Cerita Kader Pangan BPPOM Asal Prambanan, Ajak warga Hindari Boraks hingga Dapat Nyinyiran

BPOM bentuk kader Duta Keamanan Pangan

Galih Priatmojo | Muhammad Ilham Baktora
Sabtu, 11 September 2021 | 11:24 WIB
Cerita Kader Pangan BPPOM Asal Prambanan, Ajak warga Hindari Boraks hingga Dapat Nyinyiran
Siti Nurhayati kader keamanan pangan Gendarku Bebas Boraks (GeBer) BBPOM DIY memberi keterangan pada wartawan ditemui di kantor BBPOM, Kota Yogyakarta, Jumat (10/9/2021). [muhammad ilham baktora / suarajogja.id]

Tak jarang saat sosialisasi dia mendapat gunjingan. Bahkan nyinyiran karena pendapatnya tak disetujui dengan orang lain.

Penggunaan boraks sudah cukup lama dilakukan di desanya. Apalagi dengan boraks adonannya lebih mudah dibentuk. Berbeda dengan penggunaan tepung kanji yang butuh waktu untuk mengolah gendar.

"Kalau keawetannya memang lebih baik pakai tepung kanji, memang saat memipihkan atau membentuk adonan harus pakai tenaga lebih. Nah kalau pakai boraks kadang kan rasanya agak pahit dan getir," ujar dia.

Salah seorang duta keamanan pangan GeBer BBPOM DIY, bernama Elmawati (31) menyebut sebelumnya banyak warga yang memakai boraks untuk membuat gendar.

Baca Juga:BPOM Berikan Izin Darurat Vaksin Janssen dan Covidecia, Berapa Efikasinya?

"Ya boraks itu masih sering digunakan. Memang saat ini masih ada dan dijual di pasar. Sosialisasi ini kami lakukan terus agar mereka memahami," ungkap Elma ditemui di Kantor BBPOM DIY.

Elma juga tak jarang disindir dengan upaya yang mereka lakukan, yakni mengubah kebiasaan buruk menjadi lebih baik. Kendati demikian dirinya tak pernah menganggap serius dan memilih membiarkan saja.

"Tujuannya kami baik ya, harapannya kan bisa diterima oleh mereka. Tapi sosialisasi yang gendar ini sudah sejak lama, tapi memang mulai disiapkan oleh BBPOM DIY dan dibuat inovasi GeBer pada Juni 2021 lalu," terang dia.

Salah seorang kader keamanan pangan lainnya, Tri Astuti (51) mengatakan bahwa sasaran program inovasi GeBer ini adalah warga yang masih menggunakan boraks untuk membuat gendar. Warga desa Madurejo, Kemantren Prambanan itu harus berkali-kali mengingatkan bahayanya kandungan boraks kepada tetangga dia.

"Jadi sosialisasi ke warga ini kami lakukan saat ada rapat atau pertemuan ibu-ibu PKK. Selain itu duta keamanan pangan yang ditunjuk juga mengingatkan saat kita berbincang-bincang sore," ujar dia.

Baca Juga:BPOM Periksa Makanan yang Dikonsumsi 3 Bocah Kakak Beradik Tewas di Solok Selatan

Saat ini, kata Tri sudah banyak pedagang dan penjual gendar di wilayahnya yang beralih ke tepung kanji. Sehingga potensi munculnya penyakit karena banyak mengonsumsi boraks bisa dikurangi.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

News

Terkini

Tampilkan lebih banyak