Awalnya Emi hanya bisa pasrah dengan kondisi tubuhnya, namun mengingat ada kesempatan untuk sehat lagi, semangat itu kembali. Segala upaya seperti mengonsumsi obat tradisional ia lakukan.
"Ketumbar dan irisan bawang merah itu direbus, airnya saya minum, agak getir memang, tapi saya konsisten agar bisa pulih. Selain itu ada tambahan obat penurun tensi dari dokter. Harapannya bisa meredakan sakit itu," kata dia.
Tak hanya stroke, kekhawatiran akan terpapar Covid-19 juga menjadi pikirannya ketika itu. Bahkan sempat menduga adanya penyakit yang dia alami, besar kemungkinan ia mudah terpapar Covid-19.
Tak jarang ia mencoba menanyakan apakah orang seperti dirinya memiliki kesempatan untuk dapat vaksin.
Baca Juga:Wow, Vaksinasi Covid-19 di Indonesia Masuk 5 Besar Terbaik Dunia
"Apakah aman atau tidak orang sakit seperti saya boleh menerima vaksin. Karena dulu masih awam dan masih simpang siur soal vaksin ini, akhirnya saya masih urung divaksin," jelas dia.
Maraknya vaksinasi di bulan April 2021, dan bolehnya kelompok disabilitas mendapat vaksin, Emi ikut mendaftar. Tapi kondisi tubuhnya seakan menjadi penghalang karena harus datang ke tempat vaksinasi.
Tak jauh berbeda dengan sebelumnya, Emi memilih mengurungkan niatnya lagi untuk mendapat vaksin.
Meski sempat putus asa untuk menerima vaksin, harapannya kembali muncul. Menyusul dengan program Pemkot Yogyakarta dengan mendatangi rumah warga yang belum divaksin.
"Ya karena ingin sembuh sekaligus menghindari covid-19, saya sedikit bersyukur adanya p Hari ini akhirnya bisa divaksin," terang dia.
Baca Juga:Bangga! Salip Jepang, Vaksinasi Covid-19 Indonesia Peringkat Lima Dunia
Mendapat vaksin dosis pertama, Emi bisa sedikit lega. Selanjutnya pemulihan dari stroke sedang ia lakukan. Dia berharap dengan dukungan keluarga dan semangat untuk sembuh dia bisa beraktivitas seperti normal pada umumnya.