) pukul 10.52 WIB susah ada 553 siswa yang memilih sekolah.

SuaraJogja.id - Forum Pemantau Independen (Forpi) Kota Yogyakarta melakukan pantauan ke Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) untuk melihat proses Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) hari pertama. Dalam kegiatan tersebut, justru ditemui banyak wali murid yang mencari informasi mengenai proses PPDB tingkat SMA/SMK.

Saat ini, jalur PPDB yang dibuka adalah untuk bibit unggul, yakni bagi siswa lulusan SD yang ingin melanjutkan ke jenjang SMP. Kuota yang diberikan yakni sebesar 10 persen, atau mencakup sekitar 340 siswa. Sedangkan junlah peserta dari jalur ini ada 740 anak. Dari pantauan hari pertama, Rabu (9/6/2021) pukul 10.52 WIB susah ada 553 siswa yang memilih sekolah.

Anggota Forpi Kota Yogyakarta, Baharuddin Kamba mengatakan bahwa dari pantauan hari pertama dinyatakan proses PPDB berlangsung dengan lancar. Tidak ada masalah yang berarti. Beberapa kendala yang dihadapi sudah bisa diantasipasi oleh pihak Disdikpora. Masalah yang ditemukan tadi, juga disebut terjadi pada pendaftaran tahun sebelumnya.

"Dari hasil pantauan kami hari ini yaitu untuk proses bibit unggul itu berjalan dengan lancar," kata Kamba saat ditemui usai pantauan di Kantor Disdikpora Kota Yogyakarta.

Baca Juga: Pendaftaran PPDB Sumut 2021 Diperpanjang

Proses PPDB jalur bibit unggul akan berlangsung selama dua hari sampai Kamis (10/6/2021). Kamba menyebutkan bahwa pihaknya akan melakukan pantauan sampai selesai. Bukan hanya di jalur ini tapi juga jalur lainnya seperti zonasi dan afirmasi. Kedepannya, Forpi juga akan melakukan pantauan sekolah, khususnya ke SMP 15 dengan jumlah kuota dan peminat tinggi.

Kedatangan Forpi ke Disdikpora sendiri dilatarbelakangi fakta, bahwa meskipun pendaftaran dilakukan secara daring namun pasti ada orangtua yang datang untuk mencari informasi. Seperti salah satu wali murid dan putrinya yang datang karena tidak bisa log in
Sementara kesempatan masuk ke sekolah impian melalui jalur bibit unggul sayang untuk dilewatkan.

Selanjutnya Kamba berpesan agar informasi terkait PPDB bisa disosialisasikan secara masif. Jangan sampai masyarakat dibuat bingung. Dari pantauannya, kebanyakan orangtua yang hadir ke posko PPDB Disdikpora adalah wali untuk jenjang SMA dan SMK. Kemudian diarahkan untuk mengunjungi posko Disdikpora DIY.

"Memang informasi soal PPDB tingkat SMA-SMK itu jadi penting ya. Jangan sampai nanti masyarakat bingung," katanya.

Kamba menambahkan agar peraturan untuk PPDB tingkat menengah ke atas segera diselesaikan dan disosialisasikan dengan baik. Jangan sampai, peraturan baru selesai dalam tenggat waktu yang mepet. Namun, ia juga bersyukur dengan keberadaan Perwal No 37 tahun 2021 yang mengatur PPDB untuk jenjang SD dan SMP.

Baca Juga: Mulai Berjalan, PPDB Jalur Bibit Unggul Banyak Ditanyakan Wali Murid di Posko Disdikpora

Bukan hanya di posko milik Disdikpora. Dari posko PPDB yang dimiliki Forpi juga ditemukan kesamaan. Sejak dibuka Senin (7/6/2021) lalu, sudah ada sepuluh orang yang datang berkunjung. Semuanya menanyakan tentang informasi PPDB tingkat SMA/SMK. Ia sendiri tidak melarang masyarakat untuk melapor. Namun akan diarahkan ke Disdikpora DIY.

"Kalau masyarakat mengadu kita tidak melarang. Misal mereka minta informasi soal SMA kita arahkan ke Disdikpora DIY," terangnya.

Sementara itu, Kepala Disdikpora Kota Yogyakarta Budi Santosa Asrori menyampaikan bahwa mayoritas pertanyaan berkaitan tentang jalur bibit unggul. Banyak wali murid dan calon peserta didik yang kebingungan, lantaran dimilai untuk memilih sekolah meski nilai ASPD yang dijadikan acuan belum diketahui hasilnya.

"Bibit unggul ini memang seperti yang tahun 2019. Banyak yang menanyakan. Nilainya kan belum keluar," kata Budi.

Budi menjelaskan, mekanisme yang digunakan untuk jalur bibit unggul memang seperti itu. Berbeda dengan tahun sebelumnya yang tidak ada penilaian, sehingga nilai sudah diketahui terlebih dahulu. Tahun lalu, yang digunakan adalah nilai indeks dan rapor dari sekolah.

Ia menambahkan, strategi yang digunakan untuk jalur ini memang mendorong calon peserta didik untuk memilih sekolah yang disukai terlebih dahulu meskipun nilai ASPD belum keluar hasilnya. Sebab, jalur bibit unggul merupakan bonus bagi anak-anak yang berprestasi untuk melaksanakan seleksi.

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait