- Dokter Iwan Budhiharto menyatakan produk sel punca legal di Indonesia wajib bersumber dari manusia, bukan dari hewan atau tumbuhan.
- Terapi sel punca di Indonesia hanya boleh dilakukan oleh dokter berkompeten di fasilitas kesehatan resmi seperti rumah sakit dan klinik utama.
- Yogyakarta berpotensi mengembangkan wisata medis dan kebugaran, namun masih terkendala perlunya edukasi serta penguatan sumber daya manusia.
SuaraJogja.id - Istilah stem cell atau sel punca semakin akrab di tengah masyarakat, terutama dalam industri kecantikan dan kesehatan. Namun di balik popularitas tersebut, masih banyak persoalan yang perlu diluruskan, mulai dari produk yang mengklaim mengandung stem cell hingga praktik penggunaannya yang dinilai belum dipahami masyarakat.
Dokter aestetik regeneratif, Iwan Budhiharto mengingatkan masyarakat agar tidak mudah percaya terhadap produk yang hanya menggunakan label stem cell yang banyak ditawarkan saat ini. Sebab terdapat produk yang diklaim sebagai stem cell, tetapi bahan yang digunakan justru berasal dari hewan maupun tumbuhan.
"Kalau kita lihat produk stem cell itu nanti ingredients-nya, ini ada yang dari bunga mawar, ada yang dari binatang. Itu jelas tidak boleh. Ada dari apel, itu juga tidak boleh. Dari ikan juga tidak cocok, dari kuda juga," papar Iwan disela kunjungan Putri Citra Indonesia di Yogyakarta, Senin (5/10/2026).
Menurut Iwan, stem cell yang digunakan dalam terapi medis memiliki ketentuan tersendiri. Ia menyebut produk stem cell yang legal harus berasal dari manusia, bukan dari spesies lain.
Baca Juga:Direproduksi Antar Generasi, 200 Lebih Kasus Bullying Terjadi di Kota Jogja
"Stem cell itu harus dari human. Di luar human enggak boleh," ungkapnya.
Iwan menilai persoalan tersebut menjadi semakin serius karena istilah stem cell kini telah masuk ke pasar produk kecantikan. Masyarakat bisa saja membeli produk secara daring tanpa memahami apakah produk tersebut benar-benar mengandung stem cell, berasal dari sumber yang diperbolehkan, atau sekadar menggunakan istilah stem cell sebagai strategi pemasaran.
"Ada yang belanja produk yang sebetulnya tidak mengandung stem cell, tapi dilabeli stem cell," ujarnya.
Persoalan lainnya adalah produk yang memang mengandung bagian atau derivat dari stem cell. Namu saat dipasarkan ternyata diklaim seolah-olah merupakan stem cell secara utuh.
"Dia hanya derivat (turunan-red) stem cell, remah-remahnya saja atau bagian kecil dari stem cell, tapi dia dijual dengan label stem cell," ungkaonya.
Baca Juga:Warganet Khawatir Girder Tol Jogja-Solo Rawan Roboh, Kontraktor Beri Penjelasan
Karena itu, Iwan menilai edukasi kepada masyarakat menjadi pekerjaan mendesak. Jangan sampai masyarakat sudah mengenal istilah stem cell, tetapi justru tidak mengetahui mana produk dan layanan yang legal, mana yang sesuai ketentuan, serta mana yang hanya memanfaatkan popularitas istilah tersebut.
Menurutnya, terapi stem cell juga bukan layanan yang bisa dilakukan sembarangan. Penggunaannya harus dilakukan melalui fasilitas pelayanan kesehatan yang sesuai dan melibatkan dokter.
"Stem cell itu boleh dilakukan di klinik atau rumah sakit. Klinik saja klinik utama. Tidak boleh di salon atau klinik pratama," katanya.
Iwan menambahkan, tenaga yang melakukan tindakan penyuntikan stem cell juga harus dokter. Jenis dokter yang menangani pun harus disesuaikan dengan metode dan lokasi pemberian terapi.
"Yang nyuntik harus dokter, tidak bisa perawat atau bidan," ujarnya.
Iwan menilai persoalan edukasi terkait stem cell sebenarnya juga berkaitan dengan peluang Indonesia mengembangkan medical tourism atau wisata medis. Namun ironisnya, ketika pasien dari luar negeri justru datang ke Indonesia untuk mendapatkan layanan kesehatan, sebagian masyarakat dalam negeri masih meragukan kemampuan dan produk kesehatan Indonesia.
Padahal banyak pasien stem cell banyak berasal dari luar negeri seperti Amerika Serikat (AS) dan Australia. Di tingkat Asia, Malaysia dan Jepang juga merupakan pasar yang besar.
Menurut Iwan, kedatangan pasien asing menunjukkan tenaga ahli dan produk kesehatan Indonesia sebenarnya memiliki daya saing. Pasien dari negara lain bahkan rela datang ke Indonesia dan tinggal beberapa hari untuk menjalani pengobatan.
"Karena pasien-pasien asing datang ke Indonesia. Itu artinya mereka mengakui keahlian dan juga produk Indonesia," katanya.
Di Yogyakarta, peluang tersebut dapat dikembangkan melalui kolaborasi sektor kesehatan dengan pariwisata. Pasien yang datang untuk mendapatkan layanan medis tidak harus hanya menghabiskan waktu untuk berobat.
Ketika tidak menjalani tindakan, mereka dapat menikmati berbagai destinasi wisata yang tersedia di Yogyakarta.
"Daripada bengong menunggu yang sakit, dia bisa ke Borobudur, ke Keraton, ke kuliner atau apa, dan tentu menginap juga kan sambil jalan-jalan," ujarnya.
Namun untuk pengembangan wisata medis, Indonesia masih menghadapi pekerjaan rumah besar berupa edukasi di tingkat masyarakat. Masyarakat perlu memahami layanan kesehatan yang dipasarkan kepada wisatawan asing harus ditopang tenaga profesional, fasilitas yang memenuhi ketentuan, serta informasi yang benar.
"Yang jadi kendala adalah masyarakat Indonesia sendiri. Mereka masih menganggap bahwa produk dalam negeri itu mutunya kurang dibandingkan produk luar negeri," ungkapnya.
Ia berharap semua pihak mengambil peran untuk mengedukasi masyarakat Indonesia sebenarnya memiliki tenaga ahli dan produk kesehatan yang mampu bersaing dengan negara lain. Dengan demikian, pengembangan medical tourism tidak cukup hanya menjual paket pengobatan sekaligus wisata.
Hal ini penting mengingat edukasi mengenai layanan medis yang legal dan benar justru menjadi fondasi agar Indonesia tidak hanya menjadi tujuan wisatawan. Namun lebih dari itu juga dipercaya sebagai destinasi layanan kesehatan.
"Berarti kita perlu edukasi bahwa ini lho, kita itu sudah punya produk yang bagus dan diakui oleh luar negeri," tandasnya.
Sementara itu, Wakil Ketua I Bidang Akademik Stipram, M Nur Syamsu, mengatakan perkembangan wellness tourism atau wisata kebugaran yang marak saat ini menjadi peluang baru bagi Yogyakarta. Pariwisata saat ini tidak lagi semata-mata tentang perjalanan dan hiburan, tetapi juga mulai diarahkan pada pengalaman yang memberikan manfaat bagi kesehatan dan kebugaran.
"Sekarang ini pariwisata tidak hanya pergi berwisata saja, tetapi mereka juga ada yang bertujuan untuk kesehatan. Apalagi sekarang ada wellness tourism," ujarnya.
Ia menilai Yogyakarta memiliki modal kuat untuk mengembangkan konsep tersebut. Sebab propinsi ini mempunyai destinasi wisata, budaya, kuliner serta berbagai aktivitas olahraga yang dapat dikombinasikan dengan layanan kesehatan.
Apalagi perguruan tinggi mulai melakukwn penyiapan sumber daya manusia (SDM). Konsep wellness tourism telah masuk dalam pembelajaran pada jenjang S2 dan S3.
Tak hanya pengetahuan akademik, mahasiswa juga dipersiapkan dengan sertifikasi profesi. Untuk mahasiswa vokasi, sertifikasi BNSP menjadi bagian dari kompetensi yang harus dimiliki sebelum lulus.
Penguatan SDM menjadi bagian penting jika Yogyakarta ingin serius menangkap pasar wellness tourism dan medical tourism. Apalagi wisata kesehatan membutuhkan ekosistem yang mempertemukan tenaga medis, industri pariwisata, perhotelan, transportasi hingga destinasi wisata.
"Tantangannya kini adalah bagaimana membangun ekosistem yang terintegrasi sekaligus memastikan masyarakat mendapatkan edukasi mengenai layanan kesehatan yang aman dan legal," imbuhnya.
Kontributor : Putu Ayu Palupi