Disebut Termahal Kedua di Indonesia, Menelusuri Akar Pahit Biaya Hidup di Jogja yang Meroket

Biaya hidup di Yogya tertinggi ke-2 di Indonesia, didorong mahasiswa & wisatawan, bukan warga lokal. Sementara UMP-nya masih rendah

Budi Arista Romadhoni
Selasa, 27 Januari 2026 | 19:31 WIB
Disebut Termahal Kedua di Indonesia, Menelusuri Akar Pahit Biaya Hidup di Jogja yang Meroket
Ilustrasi beban biaya hidup di Jogja. [Dok Suara.com/AI]
Baca 10 detik
  • Berdasarkan BPS 2025, Yogyakarta memiliki Pengeluaran per Kapita Rp 20,6 juta, menjadikannya kedua tertinggi di Indonesia.
  • Pakar ekonomi UGM menyatakan tingginya konsumsi dipicu mahasiswa pendatang dan wisatawan, bukan masyarakat lokal.
  • PHRI DIY membantah Yogyakarta mahal karena wisatawan domestik dan mancanegara masih sering melakukan kunjungan ulang.

SuaraJogja.id - Yogyakarta yang selama ini dikenal sebagai kota pelajar dengan biaya hidup relatif murah, belakangan justru masuk dalam jajaran daerah dengan biaya hidup tertinggi di Indonesia.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) 2025, Pengeluaran per Kapita (PPK) DIY mencapai Rp 20,6 juta per tahun atau nomor du a se-Indonesia.

Yogyakarta hanya berada satu tingkat dibawah Denpasar dengan PPK sebesar Rp 20,76 juta per tahun. Sedangkan Jakarta justru dibawah DIY dengan PPK sebesar Rp19,95 juta per tahun.

Kondisi ini jadi semacam paradoks ditengah rendahnya Upah Minimum Propinsi (UMP) maupun Upah Minimum Regional (UMR) Kabupaten/Kota. UMP DIY pada tahun ini terendah ketiga se-Indonesia dengan besaran Rp2,417 juta.

Baca Juga:Daya Beli Turun, UMKM Tertekan, Pariwisata Jogja Lesu, Pelaku Usaha Dipaksa Berhemat

Pakar ekonomi dari Departemen Akuntansi Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM), Rijadh Djatu Winardi pun memberikan komentarnya terkait fenomena ini. Rijadh menyebut tingginya biaya hidup di Yogyakarta bukan disebabkan oleh pola konsumsi masyarakat lokal.

Sebab struktur ekonomi Yogyakarta memiliki karakteristik khusus yang tidak bisa disamakan dengan kota-kota besar lainnya.

“Kalau kita melihat secara struktural, daya beli yang tampak tinggi di Yogyakarta itu bukan sepenuhnya berasal dari masyarakat lokal,” ujar Rijadh dalam diskusi Shadow Economy di Yogyakarta, Selasa (27/1/2026).

Ilustrasi gambaran pengeluaran per kapita warga Jogja. [Dok Suara.com/AI]
Ilustrasi gambaran pengeluaran per kapita warga Jogja. [Dok Suara.com/AI]

Menurutnya, terdapat dua kelompok utama yang mendorong tingginya aktivitas konsumsi di Yogyakarta. Pertama adalah mahasiswa pendatang yang jumlahnya sangat besar.

Yang kedua adalah wisatawan, baik domestik maupun mancanegara. Tingkat belanja wisatawan yang berlibur di DIY relatif tinggi.

Baca Juga:7 Fakta Mengerikan di Balik Gas Tertawa yang Sedang Viral di Medsos, Bisa Berujung Maut!

"Mahasiswa di Yogyakarta sebagian besar memiliki uang saku dari orang tua yang dikirim dari luar daerah. Uang ini kemudian dibelanjakan di Yogyakarta. Itu menjadi motor utama perputaran ekonomi," jelasnya.

Selain itu, sektor pariwisata juga memainkan peran signifikan. Sebagai salah satu destinasi wisata utama di Indonesia, DIY menerima arus wisatawan yang konsisten sepanjang tahun. Belanja wisatawan ini turut mendorong kenaikan harga kebutuhan, khususnya di sektor makanan, minuman, hunian dan jasa.

"Namun, tingginya spending ini tidak serta-merta mencerminkan peningkatan kesejahteraan masyarakat lokal secara fundamental. Ini lebih menunjukkan tingginya konsumsi dari pendatang," tandasnya.

Fenomena ini, lanjutnya menciptakan paradoks ekonomi di Yogyakarta. Di satu sisi, biaya hidup terus meningkat. Namun di sisi lain, tingkat upah dan UMR Yogyakarta masih tergolong rendah dibanding daerah lain.

Kondisi ini memperkuat argumen konsumsi tinggi di Yogyakarta bukan berasal dari warga lokal.

"Kalau masyarakat lokal yang konsumtif, seharusnya kita melihat peningkatan pendapatan yang signifikan. Faktanya, upah relatif stagnan. Jadi sumber konsumsi itu jelas berasal dari luar," ungkapnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

SIMULASI TKA: 15 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD dan Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Warna Helm Motor Favorit Ungkap Karakter Pasangan Ideal, Tipe Mana Idamanmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kim Seon-ho atau Cha Eun-woo? Cari Tahu Aktor Korea yang Paling Cocok Jadi Pasanganmu!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tes Kepintaran GTA Kamu Sebelum Grand Theft Auto 6 Rilis!
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis: Kamu Tipe Red Flag, Green Flag, Yellow Flag atau Beige Flag?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Apa Kabar Kamu Hari Ini? Cek Pesan Drakor untuk Hatimu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tablet Apa yang Paling Cocok sama Gaya Hidup Kamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Film Makoto Shinkai Mana yang Menggambarkan Kisah Cintamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kalau Jadi Superhero, Kamu Paling Mirip Siapa?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Destinasi Liburan Mana yang Paling Cocok dengan Karakter Kamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Merek Sepatu Apa yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini

Tampilkan lebih banyak