- Sebanyak 1,94 juta anak Indonesia belum bersekolah akibat faktor kemiskinan, pernikahan dini, serta kurangnya perlindungan dan kesehatan.
- Pemerintah meluncurkan berbagai program prioritas dan Gerakan Nasional Ruang Aman dan Nyaman Anak untuk mengatasi tantangan pendidikan.
- Pemkab Sleman mengoptimalkan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat sebagai solusi alternatif bagi anak-anak yang putus sekolah agar tetap belajar.
"Gerakan ini sebagai upaya menyatukan berbagai kebijakan dan program lintas kementerian, pemerintah daerah, perguruan tinggi, organisasi masyarakat sipil, hingga masyarakat luas," paparnya.
Pratikno menambahkan, gerakan tersebut bertujuan memastikan seluruh ruang kehidupan anak menjadi tempat yang aman, sehat, nyaman. Selain itu mendukung tumbuh kembang mereka.
"Ruang aman dan nyaman bagi anak harus hadir di keluarga, satuan pendidikan, ruang publik, ruang umum, dan juga di ranah digital," ujarnya.
Menurut Pratikno, seluruh pihak harus bergerak bersama agar setiap anak Indonesia dapat tumbuh dalam lingkungan yang melindungi sekaligus mendukung proses belajar mereka.
Baca Juga:Duh! 142 Warga Bantul Kehilangan Pekerjaan, Efisiensi Berdampak PHK
"Kita harus merespons dengan cepat apabila ada permasalahan yang membawa risiko bagi keamanan anak," katanya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sleman, Mustadi mengatakan tantangan pendidikan serupa juga masih dihadapi daerah, termasuk di Sleman.
Meski angka partisipasi sekolah di Kabupaten Sleman termasuk tinggi dibandingkan daerah lain di DIY, masih terdapat lebih dari 4.000 anak yang membutuhkan perhatian khusus agar tetap memperoleh akses pendidikan.
"Masih ada sekitar 4.000 lebih anak berdasarkan data program dari kementerian yang membutuhkan perhatian. Inilah pekerjaan rumah kita bersama sehingga harus ada inovasi," ujarnya.
Mustadi menyebut, tidak semua anak memiliki kesempatan yang sama untuk bersekolah karena adanya berbagai persoalan sosial dan ekonomi yang mereka hadapi. Pemkab tidak dapat bekerja sendiri dan membutuhkan keterlibatan seluruh unsur masyarakat mulai dari pemerintah kalurahan, kapanewon, sekolah, perguruan tinggi hingga komunitas masyarakat.
Baca Juga:Rumah Eross Sheila On 7 Kemasukan Ular Kobra, Damkar Sleman Evakuasi Tengah Malam
"Kita harus bergandengan tangan dan bekerja sama antar semua pihak. Anak-anak kita yang jumlahnya masih ribuan tersebut membutuhkan sekolah dan harus kita fasilitasi," katanya.
Sebagai salah satu solusi, Kabupaten Sleman terus memperkuat keberadaan sekitar 30 Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) yang menyediakan layanan pendidikan alternatif melalui program Paket A, Paket B, dan Paket C.
Keberadaan PKBM dinilai memberikan fleksibilitas bagi anak-anak yang tidak dapat mengikuti pendidikan formal agar tetap memperoleh kesempatan belajar sesuai dengan kondisi dan kebutuhan mereka.
Selain itu, Sleman juga aktif mengikuti forum pembelajaran antar daerah untuk berbagi praktik baik dalam transformasi pendidikan dan pemerataan akses pendidikan. Setiap daerah memiliki inovasi dan pengalaman yang dapat menjadi pembelajaran bersama dalam menyelesaikan persoalan pendidikan nasional.
"Kabupaten dan kota lain memiliki praktik-praktik baik. Forum inilah tempatnya untuk saling berbagi dan belajar bersama," imbuhnya.
Kontributor : Putu Ayu Palupi