alexametrics

Pilihan Terpopuler News Lifestyle Indeks

Kepala BNPB: Kalau Rumahnya Tidak Penuhi Syarat Isoman, Lebih Baik ke Isolasi Terpusat

Galih Priatmojo | Hiskia Andika Weadcaksana Selasa, 27 Juli 2021 | 21:55 WIB

Kepala BNPB: Kalau Rumahnya Tidak Penuhi Syarat Isoman, Lebih Baik ke Isolasi Terpusat
Ilustrasi Isolasi Mandiri (Shutterstock)

rumah yang tak penuhi syarat sebaiknya janga dipakai untuk isolasi mandiri

SuaraJogja.id - Ketua Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Letnan Jenderal TNI Ganip Warsito meminta masyarakat untuk lebih sadar dengan kondisi rumah masing-masing. Jika memang rumah yang ditempati orang terpapar Covid-19 itu tidak memungkinkan maka tidak perlu ragu untuk melakukan isolasi secara terpusat di selter.

"Kita mengajak, mengimbau, mensosialisasikan ke masyarakat supaya kalau rumahnya nggak memenuhi syarat untuk isolasi mandiri lebih baik diisolasi terpusat," tegas Ganip saat berkunjung ke Kantor BPBD DIY, Selasa (27/7/2021).

Menurut Ganip, semua yang dibutuhkan masyarakat atau pasien yang terpapar Covid-19 saat melakukan isolasi terpusat itu sudah akan terpenuhi dengan baik. Berbeda dengan jika yang bersangkutan memilih isolasi mandiri (isoman) di rumah.

Kebutuhan seperti obat-obatan hingga pengawasan baik dari dokter atau perawat juga telah tersedia. Sehingga seharusnya sudah tidak ada alasan lagi masyarakat yang terpapar Covid-19 untuk ragu menuju isolasi terpusat.

Baca Juga: Tanggulangi Kelangkaan, 3 Generator Oksigen Siap Dibangun di DIY

"Karena diisolasi terpusat itu tempatnya sudah disiapkan dengan baik. Dokter, perawat disiapkan, obat-obatan disiapkan. Terus treatment-treatment lainnya untuk memulihkan kondisi juga sudah disiapkan sehingga akan lebih baik," ujar pria yang juga menjabat Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) itu.

Disampaikan Ganip, masyarakat perlu untuk menaruh perhatian lebih terkait persyaratan jika memang harus menjalani isoman. Pemisahan antara yang sehat dan sakit menjadi konsep utama dalam pelaksanaan isolasi tersebut.

"Isolasi mandiri ini kan harus memenuhi persyaratan. Konsepnya supaya enggak nular itu kan orang harus diisolasi, harus dipisahkan yang sakit dan yang tidak sakit supaya tidak terjadi penularan. Nah isoman mempersyaratkan harus memenuhi syarat. Dia punya kamar sendiri, kamar mandi sendiri sehingga tidak campur dengan yang lain," tuturnya.

Ganip tidak memungkiri penanganan Covid-19 memang sesuatu yang kompleks. Pasalnya penanganan pencegahan itu dimulai dari tingkat tertinggi antar negara, antar wilayah hingga ke tingkat yang paling rendah yakni tingkat desa baik RT dan RW.

Menurutnya bagian hulu yang harus terus dibenahi hingga akan berpengaruh pada hilir. Dalam artian masyarakat di bagian hulu harus terus meningkatkan kedisiplinan protokol kesehatan pencegahan penularan Covid-19.

Baca Juga: Kekurangan Tenaga untuk Tangani Covid-19, Pemda DIY Minta Bantuan Kampus Sediakan Nakes

Harus ada kolaborasi yang baik antara hulu dan hilir. Sebab terjadinya peningkatan kasus akan selalu menjadi atensi dari pemerintah untuk mengurai masalah yang ada.

"Ini dugaan kita, masyarakat kita hidup di komunitas yang budaya saling silaturahmi, kalau bahasane Pak Sekda [DIY] mangan ora mangan kumpul. Nah ini yang kita urai," ungkapnya.

Sementara itu Wakil Komandan Tim Reaksi Cepat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (TRC BPBD) DIY Indrayanto menyatakan berdasarkan data terbaru tepatnya sejak tanggal 1 Juli hingga 25 Juli 2021 saat ini ratusan orang meninggal dunia saat menjalani isoman.

"Data yang terlapor sampai tanggal 25 Juli 2021 total ada 639 meninggal isoman di rumah dan yang meninggal di rumah sakit itu ada 1,831. Jadi kalau ditotal dengan yang lain-lain itu maksudnya ini masih ada dalam proses kegiatan itu sekitar 2.517, pada 1 Juli sampai dengan 25 Juli," kata Indra.

Indra menuturkan jumlah kasus kematian itu melonjak sangat drastis dibandingkan dengan bulan Juni lalu. Bahkan peningkatan mencapai lebih dari lima kali lipat.

"Itu yang membedakan antara Juli dengan Juni, kalau Juni itu hanya 500 sekian begitu masuk Juli sampai tanggal 25 sudah 2500 sekian, berarti ada [peningkatan] 5 kali lipat antara Juli dan Juli kenaikannya," ungkapnya.

Indra memastikan semua pasien meninggal yang terdata itu sudah dinyatakan infeksius atau terpapar Covid-19. Baik dibuktikan dengan postif swab antigen atau PCR.

"Iya [ositif antigen atau PCR] kalau yang kita tangani sudah ada surat keterangan infeksius. Jadi yang kita tangani itu yang meninggal yang dia dicek memang infeksius," tandasnya.

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait