SuaraJogja.id - Pakar Epidemiologi UGM, Riris Andono Ahmad menyebut bahwa cakupan vaksinasi Covid-19 di Indonesia memiliki pengaruh terhadap kebijakan yang kemudian akan dibuat pemerintah. Bahkan pada September 2021 lalu Indonesia sudah mencapai 100 juta vaksin yang telah disuntikkan.
Walaupun sudah tergolong baik dari segi capaiannya namun masih ada sejumlah hal yang perlu diperhatikan. Di antaranya terkait dengan sebaran vaksin Covid-19 yang masih belum merata sepenuhnya.
"Cakupan vaksinasi kita itu sangat bagus di beberapa wilayah di Jakarta atau DIY ya tetapi juga tidak cukup tinggi di banyak daerah," ujar Riris saat dihubungi awak media, Minggu (12/12/2021).
Lebih lanjut, kata Riris, meski Indonesia telah menyentuh capaian 100 juta dosis vaksin yang disuntikkan. Namun yang masih menjadi persoalan adalah jumlah masyarakat Indonesia yang lebih dari jumlah tersebut.
Baca Juga:PPKM Level 3 Batal Diterapkan Saat Nataru, Epidemiolog UGM: Implementasinya Harus Kuat
Ia mengatakan meskipun prestasi itu menjadikan Indonesia sebagai salah satu dari tujuh negara yang mencapai capaian 100 juta dosis vaksin tapi secara keseluruhan Indonesia memiliki sekitar 270 juta penduduk. Mereka terbesar dengan kondisi geografis yang beragam.
"Tetapi problemnya kan jumlah masyarakat Indonesia lebih dari itu (100 juta dosis). Jadi fokusnya bukan pada kita sudah melakukan sangat banyak vaksinasi tetapi itu masih kurang dari yang dibutuhkan karena jumlah populasi masyarakat Indonesia itu yang 270 juta," ungkapnya.
Riris tidak memungkiri bahwa masih ada sejumlah daerah yang membutuhkan lebih banyak vaksin. Namun juga ada beberapa daerah yang relatif sudah lebih baik dari segi capaian vaksinasinya.
"Kita juga tahu bahwa yang rebutan vaksin juga banyak. Jadi daerah-daerah seperti Jakarta atau Jogja dengan cakupan vaksinasi yang relatif tinggi memang kekebalan di populasi ini cukup membantu untuk mengurangi penularan," tuturnya.
Kendati begitu, tambah Riris, masyarakat yang sudah menerima vaksinasi Covid-19 tidak boleh lantas merasa aman atau kebal begitu saja. Sehingga kemudian mempengaruhi penerapan protokol kesehatan pencegahan penularan Covid-19 dalam setiap aktivitasnya.
Baca Juga:PPKM Level 3 Batal, Epidemiolog UGM Imbau Masyarakat Tetap Patuh 5 M
Ia menilai masyarakat Indonesia perlu belajar juga dengan negara-negara lain terkait hal itu. Pasalnya ada beberapa negara yang kemudian meskipun cakupan vaksinasi Covid-19 sudah besar tapi peningkatan kasus justru kembali terjadi.
"Dengan itu (sudah vaksin) kita juga tidak kemudian harus merasa aman dan bebas melakukan apa saja. Kita bisa lihat di Singapura, di Eropa yang cakupan vaksinasinya cukup besar akan ada peningkatan kasus lagi to," jelasnya.
Belum lagi dengan bayang-bayang varian Omicron yang berpotensi masuk ke Indonesia. Sehingga masyarakat harus tetap waspada dan disiplin menjalankan protokol kesehatan.
"Bahkan ada studi baru menyebut bahwa Omicron lebih menurunkan efektivitas vaksin dibandingkan delta. Jadi dengan adanya vaksinasi pun, dia masih bisa lolos dari imunitas tubuh kita. Meskipun vaksinasi tetap ada manfaatnya ya, tapi bahwa penularan itu masih akan tetap terjadi," tandasnya.
Diberitaian sebelumnya pemerintah menargetkan vaksinasi COVID-19 lengkap selesai pada Maret atau April 2022. Target ini yakin tercapai karena penerima vaksinasi dosis pertama hampir mencapai 70 persen.
Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan COVID-19 dr. Reisa Broto Asmoro mengatakan Kemenkes menargetkan vaksinasi lengkap untuk 208,2 juta warga akan dicapai di Maret atau April tahun depan.