Hidup dengan Cerebral Palsy, Pemuda Ini Jadi Pahlawan Bagi Keluarganya

Andika berharap pandemi segera usai agar bisa berjualan lancar seperti sedia kala

Galih Priatmojo
Selasa, 09 November 2021 | 13:40 WIB
Hidup dengan Cerebral Palsy, Pemuda Ini Jadi Pahlawan Bagi Keluarganya
Sosok Andika Indra Saputra. [solider.id]

“Kalau ada pesanan, saya mengantar sampai pagar. Tidak masuk ke dalam rumah. Pesanan saya centelkan di pagar, lalu saya memberi tahu melalui whatsapp. Pembayaran ditransfer. Ada yang transfer sebelum pesanan diterima, ada juga setelah pesenan diterima,” ujar Andika.

Menjaga asa

Anak pertama dari tiga bersaudara ini, lahir di Cirebon, 5 Oktober 1987. Menjadi difabel tidak dari lahir melainkan pada usia balita, 3 tahun, dimana saat itu iba-tiba badan panas tinggi lalu kejang-kejang. Andika kecil tidak pernah dibawa ke dokter. Orang tuanya  menganggap bahwa anaknya hanya butuh dibawa ke dukun diurut atau dijampi-jampi. Dengan kondisi yang sesungguhnya cerebral palsy, Andika juga tidak pernah mengenal terapi hanya dipijit oleh tukang urut.

Alhasil tangan dan kaki Andika semakin kaku, berbicara juga tidak begitu jelas. Demikian, Andika mengulang penuturan ibunya tentang kisah kedifabilitasannya. Namun Andika tak pernah menyalahkan keadaan. Dia bahkan merasa bersyukur, hingga di usia 34 tahun ini, dirinya masih sanggup berjuang dan berusaha.

Baca Juga:4 Penyebab Setelah Menikah Teman Menjadi Sedikit, Sadar Tidak?

Meski pendapatannya turun drastis, sementara 1 kilo gram susu harus dibeli untuk putrinya. Andika terus menyalakan asa. Untuk menambah penghasilan, Andika mengikuti sahabatnya, bernama Joko berkeling dari TK ke TK.

“Sudah enam bulan ini, saya ikut sahabat saya, Joko berkeling di sekolah-sekolah TK yang berada di wilayah Yogyakarta, Bantul, dan Sleman. Jika Joko menjual mainan dan alat peraga edukatif, saya menawarkan dagangan saya. Lumayan. Berkat Joko, saya bisa bertahan hidup di masa pandemi,” terang Andika. 

Saat ini, Andika mengikuti pelatihan menjahit. Pelatihan yang diselenggarakan oleh Dinas Sosial Boyolali, dan dipusatkan di Semarang. Pelatihan ini berlangsung selama satu minggu, harus tinggal di asrama.

"Dengan keterampian menjahit, aku yakin bisa meningkatkan pendapatan. Saya pengin pandemi ini cepat usai, cepat berakhir. Difabel yang punya usaha bisa bangkit dan berkarya lagi. Karya-karyanya dipasarkan bersama-sama para pengusaha lain. Jadi bisa saling belajar dan sharing,” ujarnya.

Andika pun menitip pesan bagi para difabel lainnya agar jangan merasa lelah, apalagi putus asa. Tetap semangat! Pandemi pasti akan berakhir, kita semua cepat bangkit meraih kesuksesan.

Baca Juga:Apa Makna Serangan terhadap Keluarga Veronica Koman?

Di akhir perbincangan, Andika membagikan cerita bahagianya yang lain dimana ia kini telah memiliki rumah sendiri. Sebuah rumah berukuran 6 x 10 meter. Di bangun di pekarangan mertua. Rumah tersebut adalah bantuan dari Komunitas Masyarakat Tawangsari (Komasta).

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

News

Terkini

Tampilkan lebih banyak