- Presiden Prabowo Subianto mengangkat kembali Luky Alfirman sebagai Wakil Menteri Keuangan pada 1 Oktober 2026.
- Pengangkatan tersebut dinilai bertujuan mengamankan program prioritas pemerintah sekaligus menghadapi kepentingan politik menjelang Pemilu 2029.
- Langkah ini dianggap menarik perhatian karena sebelumnya Luky sempat dicopot dari posisi Direktur Jenderal Anggaran.
SuaraJogja.id - Kembalinya Luky Alfirman ke lingkar pimpinan Kementerian Keuangan (kemenkeu) setelah sempat dicopot dari jabatan Direktur Jenderal Anggaran memunculkan pertanyaan sejumlah pihak.
Apalagi Presiden Prabowo Subianto memberikan Luky posisi strategis sebagai Wakil Menteri Keuangan pada Kamis (1/10/2026), bersama Nurkholisoh Ibnu Aman.
Pakar ilmu pemerintahan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Zuly Qodir menilai pengangkatan kembali Luky tidak hanya dapat dibaca sebagai persoalan birokrasi ataua kebutuhan teknokratis di Kemenkeu.
"Jabatan strategis di sektor keuangan negara juga memberikan akses terhadap informasi, kebijakan, serta sumber daya yang memiliki arti penting dalam pertarungan politik," papar Zuly, Sabtu (3/10/2026).
Baca Juga:Peringatan Keras Pakar UGM: Posisi Menko Polkam Rawan, Jangan Pilih dari Militer atau Polisi!
Zuly menyebut, seseorang yang memiliki jabatan dan kekuasaan tidak harus melakukan korupsi untuk mempunyai akses terhadap sumber daya.
Sebab pejabat yang berada di posisi strategis mengetahui sumber-sumber keuangan, arah kebijakan sekaligus ruang kewenangan yang dapat digunakan pemerintah.
Karena itu, Zuly menilai pengangkatan kembali pejabat ke posisi strategis seperti Luky bisa dibaca dalam konteks lebih luas. Termasuk kaitannya dengan kepentingan politik menuju Pemilu 2029.
"Secara politik orang di luar akan bisa mengatakan ini bagian dari cara melapangkan jalan menuju 2029," katanya.
Pengangkatan kembali Luky, lanjut Zuly juga bisa jadi salah satu upaya Prabowo untuk mengamankan program-program prioritasnya agar tetap berjalan seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), Sekolah Rakyat dan lainnya.
Baca Juga:PBB di Pati Naik 250 Persen, Wamenkeu Anggito Abimanyu: "Itu Urusan Daerah, Bukan Kami"
"Ngerti kebijakannya, ngerti sumbernya, ngerti arahnya. Di sana bisa diambil, di sana bisa dikurangi, di sana bisa dialihkan karena dia punya kuasa," ujarnya.
Pengangkatan kembali Luky juga dinilai semakin menarik karena dia sebelumnya dicopot dari posisi Dirjen Anggaran oleh Menteri Keuangan saat itu, Purbaya Yudhi Sadewa.
Zuly menilai, keputusan mempertahankan kembali figur yang sebelumnya mendapatkan kritik dari Purbaya karena meloloskan anggaran Motor Listrik MBG dimungkinkan juga sebagai bagian dari strategi mengamankan posisi politik.
Apalagi Luky kembali ke Kemenkeu sebagai Wamenkeu setelah Prabowo melantik Suahasil Nazara sebagai Menkeu.
"Orang yang dikritik, orang yang disebut, orang yang diamati oleh masyarakat bahwa mengalami kegagalan dalam kebijakan, tiba-tiba malah diangkat menjadi pejabatnya. Itu kan aneh memang," katanya.
Ia menambahkan, pemindahan atau pergantian posisi seorang pejabat tidak selalu berarti orang tersebut benar-benar keluar dari lingkar kekuasaan.