- Pelemahan nilai tukar rupiah menyebabkan kenaikan biaya produksi pertanian dan harga pangan di pasar wilayah DIY.
- Harga komoditas seperti cabai rawit dan sayuran di pasar tradisional DIY melonjak akibat kenaikan biaya logistik.
- Pemda DIY melakukan pemetaan kondisi petani serta intervensi pasar untuk menjaga stabilitas harga pangan menjelang Iduladha.
SuaraJogja.id - Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat beberapa waktu terakhir mulai dirasakan dampaknya di sektor pertanian dan harga bahan pokok di DIY.
Biaya produksi di tingkat petani mengalami kenaikan. Akibatnya harga-harga pangan yang merangkak naik juga mulai terasa di pasar tradisional.
Sejumlah pedagang di Pasar Beringharjo dan Pasar Kranggan mengatakan salah satu harga komoditas yang kembali mengalami kenaikan adalah cabai rawit. Di Pasar Beringharjo,harga cabai rawit mencapai Rp75.000-Rp80.000 per kilogram (kg). Bahkan di Pasar Kranggan bahkan mencapai Rp90.000 per kilogram.
"Ada kenaikan sekitar Rp10.000 dari minggu lalu," ujar Uci, salah satu pedagang di Pasar Beringharjo, Selasa (19/5/2026).
Baca Juga:Sleman Genjot Ekonomi Timur: Jalan Prambanan-Lemahbang Jadi Andalan, Warga Terima Sertifikat
Uci mengaku sebelumnya harga cabai Rp65.000 per kg. Dia mengaku tak tahu penyebab kenaikan harga, namun dari informasi dari yang didapatnya biaya angkut sayuran dari luar DIY mengalami kenaikan.
Sementara di Pasar Kranggan, harga sayuran juga naik hampir dua kali lipat. Sebut saja sawi sendok yang biasanya dijual Rp10.000 per ikat jadi Rp18.000 per ikat.
"Udah pembeli berkurang, harga sayuran malah naik," paparnya.
Secara terpisah Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) DIY, Aris Eko Nugroho, mengatakan pelemahan rupiah tidak secara langsung memang berpengaruh pada sektor pertanian. Harga pupuk bersubsidi belum mengalami kenaikan karena masih diatur pemerintah pusat.
Berdasarkan data distribusi pupuk bersubsidi di DIY, alokasinya meliputi pupuk urea sebanyak 45.524 ton, NPK 42.777 ton, NPK formula khusus 9 ton, pupuk organik 648 ton, serta ZA 10 ton.
Baca Juga:Bantul Lawan Arus, Daerah Lain Naikkan PBB, Bantul Justru Beri 'Hadiah' Ini di 2026
"Namun untuk pupuk nonsubsidi, harga mengikuti mekanisme pasar," jelasnya.
Meski harga pupuk subsidi masih stabil, lanjutnya sejumlah komponen produksi lain mulai mengalami kenaikan. Sebut saja biaya angkut logistik dan harga material produksi seperti plastik untuk pertanian.
Padahal plastik pertanian, khususnya plastik mulsa yang banyak digunakan pada komoditas hortikultura seperti cabai, menjadi salah satu komponen yang memicu kenaikan biaya produksi. Selain itu, biaya transportasi juga meningkat karena penyesuaian harga bahan bakar.
"Biaya plastik dan ongkos angkut itu jelas memengaruhi. Ketika biaya produksi naik, keuntungan yang diterima petani otomatis berkurang," jelasnya.
Aris menambahkan, kenaikan komponen biaya tersebut berdampak pada margin keuntungan petani. Hal ini juga tercermin dari data Badan Pusat Statistik yang menunjukkan Nilai Tukar Petani (NTP) di DIY mengalami penurunan, meskipun belum signifikan.
Untuk mengetahui dampak riil di lapangan, Pemda DIY berencana melakukan pemetaan kondisi petani di tingkat kabupaten dan kota. Pemetaan ini dilakukan melalui koordinasi dengan pemerintah daerah setempat.