Dibungkam di Bawah Jembatan Kewek
Tepat pukul 10.30 WIB, lima pemuda menyeberangi jalan di bawah Jembatan Kewek, Kota Jogja. Sambil menenteng sejumlah kaleng cat dan beberapa pilox, kelimanya langsung menuju tembok besar yang berada di timur jembatan setempat, Sabtu (21/8/2021).
Para seniman yang tergabung dalam komunitas Forum Jogja Street Art ini bergantian menyapukan kuas catnya ke tembok Jembatan Kewek menggambar serangkaian huruf. Salah seorang pemuda lainnya tampak memberi arahan. Ia sesekali memperhatikan lokasi sambil terus menyelesaikan lukisan muralnya.
Bamsuck, satu dari lima seniman yang terlibat kemudian terlihat menyesap batang rokok yang tinggal setengah jari, lalu membuang puntungnya tanda memastikan bahwa muralnya selesai. Ia kemudian meninggalkan lokasi bersama empat seniman lainnya. Foto dan video dokumentasi juga sudah disimpan dalam kamera handphone mereka masing-masing.
Baca Juga:Ramai Soal Penghapusan Mural di Jembatan Kewek, Begini Respon Walikota Jogja
"Ya sudah akhirnya kita selesaikan karya itu, karena kami juga ingin menyuarakan kegelisahan kami pada situasi saat ini. Kami hanya ingin bersuara karena kami rakyat yang punya hak berekspresi," kata Bamsuck menceritakan kembali bagaimana dia dan empat rekannya menyelesaikan lukisan muralnya ditemui SuaraJogja.id di jalan Menteri Supeno, Umbulharjo, Kota Jogja, Jumat (27/8/2021).
![Seniman mural Bamsick. [Muhammad Ilham Baktora / SuaraJogja.id]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2021/08/28/78486-seniman-mural-bamsick.jpg)
Sesaat kemudian, notifikasi pesan WhatsApp-nya berdenting. Saat dicek, video sejumlah petugas berompi hijau lime tampak sedang mengecat putih mural yang dia buat bersama rekan-rekannya. Bamsuck mengaku tak menyangka mural yang dibuat selama tiga jam itu seketika lenyap dihapus aparat
"Akhirnya saya melintas, dan iya benar dihapus. Baru kali ini karya saya dihapus, kenapa hanya sebuah mural sampai segitunya dihapus?, Padahal bukan kriminal," ucap Bamsuck.
Ekspresi kesal tergambar dari raut wajah pria kelahiran Jogja tahun 1993 itu. Menurutnya kata yang terlukis di muralnya hanya pesan dan suara kegundahan warga saat situasi sekarang.
Tak jera, mural berisi kritik kembali ia buat pada Senin (23/8/2021) pagi sekitar pukul 05.00 WIB. Setelah tembok diubah menjadi warna putih bersih, Bamsuck seorang diri menulis kalimat "Bangkit Melawan atau Tunduk Ditindas".
Baca Juga:Mural di Jembatan Kewek Dihapus Aparat, Seniman Sebut Kurang Kerjaan
Tapi, lagi-lagi seakan latah dengan tindakan penghapusan mural di beberapa daerah lain, mural buatan Bamsuck tak bertahan lama. Sekira pukul 12.30 WIB pada hari yang sama, petugas Satpol PP Kota Yogyakarta menghapus tulisan tersebut.