- SMP dan SMA Gotong Royong di Yogyakarta memulai tahun ajaran baru pada Senin, 13 Juli 2026, dengan keterbatasan fasilitas.
- Sekolah ini menyediakan akses pendidikan bagi siswa kurang mampu, putus sekolah, serta penyandang disabilitas yang sering ditolak sekolah lain.
- Para guru berkomitmen tetap mengajar meski sekolah menghadapi kendala finansial demi memastikan seluruh anak mendapatkan hak pendidikan layak.
SuaraJogja.id - Bel berbunyi menandai hari pertama tahun ajaran baru, Senin (13/7/2026). Tidak ada keramaian yang biasa terlihat di sekolah-sekolah favorit besar di Yogyakarta yang ramai murid baru.
Di ruang kelas SMP dan SMA Gotong Royong di Tegalrejo, Kota Yogyakarta yang atapnya berlubang dan jendelanya tak berkaca, sejumlah siswa yang bisa dihitung dengan jari duduk rapi. Alih-alih baru, sebagian dari mereka mengenakan seragam bekas SD yang warnanya sudah mulai pudar.
Dengan serius, mereka mendengarkan paparan guru yang menerangkan aturan sekolah dalam program Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). Di balik kesederhanaan itu, tersimpan kisah tentang sekolah yang memilih bertahan agar tak satu pun anak kehilangan kesempatan belajar.
Di sekolah yang berdiri sejak 1982 ini, setiap siswa memiliki cerita. Cerita tentang keluarga sederhana, kesempatan kedua, hingga guru-guru yang memilih tetap mengajar meski sekolah hidup dalam keterbatasan finansial.
Baca Juga:8.000 Orang Lepas Status WNI dalam Lima Tahun, Indonesia Terancam Kehilangan SDM Berkualitas
Salah satunya adalah Rianika Putri, siswi baru kelas VII. Gadis asal Bantul itu datang dengan langkah pelan di hari pertamanya mengenakan seragam SMP. Dia sempat tak bersekolah setahun pasca lulus SD karena keluarganya tak punya biaya sekolah.
Hari ini, keinginannya untuk bersekolah akhirnya terjawab. Meski terlambat setahun, dia dengan bangga mengenakan seragamnya.
"Tahun lalu tidak dapat sekolah negeri, kalau masuk sekolah swasta mahal, akhirnya tidak sekolah setahun. Terus ada info kalau sekolah ini menerima siswa meski terlambat sekolah, akhirnya tahun ini bisa bersekolah lagi," ungkapnya.
Namun, di balik jawaban lirihnya itu tersimpan cerita keluarga yang tidak mudah. Ayahnya hanya bekerja serabutan sedangkan ibunya ibu rumah tangga. Putri merupakan anak keenam atau anak bungsu dari enam bersaudara.
Bagi keluarga seperti Putri, sekolah bukan hanya soal mencari ilmu, tetapi juga harapan mencari tempat yang masih memberikan kesempatan tanpa membebani biaya. Hari pertama sekolah ia jalani seorang diri, memulai lingkungan baru tanpa teman dekat yang menemaninya.
Baca Juga:Akademisi: Publik Berhak Menagih Kinerja jika Gaji Kepala Daerah Naik
"Senang dapat teman baru walaupun tidak banyak, sudah bersyukur bisa sekolah lagi gratis," ungkapnya.
Tak jauh dari ruang kelas VII, ada Hugus Bagus Irawan, siswa kelas VIII yang juga memiliki kisah berbeda. Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) ini girang bisa melanjutkan sekolahnya meski umurnya jauh siswa-siswa lainnya.
Hugus sebenarnya sempat bingung harus melanjutkan sekolah ke mana. Usianya yang kini menginjak 17 tahun membuatnya tidak lagi memenuhi syarat untuk masuk SMP. Keterbatasannya sebagai ABK jadi kendala untuk mengejar mimpinya belajar di sekolah.
"Awalnya saya bingung mau SMP ke mana. Ada orang baik yang memberi tahu kalau saya bisa sekolah di sini. Di negeri sudah tidak bisa karena umur," katanya.
Ayah dan ibunya sehari-hari berjualan Sate Padang pun girang anaknya tersebut mendapatkan kesempatan bertumbuh. Mengenakan seragam sekolah yang baru, Hugus akhirnya bisa ikut belajar dengan pendampingan salah satu guru inklusi meski SMP/SMA Gotong Royong tak pernah ditunjuk sebagai Sekolah Inklusi.
"Senang. Tadi ada pertanyaan-pertanyaan dan puisi," ujarnya.
Meski hanya berempat di kelas VIII, Hugo tetap bersemangat belajar. Pelajaran menggambar menjadi mata pelajaran favoritnya.
Di balik kisah para siswa itu, Kepala SMP Gotong Royong, Ame Lita Br Tarigan Sibero melihat tantangan yang jauh lebih besar daripada sekadar sedikitnya jumlah murid. Tahun ajaran baru ini, kelas VII hanya diisi tiga siswa. Kelas VIII mendapat tambahan satu siswa pindahan, sementara kelas IX menerima lima siswa pindahan.
"Jumlah tersebut jauh dari ideal bagi sebuah sekolah sebenarnya, tapi kami memilih bertahan dan tidak meninggalkan anak-anak yang ingin bersekolah," paparnya.
Apalagi Lita, ukuran keberhasilan sekolah bukanlah banyaknya peserta didik. Ia justru melihat masih banyak anak yang membutuhkan tempat untuk tetap bisa bersekolah.
"Masih banyak anak-anak di sekitar kami yang putus sekolah karena persoalan ekonomi. Selama sekolah ini masih mampu membantu, kami tidak akan menyerah," katanya.
Mayoritas siswa di sekolah tersebut berasal dari keluarga kurang mampu. Banyak yang mengandalkan Program Indonesia Pintar (PIP) sebagai penopang biaya pendidikan.
Bahkan para guru tetap bertahan mengajar meski sekolah tidak mampu memberikan honor secara rutin. Meski dari 13 guru, sebanyak 12 guru sudah mendapatkan sertifikasi, mereka tetap harus berjuang keras memenuhi segala kebutuhan sekolah anak siswanya.
"Kami bertahan karena ingin membantu anak-anak. Sebagian guru mendapat tunjangan profesi dari pemerintah sehingga itu menjadi penyemangat kami untuk tetap mengajar," ungkapnya.
Lita mengaku, sekolah selama ini harus mencari donatur atau menggunakan gajinya untuk memenuhi kebutuhan sekolah seperti membeli alat tulis, memperbaiki fasilitas sekolah yang rusak hingga keperluan mandi anak-anak. Bahkan memberikan uang jajan.
"Ada siswa kami yang menggunakan satu sikat gigi bersamaan dengan saudaranya, akhirnya kami belikan sabun, pasta gigi dan sikat gigi. Ada pula anak yang tiap istirahat tidak pernah keluar kelas, ternyata tidak pernah dapat uang saku. Kami meski dengan keterbatasan memberikan uang jajan Rp2.000 agar dia bisa jajan sesekali," jelasnya.
Lita menyebut, sekolah itu memang menjadi tempat yang menerima siswa yang sering kali ditolak di tempat lain. Untuk jenjang SMP, sekolah bahkan memiliki guru pendamping khusus yang telah bersertifikat guna mendampingi siswa berkebutuhan khusus.
Menurutnya, banyak lulusan berkebutuhan khusus yang akhirnya mampu menyelesaikan pendidikan di SMP, melanjutkan ke SMA Gotong Royong, hingga memiliki kepercayaan diri menjalani kehidupan setelah lulus.
"Saya hanya ingin anak-anak punya kesempatan kerja lebih luas kalau mereka bisa lulus SMA," akunya.
Lita menambahkan, selama MPLS kali ini, sekolah mengikuti panduan dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (kemendikdasmen) dengan memperkenalkan lingkungan sekolah, tata tertib.

Sekolah juga mengajarkan pendidikan karakter, hidup sehat, anti-perundungan, hingga pembiasaan bangun pagi, sarapan, berolahraga, belajar, dan tidur tepat waktu.
Pembelajaran juga tidak berhenti di ruang kelas. Siswa diajak mengunjungi Taman Pintar, museum, belajar membatik, hingga menggunakan transportasi umum agar mereka memperoleh pengalaman nyata yang mungkin belum pernah dirasakan.
"Pendidikan bukan sekadar mengejar nilai akademik tapi kami ingin memastikan tidak ada anak yang tertinggal hanya karena lahir dari keluarga sederhana, terlambat masuk sekolah atau memiliki kebutuhan khusus," imbuhnya.
Kontributor : Putu Ayu Palupi