Sebenarnya meski telah menduga sebelumnya akan ada proyek tol yang bakal digarap. Tetapi ia tetap merasa kaget dan yidak percaya ternyata pihaknya juga ikut terdampak.
Sebab dulu rencana awal proyek tol itu tidak akan memakan rumahnya saat ini. Walaupun tetap akan mengenai sejumlah bidang tanah warisannya tapi tidak disangka akan terdampak sebesar sekarang.
"Iya (kaget) tapi ya kalau misalkan lewat sana (rencana awal tol) ya tetap ada tanah saya yang kena juga cuma tidak seluas yang kena sekarang ini," paparnya.
Guru SMAN Seyegan itu sendiri saat ini telah menerima kompensasi atau ganti rugi pembayaran jalan tol hingga mencapai Rp 10 miliar. Hasil itu didapat dari ganti rugi bidang tanah miliknya pribadi dan sang suami.
Baca Juga:Top 5 SuaraJogja: Karyawan Alfamart dan Indomaret Kompak, Miliarder Dadakan Beli Vila
"Jadi yang 2.400 meter persegi itu Rp 9 miliar lebih, dan lahan 500 meter persegi itu Rp 1,05 miliar itu milik suami," ungkapnya.
Ia menyatakan bakal memanfaatkan uang ganti rugi itu untuk mencukupi kebutuhan keluarganya dulu. Selain rumah pengganti, alokasi biaya pendidikan untuk anak dan investasi di masa mendatang yang paling utama saat ini.
"Kalau mindset saya dan anak-anak itu alokasi dana untuk hal penting dan krusial contohnya tadi rumah yang hilang harus punya pengganti rumah. Kemudian kan kita ngga ngerti kapan digusur. Intinya apa yang paling pokok dibutuhkan itu yang kita kejar dulu," tegasnya.
Sementara itu Jogoboyo (Kasi Pemerintahan) Kalurahan Tirtoadi Heky Prihantoro mengatakan pembebasan lahan warga untuk proyek pembangunan jalan tol jangan hanya dipandang sebagai suatu yang menguntungkan saja. Tetapi ada sisi lain yang juga dirasakan warga.
"Warga ini juga sudah susah. Jangan hanya memandang warga terima uang miliaran," kata Heky.
Baca Juga:Muncul Banyak Miliarder Baru di Sleman, Sri Sultan Beri Pesan Ini
Menurutnya jika diberi pilihan warga juga bakal memilih untuk tidak terdampak tol. Sehingga mereka tidak perlu pindah dari tanah dan rumah yang mereka tempati lebih dari puluhan tahun.