Upaya negosiasi antara Ki Ageng Giring III dan Ki Ageng Pemanahan pun dilakukan begitu air kelapa muda tersebut habis diminum. Akhirnya keduanya sepakat bahwa setelah keturunan raja ketujuh, maka yang berkuasa adalah keturunan dari Ki Ageng Giring III.
Hingga kini belum jelas kapan Ki Ageng Giring III meninggal. Ditemukannya makam Ki Ageng Giring III juga berawal dari cerita masyarakat yang suka berziarah ke Makam Kyai Tembayat di Klaten.
"Dari sana ada wahyu sebuah batu putih di Alas Paliyan," tambahnya.
Setelah dilakukan upaya babat alas atau membuka hutan untuk membuat jalan, akhirnya ditemukan makam Ki Ageng Giring III. Dan kini makam Ki Ageng Giring III inilah yang banyak dikunjungi peziarah untuk berburu wahyu.
Baca Juga:Cek Bendungan Sumber PDAM, Bupati Gunungkidul Nekat Masuk ke Sungai Bawah Tanah Sedalam 104 Meter
Setiap malam Jumat Kliwon tempat ini ramai dikunjungi peziarah. Bahkan kerabat Keraton Yogyakarta juga sering berziarah di makam penerima wangsit Kerajaan Mataram Islam yang kemudian pecah menjadi Kasultanan Yogyakarta (Keraton Yogyakarta) dan Kasunanan Surakarta (Keraton Solo) ini.
"Malam Jumat Kliwon banyak peziarah karena konon makam ditemukan tepat pada hari Jumat Kliwon," terangnya.
Tempat-tempat Wingit untuk Berburu 'Pulung' Pejabat
Cucu Sri Sultan HB VIII, Gusti Kukuh Hertriasning atau yang banyak dikenal dengan sebutan Gusti Aning mengakui jika memang masih banyak masyarakat yang berburu 'pulung' atau wahyu terutama ketika ada yang memiliki hajat ingin menjadi pejabat ataupun tokoh publik lainnya.
Biasanya mereka berburu pulung tersebut ke tempat-tempat di mana para tokoh dimakamkan atau ke tempat yang dianggap sebagai petilasan.
"Namun yang tidak sembarang makam kuno atau keramat yang diziarahi. Saya sarankan tokoh yang memang memiliki riwayat atau sejarah 'babad alas'. Tokoh pendiri sebuah kerajaan atau sebuah wilayah," terangnya.