Jejak Abdi Dalem Sebarkan Tradisi Minum Jamu di Yogyakarta: Dari Ginggang hingga Kiringan

tradisi menenggak jamu di wilayah Yogyakarta tak bisa dilepaskan dari resep Keraton yang disebarkan para abdi dalem

Galih Priatmojo
Rabu, 17 November 2021 | 12:55 WIB
Jejak Abdi Dalem Sebarkan Tradisi Minum Jamu di Yogyakarta: Dari Ginggang hingga Kiringan
Salah seorang karyawan kedai Jamu Ginggang menunjukkan salah satu produknya yakni jamu lelaki. [Galih Priatmojo / suarajogja.id]

"Beberapa waktu lalu sempat ada rombongan dari Jepang, Belanda, dan Malaysia. Ada sekitar tujuh home stay yang disiapkan kemarin," kata Sutrisno.

Sutrisno mengatakan jamu telah menjadi keberkahan tersendiri bagi warga Dusun Kiringan. Aktivitas meracik jamu telah membuka lapangan kerja dan turut menopang perekonomian warga. Lebih dari itu, aktivitas para peracik jamu di Kiringan secara nyata turut memberikan andil dalam melestarikan tradisi menenggak jamu di kawasan Yogyakarta dan sekitarnya.

Konektivitas Keraton, Abdi Dalem dan Pasar Beringharjo

Berdasarkan riwayat Kedai Jamu Ginggang hingga sentra jamu gendong di Dusun Kiringan, Prof Murdijati Gardjito tak memungkiri bahwa berkembangnya tradisi minum jamu di Yogyakarta tak bisa dilepaskan dari konektivitas keraton, para abdi dalem serta keberadaan Pasar Beringharjo.

Baca Juga:Staycation Semakin Nyaman di Hyatt Regency Yogyakarta dengan Fasilitas Ini

Ia menjelaskan, keraton sebagai pusat kekuasaan di masa lampau, memiliki akses besar untuk membiasakan diri mengonsumsi jamu. Hal itu karena didasarkan atas kebiasaan para keluarga keraton dalam usaha untuk menjaga kewarasan atau kesehatan, kemudian menjaga kecendekiawanannya serta penampilannya.

“Ketiga unsur inilah yang kemudian membentuk tradisi minum jamu di dalam lingkungan keraton,” terang Guru Besar Ilmu dan Teknologi Pangan UGM saat dihubungi beberapa waktu lalu.

Lebih lanjut, kebiasaan para keluarga keraton mengonsumsi jamu tersebut membuka pengetahuan para abdi dalemnya. Mereka menjadi tahu mengenai ragam resep jamu dan terampil dalam mengolah bahan-bahan rempahnya. Dari tangan mereka inilah kemudian resep-resep jamu itu tersebar ke luar beteng keraton.

Selain abdi dalem, distribusi jamu juga turut dilakukan oleh beberapa agen, salah satunya adalah tukang rempah-rempah. Profesi tukang rempah-rempah ini disebut pula dengan istilah craki yakni penjual sekaligus peracik obat.

Prof Murdijati Gardjito mengungkapkan profesi craki ini dahulu banyak ditemukan di kawasan Pasar Beringharjo sebelah utara, tepatnya sekarang di kampung Ketandan atau pecinan. Dahulu kawasan yang dikenal sebagai cikal bakal berdirinya perusahaan jamu Sido Muncul itu memang banyak ditemukan para pedagang sekaligus peracik obat termasuk jamu.

Baca Juga:Liputan Khusus: Menjegal Perdagangan Anjing di Yogyakarta

Selain craki, dukun bayi dan penjaja jamu gendong dan pikul atau yang disebut dengan wiku juga turut andil menyebarkan jamu terutama bagi kalangan kelas menengah ke bawah.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

News

Terkini

Tampilkan lebih banyak