facebook

Pilihan Terpopuler News Lifestyle Indeks

Jejak Abdi Dalem Sebarkan Tradisi Minum Jamu di Yogyakarta: Dari Ginggang hingga Kiringan

Galih Priatmojo Rabu, 17 November 2021 | 12:55 WIB

Jejak Abdi Dalem Sebarkan Tradisi Minum Jamu di Yogyakarta: Dari Ginggang hingga Kiringan
Salah seorang karyawan kedai Jamu Ginggang menunjukkan salah satu produknya yakni jamu lelaki. [Galih Priatmojo / suarajogja.id]

tradisi menenggak jamu di wilayah Yogyakarta tak bisa dilepaskan dari resep Keraton yang disebarkan para abdi dalem

"Salah satunya untuk bahan rempah yang agak jarang disini yakni inggu, itu berasal dari tanaman di daerah India atau Balkan kalau ga salah. Itu jadi bahan pokok untuk jamu watukan," katanya.

Aneka produk jamu ginggang. [suarajogja.id]
Aneka produk jamu ginggang. [suarajogja.id]

Lebih lanjut Rudi mengungkapkan bahan dasar jamu yang berupa rempah-rempah didapat dari jaringan pedagang di Pasar Beringharjo yang merupakan pasar tertua di Yogyakarta. Pada masa kakek hingga ibunya, bahan rempah-rempah dipasok dari pedagang China yang berjualan aneka rempah tepatnya terletak di utara Pasar Beringharjo yakni kawasan Ketandan yang kni dikenal sebagai kampung pecinan di Yogyakarta.

"Zaman dulu kita disuplai bahan rempah-rempahnya sama orang china namanya Nyonya Kian Tiek yang jual di pasar Beringharjo yang sebelah utara tepatnya di kawasan Ketandan. Adas pulowaras, bengle, inggu dan macam-macam lainnya dari sana," terangnya.

Ia menyebut pengunjung kedai Jamu Ginggang saat awal berdiri didominasi para pedagang China hingga orang-orang Belanda pegawai pemerintahan. Sementara saat ini, selain masyarakat di sekitar Yogyakarta juga kerap disinggahi turis dari Prancis, Jepang dan Inggris.

Baca Juga: Staycation Semakin Nyaman di Hyatt Regency Yogyakarta dengan Fasilitas Ini

"Dulu yang beli itu tuan-tuan mister, selain itu ya pedagang china itu dan orang-orang pemerintahan. Kalau sekarang ya warga sekitar Yogyakarta, turis hingga para peneliti dari luar negeri," ucapnya.

Ritual pembuatan Jamu Ginggang

Untuk menjaga cita rasa dan khasiat Jamu Ginggang, sebelum memproses para peracik yang memasak wajib dalam kondisi bersih diri.

Yati (54) salah seorang peracik Jamu Ginggang mengungkapkan bahwa selain bahan-bahan jamu yang harus bersih, para peraciknya juga wajib dalam keadaan suci. Suci yang dimaksud yakni dalam kondisi sudah mandi bersih.

"Dahulu bahkan menurut cerita turun-temurun dari keluarga Mbah Joyo, abdi dalem sebelum meracik jamu selain bersih diri juga wajib bersih spiritual, maka ada pula yang puasa terlebih dulu sebelum mulai memasak," kata wanita yang sudah 30 tahun bekerja sebagai peracik jamu di Kedai Jamu Ginggang tersebut.

Baca Juga: Liputan Khusus: Menjegal Perdagangan Anjing di Yogyakarta

Untuk pengolahannya, lanjut Yati, Jamu Ginggang masih mempertahankan cara tradisional dengan proses ditumbuk, digerus, dipipis hingga dijur.

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait