- Menjelang Ramadan 1447 H, harga sayuran dan cabai rawit naik signifikan di pasar tradisional DIY akibat curah hujan dan permintaan program MBG.
- Pedagang merespons kenaikan harga dengan mengurangi stok barang dan mengecilkan porsi jual demi menjaga minat serta stabilitas harga jual.
- Disperindag DIY menyatakan komoditas strategis lain stabil, namun melakukan operasi pasar dan pasar murah antisipatif untuk menekan gejolak harga.
SuaraJogja.id - Menjelang Ramadan 1447 Hijriah, harga sejumlah bahan pangan, terutama sayuran dan cabai rawit, merangkak naik di pasar tradisional di DIY. Kegelisahan pun mulai dirasakan para pedagang makanan dan sayuran.
Di Pasar Beringharjo, Ida, pedagang sayur mengaku kenaikan harga sudah terasa dalam dua pekan terakhir. Hampir seluruh jenis sayuran mengalami kenaikan, meskipun tidak semuanya melonjak tajam.
"Ada kenaikan, alau sayuran itu hampir semua naik, sekitar 80 persen. Kalau cabai-cabaian, yang naik itu cabai rawit," ujar Ida di Pasar Beringharjo, Rabu (4/2/2026).
Harga cabai rawit menjadi komoditas yang paling mencolok. Saat ini, harga cabai rawit telah menyentuh Rp75 ribu per kilogram. Padahal dua minggu sebelumnya masih berada di kisaran Rp35 ribu per kilogram.
Baca Juga:Jatah Makan Bergizi Gratis Jadi Menu Buka Bersama, Inovasi Ramadan di Sekolah Gunungkidul
"Dalam seminggu bisa empat kali naik," katanya.
Meski harga naik, Ida memastikan stok sayuran sejauh ini masih aman. Pasokan sayur-mayur yang dijualnya sebagian besar berasal dari wilayah Magelang. Namun beberapa jenis sayuran mulai sulit diperoleh di pasaran seperti brokologi dan kembang kol.
Sayuran yang sebelumnya tergolong murah kini ikut terkerek naik. Buncis, labu siam hingga pokcoy tidak lagi dijual dengan harga lama.
Curah hujan tinggi disebut menjadi faktor utama yang memengaruhi harga. Selain itu, meningkatnya permintaan juga ikut mendorong kenaikan, terutama sejak adanya program Makan Bergizi Gratis (MBG).
"Sayuran yang tadinya murah sekarang ikut naik. Itu pengaruh dari MBG, ditambah cuaca juga," jelasnya.
Baca Juga:1000 Porsi Buka Puasa Gratis di Masjid Syuhada Terancam Berhenti, Donasi Menipis
Fluktuasi harga ini justru tidak membuat pedagang merasa diuntungkan. Ida mengaku lebih senang jika harga stabil dibandingkan naik turun tajam.
"Kita lebih senang kalau harga stabil. Jangan terlalu berani spekulasi," tandasnya.
Untuk meminimalkan risiko kerugian, pedagang memilih mengurangi pasokan dan stok barang. Apalagi meski jumlah kunjungan relatif masih normal, namun volume belanja menurun.
"Pembelinya nggak berkurang, biasa saja. Cuma jumlah belinya dikurangi. Yang tadinya beli cabai rawit lima kilogram, sekarang cuma dua setengah kilogram," katanya.
Hal senada juga dirasakan Yanti, pedagang snack dan makanan siap saji yang memilih tidak menaikkan harga jual meski keuntungan semakin menipis. Di tingkat bawah, strategi bertahan dilakukan dengan cara mengurangi stok, mengecilkan porsi, hingga menyesuaikan belanja harian.
Menjelang Ramadan, ia memilih tidak menaikkan harga jual meski biaya bahan baku terus naik. Sebab menaikkan harga justru berisiko kehilangan pembeli.