Derita Guru Saat Kurikulum Terus Berubah, Kesejahteraan Jalan di Tempat Hingga AI yang Ancam Profesi

Guru 23 tahun di Jogja hadapi gaji minim, Kurikulum Merdeka ke Deep Learning, & ancaman AI. Ia berharap kepastian & kesejahteraan, bukan eksperimen kebijakan.

Budi Arista Romadhoni
Selasa, 25 November 2025 | 18:21 WIB
Derita Guru Saat Kurikulum Terus Berubah, Kesejahteraan Jalan di Tempat Hingga AI yang Ancam Profesi
Amelita Tarigan, guru SMP Gotong Royong, Kota Yogyakarta mengajar di sekolah. [Suara.com/Putu]
Baca 10 detik
  • Guru Bahasa Inggris SMP Gotong Royong Yogyakarta, Amelita Tarigan, hadapi tantangan kesejahteraan dan perubahan Kurikulum Mendalam.
  • Implementasi kurikulum baru sulit karena siswa kesulitan dasar; AI membuat siswa tampak mampu namun tidak paham konsep.
  • Guru menghadapi masalah gaji tidak optimal dan tantangan kerjasama dengan wali murid yang mendikte proses pendidikan.

Namun teman-teman guru lain di sekolah tidak bernasib sama. Mereka tidak mendapatkan gaji yang layak,  baik dari yayasan yang memang tak sanggup memberikan gaji besar karena keterbatasan sumber dana maupun dari Pemerintah Kota Yogyakarta melalui Bantuan Operasional Sekolah Daerah (BOSDa) maupun BOS dari pemerintah pusat.

"Jadi guru sekolah kami yang belum tersertifikasi hanya dapat gaji dari BOSDa sebesar Rp 400 ribu per bulan, mudah-mudahan bisa naik, katanya mau naik Rp 500 ribu," jelasnya.

Lita menambahkan, realitas di lapangan di lapangan dalam mengajar saat ini jauh lebih rumit. Banyak orang tua menyerahkan seluruh proses pendidikan hanya kepada sekolah.

Padahal tanggungjawab anak tak hanya sekolah namun juga orang tua dan pemerintah. Di balik dedikasi yang tinggi untuk menerima siswa tidak mampu secara ekonomi maupun akademis untuk tetap bersekolah, sering muncul rasa terluka ketika kerja keras guru dianggap salah.

Baca Juga:Mengejutkan! Ternyata Baru 11 Persen Warga Sleman Pakai Layanan Online Disdukcapil, Apa Alasannya?

"Dukanya itu kalau bertemu wali murid yang susah diajak kerja sama. Ada wali murid, yang terlalu pintar berbicara, sok tahu, mendikte guru saat anaknya berbuat salah. Kami sebagai guru serba salah, kalau mau menghukum nanti bisa masuk ke ranah hukum, tapi kalau tidak dididik baik, mereka susah diajak belajar, jadi serba salah," tandasnya.

Karenanya di Hari Guru ini, Lita dan mungkin guru-guru lainnya berharap ada perubahan di dunia pendidikan Indonesia meski tak banyak. Apalagi suara mereka yang paling tahu kenyataan di lapangan sering tak didengar. 

Belum lagi kebijakan efisiensi anggaran yang semakin mencekik sekolah swasta, termasuk mendapatkan murid untuk diajar. Para guru membutuhkan penghargaan alih-alih  slogan. Mereka juga butuh kepastian, bukan eksperimen kebijakan, butuh kesejahteraan yang tidak sekadar janji belaka.

"Nggak apa-apa efisiensi, tapi kalau menuju kualitas, jangan terus menerus mengubah kebijakan setiap ganti Menteri, kami yang akhirnya sering direpotkan," imbuhnya.

Kontributor : Putu Ayu Palupi

Baca Juga:Dari Luka Jadi Cahaya: Resep Hati 'Glowing' ala DRW Skincare dan Ustaz Hilman Fauzi

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Beserta Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini

Tampilkan lebih banyak