- Libur Nataru di Yogyakarta menciptakan perputaran uang Rp9 Triliun, namun warga lokal hanya menjadi penonton euforia pariwisata.
- UMP DIY yang rendah (Rp2,4 Juta) kontras dengan pengeluaran wisatawan yang mencapai Rp1 Juta per orang selama dua hari.
- Warga seperti Suharto dan Rina mengalami kesulitan hidup meski bekerja, bahkan harus mengambil pekerjaan tambahan untuk menutupi biaya.
Hal senada disampaikan Rina, karyawan swasta yang mengaku cukup kewalahan hidup di Yogyakarta dengan UMP yang terendah se-Jawa. Meski sudah bekerja di kota ini selama tujuh tahun terakhir, dia sulit untuk bisa menabung atau bersenang-senang.
"Gaji saya per bulan Rp sekitar Rp2,4 juta. Untuk bayar kontrakan per bulan sekitar Rp 700 ribu, makan, bensin dan lainnya bisa sampai Rp 2 juta lebih," jelasnya.
Untuk menutup kekurangan biaya hidup, perempuan 30 tahun ini terpaksa mengambil kerja sampingan. Diantaranya bekerja di Wedding Organizer (WO) atau jadi host beberapa acara.
Namun tidak setiap hari dia dapat job atau pekerjaan tambahan. Bila ramai acara pernikahan, Rina mengaku bisa mengantongi sekitar Rp500-800 ribu sekali event.
Baca Juga:Anti Galau Mobil Pertama! 4 Mobil Bekas Paling Nyaman dan Bandel di Bawah Rp70 Juta untuk Pemula
"Tapi kan tidak setiap hari ada nikahan, jadi ya harus bener-bener berhemat kalau lagi sepi acara," akunya.
Ironi dirasakan Rina saat melihat jutaan orang berwisata ke Yogyakarta setiap libur panjang atau akhir pekan. Dengan pendapatan yang rendah, dia hanya bisa menjadi penonton wisatawan bersenang-senang di kota yang sering diromantisasi sebagai kota yang terbuat dari rindu, pulang dan angkringan.
![Ilustrasi wisata di Yogyakarta yang dipenuhi pengunjung. [Suara.com/Ai]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2025/12/26/80192-ilustrasi-wisata-di-jogja.jpg)
Hotel-hotel di pusat kota yang mematok tarif jutaan rupiah per malam saat Nataru tetap penuh wisatawan luar kota, restoran yang menaikkan harga karena permintaan melonjak tak membuat banyak warga lokal merasakan manfaatnya secara nyata.
"Angkringan saja sekarang banyak yang mahal, sama dengan harga warung makan," imbuhnya.
Kontributor : Putu Ayu Palupi
Baca Juga:Yogyakarta Darurat Parkir Liar: Wisatawan Jadi Korban, Pemda DIY Diminta Bertindak Tegas!