- Wahyu Aji Ramadan, lulusan hukum UGM 2024, harus bekerja sebagai ojek online sejak 2021 karena kesulitan biaya kuliah.
- Aji aktif mencari pengalaman tambahan di kampus dan magang, meraih berbagai prestasi akademik dan non-akademik signifikan.
- Berbekal pengalaman tersebut, Aji berhasil menjadi peneliti hukum nasional di Institute for Criminal Justice Reform (ICJR).
SuaraJogja.id - Jalan hidup orang memang tidak pernah ada yang tahu. Wahyu Aji Ramadan yang lulus dari Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada (UGM) pada akhir 2024 lalu dan harus banting tulang jadi ojek online (ojol) saat kuliah, kini berhasil menjadi peneliti bidang hukum di tingkat nasional.
Diterima UGM pada 2020, Aji mengaku hidupnya tak selalu mulus sejak awal menempuh pendidikan tinggi. Pergi dari tanah kelahirannya di Pati, Jawa Tengah untuk mengejar cita-citanya di UGM, Aji terpaksa harus menelan ludah karena tak mendapatkan beasiswa dari kampus tersebut.
"Pas diterima UGM tidak dapat beasiswa karena dianggap bukan keluarga miskin. UKT (Uang Kuliah Tunggal-red) pun lumayan besar sekitar Rp 6,75 juta per semester," papar Aji saat dihubungi Suarajogja.id, Kamis (5/2/2026).
Kondisi keuangan keluarga yang memburuk setelah satu tahun kuliah akhirnya membuat Aji berpikir mencari kerja sampingan yang tak mengganggu kuliahnya. Dia pun akhirnya memilih jadi ojol pengantar makanan di tahun keduanya pada 2021.
Baca Juga:MUI DIY Terbitkan Seruan Jelang Ramadan 1447 H, Soroti Potensi Perbedaan Awal Puasa
Ia mengatur waktu secara fleksibel antara kuliah dan bekerja. Jika jadwal kuliah pagi, siang hingga malam ia gunakan untuk mencari pesanan.
Sebaliknya bila kuliah siang, pagi hari dimanfaatkan Aji untuk bekerja. Kawasan Kaliurang, Pogung, hingga Kotabaru menjadi area yang kerap ia lalui.
Penghasilan sebagai pengemudi ojol pengantar makanan tidak selalu menjanjikan. Dalam satu pesanan, Aji mengaku memperoleh komisi mulai dari Rp6.400 hingga Rp7.200, tergantung jarak tempuh.
Namun untuk mendapatkan orderan bukan perkara mudah. Ia pernah berkeliling seharian tanpa mendapat satu pun pesanan terlebih saat akun masih baru. Berbagai risiko pun tak terhindarkan saat jadi bekerja.
"Saya pernah muter dari Jalan Magelang sampai Babarsari tapi tidak ada satupun yang nyantol," paparnya.
Baca Juga:Menjelajahi Kekayaan Rasa Durian Lokal: 7 Varietas Unggulan Asli Indonesia
Aji juga pernah mengalami orderan pelanggan jatuh di jalan dan harus mengganti rugi. Dia pun kerap hujan-hujanan demi mengejar bonus, panas-panasan mencari pesanan hingga ban motor bocor di jalan.
Tak jarang, kondisi fisik ikut tumbang. Pernah suatu waktu Aji jatuh sakit dan uang hasil narik ojol habis untuk membeli obat.
"Pernah dapat Rp150 ribu tapi karena hujan saya jadi demam duitnya habis untuk beli obat," paparnya.
Alih-alih menyerah, daya juangnya sebagai ojol membuatnya semangat mengembangkan diri. Dia mencari pekerjaan paruh waktu di Departemen Hukum Perdata Fakultas Hukum UGM.
Selain itu membantu pengelolaan jurnal, administrasi akademik hingga penyusunan bahan pembelajaran. Di kampus, Aji juga aktif berorganisasi. Ia tergabung dalam Forum Penelitian dan Penulisan Hukum (FPPH), ALSA Local Chapter UGM, Business Law Community (BLC), Speech and Law Debate Society serta menjadi pengurus UKM Tenis Lapangan UGM.
Dia juga magang di berbagai institusi hukum, mulai dari DPD RI Yogyakarta, kejaksaan, kantor hukum, notaris, lembaga bantuan hukum hingga lembaga riset. Bahkan sempat bekerja sebagai penulis konten yang membahas isu-isu hukum.