SuaraJogja.id - Mesin capit boneka atau claw machine bukan merupakan wahana permainan baru bagi masyarakat. Tidak sedikit orang yang kemudian justru kesal karena berulang kali gagal mencapit boneka di dalam mesin yang terbuat dari boks kaca tersebut.
Namun tidak untuk Nuryanto (35) dan keluarganya. Ia bersama istrinya Tyas Woro (35) serta tiga orang anaknya yakni Ghesta (14), Syafea (7), dan Dhevano (4) malah menjadikan mencapit boneka itu sebagai hobi baru.
Bukan tanpa alasan keluarga yang tinggal di Jl. Kabupaten, Biru, Trihanggo, Gamping, Sleman itu menjadikan capit boneka sebagai hobi baru mereka. Pasalnya sudah sekitar setahun ini ratusan boneka berhasil Nuryanto dan keluarganya capit untuk dibawa pulang.
![Nuryanto menunjukkan beberapa boneka hasil menyapit di rumahnya, di Jl. Kabupaten, Biru, Trihanggo, Gamping, Sleman, Rabu (16/2/2022). [Hiskia Andika Weadcaksana / SuaraJogja.id]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2022/02/16/23692-nuryanto-dan-koleksi-boneka-hasil-nyapit-di-mesin-boneka.jpg)
Hobi itu dimulai tepatnya setelah hari raya Lebaran saat pandemi Covid-19 masih melanda di tahun 2021 lalu. Saat itu Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) yang masih diberlakukan membuat pusat perbelanjaan hingga tempat rekreasi tutup.
Baca Juga:Prediksi Bali United vs PSS Sleman di BRI Liga 1 Malam Ini
"Mulai saat pandemi yang PPKM yang pertama sekitar 2021 lalu habis lebaran. Mall rekreasi masih tutup, saya kan jasa angkut itu, liat ada mesin capit. Saya pertama ya cuma iseng ada capit boneka di pojok kampung itu terus anak saya cewek itu nyoba nyapit beberapa kali nggak bisa, lalu ngajak saya," kata Nuryanto saat ditemui awak media di rumahnya, Rabu (16/2/2022).
Nuryanto bercerita saat pertama ia dan anaknya menghabiskan Rp10 ribu untuk mencoba peruntungan mencapit boneka. Namun percobaan pertama itu masih belum berjalan mulus, mereka harus pulang dengan tangan kosong.
"Pertama habis Rp10 ribu tetap enggak dapat terus saya mikir, gimana caranya biar dapat karena anak saya nangis terus (pengen boneka). Terus besok kembali lagi lalu lihat posisi boneka yang enak dicapit, oh itu (berhasil) terus iseng, sampai saat ini masih nyapit juga," ungkapnya.
Nuryanto yang juga kebetulan bergerak pada jasa angkut itu akhirnya kerap menemui lokasi mesin capit yang ada di berbagai titik. Setidaknya hingga saat ini berbagai wilayah dari Maguwoharjo ke Bantul hingga Tempel sudah pernah ditelusuri.
Alasan Nuryanto untuk terus mencapit boneka itu adalah anaknya yang juga senang sekali terhadap wahana permainan itu. Terlebih dengan kepuasan saat berhasil mencapit dan membawa pulang boneka-boneka itu.
Baca Juga:Marak Kejahatan Jalanan, Polres Sleman Imbau Masyarakat Tak Main Hakim Sendiri
"Anak saya yang cewek itu seneng banget kalau dapat. Kalau dapat kan sebagai teman tidur di sampingnya gitu, kalau dapat baru lagi ya nanti ganti lagi yang lama dimasukkan plastik, ganti tiap dapat. Pasti sama saya (nyapit)," tuturnya.