- Seniman dan pekerja seni menolak kehadiran Didit Hediprasetyo pada pembukaan pameran ARTJOG 2026 di Jogja National Museum.
- Penyelenggara ARTJOG membatalkan kehadiran Didit sebagai pembuka pameran guna merespons kritik dan aksi protes publik tersebut.
- ARTJOG 2026 tetap berlangsung dengan menampilkan 54 karya seniman yang mengangkat tema dialog serta pewarisan tradisi antargenerasi.
Mengangkat Dialog Antar Generasi
Di luar polemik yang berkembang, ARTJOG tahun ini mengusung perhatian pada persoalan pewarisan tradisi dan hubungan antargenerasi dalam praktik seni kontemporer. Bambang menjelaskan, generasi perupa yang lebih muda tidak lagi hanya memandang tradisi sebagai sesuatu yang diwariskan secara utuh, tetapi lebih sebagai proses transfer pengetahuan yang terus berkembang.
Menurut dia, terdapat perbedaan visi dan cara pandang antara generasi lama dan generasi baru. Namun, misi utamanya tetap sama, yakni menjaga dan menghidupkan tradisi dalam bentuk yang relevan dengan perkembangan zaman.
"Yang berubah adalah mindset dan cara penyampaiannya. Misinya tetap berkaitan dengan tradisi, tetapi generasi baru menerjemahkannya dengan pendekatan yang berbeda," katanya.
Baca Juga:ARTJOG 2026 Siap Guncang Yogyakarta, Usung Tema 'Generatio' untuk Seniman Muda
Hal tersebut tercermin dalam berbagai karya yang memadukan medium dan budaya yang berbeda. Salah satu contohnya adalah penggunaan media keramik yang dipadukan dengan unsur budaya lain sebagai bentuk eksplorasi baru dalam seni rupa.
Bambang menilai perkembangan seni saat ini justru memperlihatkan semakin kuatnya praktik persilangan budaya. Menurut dia, penggabungan berbagai tradisi menjadi bagian penting dalam perkembangan seni kontemporer.
"Perkembangan seni sekarang menunjukkan bagaimana budaya yang berbeda bisa bertemu dan saling memperkaya," ujarnya.
Tema mengenai hubungan antargenerasi itu kemudian diterjemahkan para seniman ke dalam berbagai isu dan medium yang beragam. Dialog antara masa lalu dan masa kini menjadi salah satu benang merah yang mewarnai karya-karya yang dipamerkan.
Dalam penyelenggaraan tahun ini, ARTJOG menerima sekitar 540 karya yang masuk melalui mekanisme open call. Setelah melalui proses seleksi dan kurasi, sebanyak 54 karya akhirnya dipilih untuk dipamerkan.
Baca Juga:Melawan Keterbatasan, Seniman Disabilitas Jogja Pamerkan Karya Memukau di Tengah Mahalnya Bahan Baku
Bambang menyebut terdapat perbedaan yang cukup mencolok dibandingkan penyelenggaraan sebelumnya. Selain kualitas konsep yang dinilai semakin kuat, penataan ruang pamer juga dirancang lebih matang sehingga mampu memperkuat pengalaman pengunjung dalam menikmati karya.
"Yang paling berbeda dibanding tahun lalu adalah konsep yang lebih kuat dan perancangan ruang yang lebih baik," imbuhnya.
Kontributor : Putu Ayu Palupi