alexametrics

Pilihan Terpopuler News Lifestyle Indeks

Kasus COVID-19 di DIY Kembali Tertinggi se-Indonesia, DIY Akan Hentikan PTM

Galih Priatmojo Jum'at, 26 November 2021 | 14:43 WIB

Kasus COVID-19 di DIY Kembali Tertinggi se-Indonesia, DIY Akan Hentikan PTM
Ilustrasi virus Corona Covid-19. (Shutterstock)

Penambahan kasus yang signifikan kembali terjadi dari Pembelajaran Tatap Muka (PTM).

SuaraJogja.id -  Kasus baru COVID-19 di DIY kembali meroket. Bahkan Satgas COVID-19 mencatat, DIY menempati peringkat pertama penambahan kasus harian terbanyak se-Indonesia dengan tambahan 79 kasus baru pada Kamis  (25/11/2021) kemarin. Disusul DKI Jakarta dengan 54 kasus, Jateng 45 kasus, Jabar 44 kasus dan Jatim 32 kasus. 

Penambahan kasus yang signifikan kembali terjadi dari Pembelajaran Tatap Muka (PTM). Dari hasil tes acak pada sejumlah siswa ditemukan kasus positf COVID-19.

Sebut saja 21 siswa dan guru yang terkonfirmasi positif di Sleman dari hasil tersebut. Selain itu 7 siswa SLB yang terpapar COVID-19. Pemda DIY pun menyampaikan tanggapanya terkait fenomena ini.

"Saya sudah ketemu dengan pak didik (kadisdikpora diy-red}, saya minta koordinasi dengan kepala dinas di kabupaten, penyebab [munculnya kasus-kasus baru]," ungkap Sekda DIY, Baskara Aji di Kompleks Kepatihan Yogyakarta, Jumat (26/11/2021).

Baca Juga: Ada Larangan Mudik Saat Nataru, Tempat Wisata di DIY yang Melebihi Kapasitas akan Ditutup

Menurut Aji, munculnya kasus-kasus baru COVID-19 di sekolah perlu dilakukan evaluasi. Fenomena tersebut muncul apakah dikarenakan kesalahan prosedur dalam penerapan aturan tes acak atau karena lengah dalam penerapan protokol kesehatan (prokes) di sekolah.

Bila sekolah sudah taat aturan namun masih saja kasus COVID-19 muncul, Pemda akan meminta PTM dihentikan sementara waktu untuk memutus mata rantai penularan.

"Karenanya kalau [kasus] terus muncul, nanti semakin banyak anak-anak bisa positif. Kita harus hati-hati betul. Kalau dari evaluasi karena ada kesalahan prosedur atau lengah ya kita off-kan lag [ptm]. Itu sangat mungkin," ujarnya.

Aji menambahkan, evaluasi juga diperlukan saat siswa sudah pulang sekolah.Sebab dari kasus yang muncul, kebanyakan merupakan siswa SMA/SMK yang mobilitasnya cukup tinggi setelah keluar dari sekolah.

Karenanya satgas di sekolah dan kabupaten/kota diminta untuk berkoordinasi dengan orang tua murid untuk memantau pergerakan anaknya. Anak-anak harus dipastikan bisa segera pulang setelah selesai PTM di sekolah.

Baca Juga: Para Eks WBP Lapas Pakem Gelar Aksi, Kanwil Kemenkumham DIY: Kami Jadikan Bahan Evaluasi

"Kalau jam pulangnya anak-anak jauh dari jadwal ptm, mereka kan bisa saja dolan dulu. Nah sangat mungkin kan mereka [terpapar covid-19] saat dolan.  Ini bagian yang harus dievaluasi,ini jadi pekerjaan rumah orang tua bahwa anak harus pulang tepat waktu," ungkapnya.

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait