Direproduksi Antar Generasi, 200 Lebih Kasus Bullying Terjadi di Kota Jogja

Bullying di sekolah masih berulang dan menjadi siklus kekerasan antargenerasi. Pemkot Yogyakarta dan UNY dorong pencegahan lewat kearifan lokal dan sanksi edukatif.

Budi Arista Romadhoni
Selasa, 29 September 2026 | 17:37 WIB
Direproduksi Antar Generasi, 200 Lebih Kasus Bullying Terjadi di Kota Jogja
Deklarasi Anti Bullying pelajar Yogyakarta di UNY, Selasa (29/9/2026). (Suarajogja.id/Putu Ayu Palupi)
Baca 10 detik
  • Sekda Kota Yogyakarta Budi Santosa Asrori menyatakan terdapat 11 kasus perundungan pada semester pertama 2026 di Yogyakarta.
  • UNY menilai perundungan pelajar merupakan reproduksi kekerasan lintas generasi yang diwariskan melalui kebiasaan sosial sejak lama.
  • Pemerintah Kota Yogyakarta menerapkan Pendidikan Khas Kejogjaan untuk memutus siklus kekerasan berbasis kearifan lokal.

SuaraJogja.id - Kasus bullying atau perundungan di lembaga pendidikan terus saja berulang meski upaya penanganan maupun antisipsi terus dilakukan. Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (disdikpora) Kota Yogyakarta mencatat, sebanyak 196 kasus bullying terjadi di kota ini pada 2025 lalu.

"Kalau tahun ini untuk semester pertama ada 11 kasus bullying yang dilaporkan di kota jogja," ujar Sekda Kota Yogyakarta, Budi Santosa Asrori disela Deklarasi Antibullying di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Selasa (29/9/2026) sore.

Menurutnya, kondisi tersebut sebenarnya menunjukkan meningkatnya kepedulian berbagai pihak terhadap persoalan bullying. Kasus yang sebelumnya mungkin dianggap sebagai persoalan biasa kini lebih cepat dikenali dan dilaporkan.

Namun persoalannya bukan hanya bagaimana menangani korban dan pelaku ketika bullying terjadi. Tantangan yang lebih besar adalah menghentikan reproduksi perilaku kekerasan agar tidak diwariskan kembali kepada generasi berikutnya.

Baca Juga:Toko Hamzah Batik Malioboro Terbakar Dini Hari, Saksi Sempat Dengar Suara Ledakan

Karena itu, kolaborasi antara keluarga, sekolah, masyarakat, pemerintah, perguruan tinggi dinilai menjadi bagian penting untuk membangun ekosistem pendidikan yang aman dan nyaman.

Salah satu upaya yang dilakukan Pemkot dengan Pendidikan Khas Kejogjaan (PKJ). Nilai-nilai budaya seperti menghormati yang lebih tua sekaligus menghargai yang lebih muda diharapkan dapat diterapkan melalui pembiasaan di lingkungan sekolah.

Pendekatan budaya Yogyakarta itu tidak sekedar menjadi slogan, melainkan diterjemahkan dalam kebiasaan sehari-hari di sekolah dan lingkungan sosial anak.

"Intinya bagaimana kita menghormati yang lebih tua, tapi juga harus menghargai yang lebih muda," ujarnya.

Sementara itu Ketua Pusat Unggulan IPTEKS Kajian Ilmu Pendidikan (PUI KIP) UNY, Ariefa Efianingrum menyatakan fenomena bullying bukan sekadar kasus yang berulang. Lebih dari itu telah menjadi perilaku yang direproduksi dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Baca Juga:YOGYAKOMTEK 2026 Resmi Dibuka, Pameran Komputer Terbesar di DIY

"Kondisi tersebut menjadi perhatian karena Yogyakarta dikenal memiliki kekayaan budaya dan nilai-nilai lokal yang menjunjung penghormatan, tata krama, serta kehidupan sosial yang harmonis," paparnya.

Ariefa mengatakan persoalan bullying perlu dilihat lebih jauh. Menurutnya, kekerasan yang terjadi di kalangan pelajar tidak selalu muncul sebagai perilaku baru.

Ia mencontohkan perilaku mengejek atau memanggil seseorang dengan nama orang tua. Kebiasaan yang pernah terjadi pada generasi sebelumnya, menurut dia, masih ditemukan pada generasi sekarang, termasuk Generasi Z hingga Generasi Alpha.

Fenomena tersebut disebut sebagai reproduksi bullying. Perilaku kekerasan diwariskan melalui kebiasaan sosial dan kemudian muncul kembali dalam bentuk yang mungkin berbeda.

Karena itu, menurut Arifah, upaya penanganan bullying tidak cukup hanya mengandalkan hukuman setelah kasus terjadi. Siklus kekerasan harus diputus melalui pembiasaan perilaku yang mengedepankan penghormatan, kasih sayang dan kepedulian terhadap sesama.

"Yang perlu kita putus bersama adalah siklus kekerasan itu dengan mengkampanyekan nilai-nilai lokal, kearifan lokal adiluhung atau lokal wisdom yang menguatkan respect atau menghargai, cinta kasih, hormat dan saling mengasihi," tandasnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini

Tampilkan lebih banyak